Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 29) Kamu Masih Suka Ya?


__ADS_3

Hari ini kita berangkat ke kampus, karena jarak kosan dengan UIB hanya memakan 25 menit saja, aku memilih untuk jalan kaki bersama teman sekos yang yang juga kuliah di UIB.


Sedangkan Lucy, ia ikut berangkat bareng kakak tingkat yang kebetulan juga kuliah di ISBI. Terlebih Lucy pun sama pemabuknya kayak aku, untunglah senior itu menawari Lucy naik motornya.


Usai beberapa menit, aku telah sampai di kampusku. Meski masih belum ketemu teman, aku hanya berharap bisa melewati kehidupan kamus dengan tenang.


Saat ku tengah berjalan di koridor bersama teman kos ku, tiba-tiba ada yang memanggil namaku. Suara pria yang asing dalam pendengaranku.


Aku terus berjalan lurus mengabaikannya, karena mungkin saja bukan aku, kan nama 'Putri' ada banyak. Sampai dia memanggil nama lengakapku.



“Putri Marsha Canda!” pekiknya.


Aku melengos, mungkin dia teman satu kelasku waktu sekolah. Wajah yang samar, karena masih agak jauh antara aku dengannya.


“Kita duluan ya, Put!” ujar salah satu teman kosan.


“Iya,” balasku.


Pria itu sudah mulai mendekat, dan aku langsung menundukkan pandanganku. “Anda manggil saya?”


“Ya iyalah, emang di sini ada Putri lain?”


“Mungkin.”


“Ternyata kamu cantik juga ya, walau difoto juga cantik sih.”


Hah! siapa sih cowok ini? kenapa bawa-bawa foto? perasaan aku gak pernah unggah fotoku di sosmed.


Aku mulai berjalan dan dia pun mengikutiku, sungguh sangat gak nyaman. Aku pun mulai angkat suara. “Anda ... apa kita satu alumni? dan ... soal foto—”


“Oh, nggak! kenalin ...” Dia memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan, akupun tak payah-payah untuk menolak berjabat tangan dengannya. “Namaku Musthofa, aku satu alumni sama Nathan,” lanjutnya.


Deg!


Nathan? gak mungkin Nathan yang itu, kan?! pasti buk—


“Cowok yang pernah dekat sama kamu!” imbuhnya lagi.


Aku terbelalak, namun masih tak berani menoleh menatap pria disampingku. Dia terus membahas tentang kak Nathan, juga kenapa ia bisa kenal diriku karena sebuah foto yang gak sengaja ia lihat di ponselnya kak Nathan.


Berbulan-bulan lalu, sebelum ia menjadi pelangi, juga sebelum ia sedingin kutub selatan. Kita memang pernah saling tukar foto, tapi hanya sekali. Walau aku sudah tahu wajahnya karena ia memakainya di PP IG.


Sedangkan aku, tak pernah ada satu foto pun terpampang di sosial media. Walau beberapa hari yang lalu Firuz mengedit fotoku dengannya, dan mengunggah di akun yang ia buat khusus untuk kita.


Aku masih terus mengabaikan cowok yang berjalan disampingku dengan jarak sepuluh centimeter dariku. Sampai sebuah pertanyaan yang ia lontarkan membuat batinku tersentak, terlonjak kaget.


“Kamu masih suka sama Nathan ya?”


Deg!


“Gak!” balasku dengan datar, walau mimik wajah bisa berbohong, tapi hati tak bisa berdusta.

__ADS_1


“Masa sih?!”


Dia tampak tak percaya. Namun aku juga gak ada kata untuk menyangkal, walau masih ada pun, perasaan ini tak berhak tuk dimiliki. Dan mungkin, ia dengan jodohnya usai sah menjadi suami-istri.


“Dia sekarang lagi ada Indonesia lho!”


“Terus, emang kenapa kalau dia di Indonesia? gak ada urusannya sama aku juga, kan?!” sahutku dengan dingin tanpa ekspresi.


“Ya siapa tahu aja kamu masih suka!”


“Aku, kan udah bilang, aku udah gak suka sama dia, gak ada perasaan apa-apa lagi.” Aku melangkah dengan kaki yang lebih lebar dan cepat, Musthofa pun mengikuti langkahku.


Kehadiran pria ini benar-benar mengusik kalbu. Membuat hari pertamaku masuk jadi gak ada semangat-semangatnya.


Dalam kesunyian karena Musthofa tak lagi berujar membuat suasana diantara kita mati, karena gak ada obrolan apapun lagi, hingga denting HP-ku memecahkan suasana ini.


