
Syamsi telah berpendar dengan terang. Cahayanya tembus berakar masuk kedalam bilik kamarku.
Sinar yang menyorot menyuluhi cermin nang berada tepat ditengah lemari nan tertempel dengan kokoh menyongsong keluar ventilasi jendela.
Nur cahaya nang memantul menyilaukan membuatku yang lalu lalang memakai hijab dan cari-cari buku tampak memunculkan bayangan nan jelas saat aku melewati sinarnya.
Namun saat aku keluar dari cahaya, bayanganku tampak memudar dan samar masuk kedalam sisi yang tidak tersorot oleh sinarnya.
...***...
Waktu aku dan Lucy hendak masuk kedalam kelas, langkah kita terhenti saat seseorang di belakang memanggil namaku. “Putri!” pekiknya.
Aku dan Lucy menoleh, “Ya!” sahutku.
Rupanya yang memanggilku adalah Fakri, cowok si model. Pria yang membuatku dibenci dan disukai pada waktu tertentu oleh teman cewek sekelasku.
“Nih!”
Ia memberiku sepucuk kertas polos yang terlipat. Aku menerimanya dengan wajah bingung. “Ini apa?”
“Menurut kamu?!”
“Su ... rat?”
“Itu tahu!” Fakri langsung pergi masuk kelas meninggalkan aku dan Lucy.
Aku melengos. “Tapi ini dar—” Aku menghentikan ucapanku saat sorot mataku menangkap semua siswi dikelasku.
Scopophobia mereka kali ini membuatku merinding. “Astaga! Fakri! kamu membuat aku dibenci tanpa sebab oleh mereka!” geram batinku.
“Sabar ya, Put!” Lucy menepuk pundakku. “Terimakasih, Luc!” Aku menatap surat di tanganku. “Astaghfirullah ...” ucapku lirih.
Kini kita juga mulai masuk kedalam kelas yang disambut dengan tatapan mata pisau mereka. Sungguh, hari ini jauh lebih mengganggu dari pada hari-hari sebelumnya.
Tatapan mereka tak jua lepas dariku nang saat ini sudah duduk di kursi. Salah satu dari mereka mulai bergosip.
“Si Fakri buta atau gimana sih? masa seleranya kayak si Putri?” desus salah satu siswi yang duduk di meja depan dekat pintu.
“Iya, modal hijab lebih panjang sama otak aja dia mah,” kecam salah satu siswi lagi yang duduk dibelakangnya.
Aku yang duduk di barisan kedua meja tengah hampir belakang hanya mendengarnya samar dan gak jelas.
Bukan mau su'udzhon tapi aku yakin dengan pasti kalau mereka sedang mengghibahiku.
“Ya udahlah gak apa, Pu! itu artinya dosa kamu sedang di transfer ke mereka, terimakasih teman-teman sekelasku yang murah hati,” tutur hatiku.
Durasi waktu berputar haluan dengan langkas, bel istirahatpun usai bersuara sedari menit yang lalu.
Aku dan teman-temanku juga sudah finsih menuntaskan jajanan kita.
“Kamu udah buka surat itu, Put?” tanya Lucy yang tampak penasaran sekali.
“Surat? kamu dapat surat cinta, Put?!” Mira terlonjak kaget terbelalak menatapku
Aku hanya diam seribu bahasa, karena aku juga gak yakin. Sebab aku belum melihat isi surat itu. Dan Lucy membantuku menjawab, “Ya.”
Nia menengok ke arahku. “Dari siapa, Put?!”
Saat aku mau bersahut langsung tertukas oleh Lucy, “Fakri,” ucapnya.
__ADS_1
“Fakri!” Mira tampak terkejut, pandangannya bergilir pindah mengamati Lucy.
Lucy tampak terganggu dengan tatapan Mira. “Kenapa sih liatin aku kayak gitu?” hardiknya.
“Gak apa-apa, aku cuma kasihan aja sama kamu,” urai Mira.
“Kamu suka sama Fakri?” celetukku memandang Lucy.
“Nggak! jangan dengerin si Mira!” sahutnya dengan tegas dan gesit.
“Kamu bawa suratnya gak, Put?” tanya Nia.
“Bawa.” Aku mengambil sesuatu di saku bajuku. “Nih,” imbuhku menunjukkan.
Mira langsung merebut suratnya dari tanganku. Kini surat itu segera dibuka dan dibaca dalam hatinya.
“Assalamu'alaikum Tuan Putri. Meski kamu sudah memiliki kekasih aku takkan menyerah ....”
Mira menghentikan membaca surat itu. “Emang kamu punya pacar, Put!”
Aku tersentak kaget. “Hah?! enggak!” sergahku.