Ting!


📱“Nanti pulang aku jemput ya?”


Aku mengetik membalas pesan Firuz dengan pria ini yang masih berjalan disampingku, dan ia pun tengah sibuk dengan ponselnya.


...***...


Ting! [pesan masuk 07:01]


📱“Gak usah, kosan sama kampusku juga dekat kok.”


“Oh, ya udah deh.”


“Kenapa lu? ditolak sama Putri ya?” tanya Fakri.


“Siapa bilang Putri nolak? malah sebaliknya, dia mau pulang bareng kok!”


“Oh ya? masa sih? kok muka lu ditekuk gitu habis liat balasan Putri?” balas Fakri dengan raut wajah super nyebelin nya, walau tanya tapi tampangnya meledek.


“Jangan sotoy deh, itu aku terkejut karena dia tiba-tiba nerima ajakanku.”


“Tapi aku lebih percaya ekspresi daripada ucapan lu sekarang!”


“Serah lu dah!” Aku pergi berjalan lebih dulu meninggalkan Fakri beberapa langkah.


Kitapun sampai didepan jurusan kita. Saat baru masuk selangkah, kita dikejutkan oleh wajah seorang yang kita kenal.


Seorang wanita yang cantik, pernah menjadi rekan Fakri saat foto baju couple beberapa hari yang lalu. Ia yang menyadari kita langsung menyapa melambaikan tangan.


“Hai!”


“Viona? lu kok gak bilang sih kalau Viona juga ngampus disini?” Aku menatap bingung Viona dan Fakri secara bergilir.


“Gak salah? nanya sama aku?”


“Maksud lu?” tanyaku.

__ADS_1


“Kan yang mantannya itu lu? harusnya lu tahulah kalau dia ngampus dan ambil jurusan yang sama juga?”


“Sumpah! walau dia mantanku, tapi aku benaran gak tahu kalau dia ada di Bandung juga.”


Kita berjalan menghampiri meja Viona, dan aku duduk dikursi kosong dibelakangnya. Sementara sohibku menyapa balik si Viona.


“Kamu kuliah di sini juga?”


“Kamu kalau nanya tuh jangan yang udah tahu jawabannya dong!” balas Viona.


“Kalau gitu ...” Fakri sudah masuk ke mode berfikir.



“Jangan-jangan lu kuliah di sini mau CLBK sama Firuz ya?” goda Fakri, si cowok dingin tapi care sama sahabatnya.


“Fakri! apa-apaan sih lu?! aku, kan udah punya Put—”


“Haha ... kok tahu sih?” tukas Viona.



“Viona! gak lucu tahu!” hardikku.


Viona mengabaikanku. “Btw ... kok kamu bisa kuliah dan ambil jurusan ini sih?” tanyanya pada Fakri.


Aku menyeringai. “Iya nih, Vi! aku kira juga nih bocah mau kuliah bareng Lucy di ISBI,” ucapku.


“Lucy?”


“Teman cewekku, Putri, cewek yang selalu sekelas sama Fakri dari SMP sampai lulus SMA,” terangku.


“Wow! jangan-jangan kalian jodoh nih!” ejek Viona.


“Mampus lu, hahaha ... ayo jawab, Kri?!” tawa jahat dalam hatiku.


“Serah lu berdua deh.” Fakri kembali ke mode dinginnya.


Dia pun berjalan dan duduk berjauhan denganku juga Viona. Sedangkan suasana diantara kita sunyi senyap, gak ada lagi obrolan.


Walau ada yang ingin ku tanyakan tentang pria yang menjemputnya waktu itu. Namun aku urungkan, karena kita juga udah gak ada hubungan apa-apa lagi.


“Udahlah lupakan aja, toh itu juga udah beberapa hari yang lalu,” gumam batinku.


Sementara itu diwaktu yang sama, beda lokasi juga jurusan.


“Put! cowok yang dateng bareng kamu itu cowok kamu ya?” tanya salah satu teman kosanku.


“Bukan, Kak, dia temannya kenalan aku.”


“Kalau bukan ... kenalin ke kita dong, Put!” ujar salah satu teman kos ku lagi.


“In Syaa Allah ya, Kak!”

__ADS_1


Meski begitu, aku gak tahu cara menyampaikannya gimana, kita aja baru ngobrol beberapa menit yang lalu. Dan juga baru ketemu hari ini, itupun Musthofa yang lebih dulu menyapa dan menghampiriku.


__ADS_2