“Berarti si Fakri nih soto madura,” ujar Mira.
“Sotoy, Mir, bukan soto!“ celetuk Nia.
“Iye tahu.“
“Aku mau baca juga dong.” Nampaknya Nia pun ikut penasaran.
Mira segera meletakan selembar kertas itu di atas meja. “Kamu gak penasaran, Luc?” Mira mengadah menilik Lucy yang kepalanya masih tegak.
“Assalamu'alaikum Tuan Putri. Meski kamu sudah memiliki kekasih aku takkan menyerah selama janur kuning belum melengkung rebeh berkeluk ....”
“Lewat surat ini, aku meminta ijinmu agar kamu tak keberatan jika aku meminta namamu pada Robb-ku dalam doa tahajjud-ku ... dari pengagum rahasiamu.”
“Ciee Putri! dapat pengagum rahasia,” goda Mira setelah membaca isi suratnya.
“Ini sih bukan penggemar rahasia!” celetuk Nia.
“Maksudmu?” tanya Mira yang tak mengerti matlamat Nia.
“Kemarin, kan kalian juga liat tuh cowok yang tiba-tiba nyelonong manggil Putri dengan sebutan Tuan Putri, dan lagi diawal surat juga sama,” seloroh Nia memaparkan satu persatu dengan rinci.
“Terus itu cowok ngobrol sama si Fakri, kebetulan banget surat ini juga Fakri yang kasih ke Putri,” sambungnya lagi.
“Oh ... masuk akal sih,” tutur Mira mengangguk.
Aku gak kenal pria itu siapa, bagaimana bisa dia berujar seperti itu. Kita saja tak pernah bersua, juga beda almamater.
Sedangkan Lucy hatinya tampak semringah senang saat tahu surat itu dari kawan Fakri.
Sementara Mira yang menyadari perasaan lega Lucy hanya tersenyum tipis, “Semangat, ya!” ucapnya dalam hati.
...***...
Surat itu kuletakan diatas laci samping ponsel yang sedang aku charger.
Aku gak tahu harus ku apakan surat ini, akupun tak berniat untuk membalasnya. Hatiku saja masih ambyar.
__ADS_1
Kini kakiku melangkah mendekati jendela kamarku yang terbuka lebar. Lanjamku menangkap langit senja sore yang begitu indah.
Sama seperti dia, keindahannya tak berlangsung lama, tapi membekas.
Aku berdiam diri diterpa angin yang bertiup kencang. Sekarang hijabku tersentuh olehnya sehingga berkibar ke kanan dan ke kiri.
Sangat sejuk! aku mengerjapkan mata. Selang beberapa menit, sahutan seseorang di belakang punggung membuatku tersadar.
“Tutup jendelanya, Nak! sudah mau Maghrib!” titahnya.
Aku membuka mata dan melengos. “Iya, Mah,” sambutku.
Akupun langsung menutup jendelanya, walau nayamku masih ingin memandang warna orange langit untuk beberapa menit lagi.
Trekk!
Jendela sudah tertutup rapat. Ekor mataku memotret layar ponsel yang terus menyala namun tampak sunyi karena aku silent.
Entah siapa yang menelpon disela waktu Maghrib yang tinggal beberapa menit lagi.
Aku melengos, nama yang tak asing nang biasa Elvina gunakan untuk menelpon aku atau papa. “Rupanya dari pesantren Elvina,” gumam ku.
Aku menjawab panggilan masuknya, “Assalamu'alaikum.”
📞“Wa'alaikumussalam warohmatullah.”
Suara diseberang ponsel terdengar renyah, aku kira pengurus ponpes ternyata Elvina, adikku.
“Kenapa Vin?”
📞“Jum'at besok Teteh, mama sama papa mau kesini nggak?”
“Harusnya sih iya, kan besok itu jatah uang jajannya kamu. Memangnya kenapa, Vin?”
📞“Gak kenapa-kenapa sih, cuma mau pastiin aja.”
“Udah! itu doang alasannya!”
📞“Hehehe ... ada lagi Teh.”
“Apa?”
📞“Tolong bawain baju Elvina yang set sama rok batik itu, ya Teh!”
“Oh, buat hari Kartini ya, Dek?”
📞“Inggih, Teh!”
“Itu aja?”
📞“InShaa Allah.”
Suara adzan Maghrib mulai berkumandang, “Allahu Akbarullahu Akbar ....”
“Kalau gitu Teteh tutup ya, sudah adzan juga disini.”
📞“Iya, Teh! assalamu'alaikum.”
“Wa'alaikumussalam warohmatullah.”
__ADS_1
...Tuuuuttt~ panggilan berakhir...