Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 46) Doi nya Elvina?


__ADS_3

Apa kamu akan memberi kesempatan kedua untukku?


.


.


.


Ting!


Ting!


Ting!


Dering pesan masuk membina lanjamku kembali terjaga.


Aku menilik smartphone yang tergeletak di atas meja. Kini tanganku meraihnya dan melihat jam digital pada layar ponsel.


Waktu menunjukkan pukul jam sembilan empat puluh tujuh.


“Oh astaga! rupanya aku sudah tertidur selama sejam lebih di sini?” tuturku memegang tengkuk leher dan menengok kanan kiri hingga membuat suara krek-krek.


Fokusku tertuju pada papan pesan di atas jam digital.


“Mommy?” gumamku saat melihat rentetan pesan tersebut.


“Pantas saja ponselku berdenting terus-menerus.” Aku membuka satu-satunya pesan dari mommy.


...“Honey, cepatan turun! ini sudah waktunya kita akan memberikan kejutan untuk daddy.”...


...“Kamu gak akan biarin mommy kasih kejutan ini sendirian, kan?”...


...“Pokoknya kamu harus ikut! Mommy tunggu di dekat kolam renang.”...


Setelah melihat pesannya, aku lekas bergegas pergi dan masuk ke dalam rumah.


Selang beberapa menit, aku telah sampai dilantai atas. Lanjamku mengedarkan pandangan menatap ke bawah tangga.


Hingga netraku merekam mommy yang sedang menuntun daddy dengan mata tertutup rapat oleh kain yang diikat.


Mommy membawa daddy ke arah samping rumah. Di mana tempat itu akan menjadi surprise untuk daddy.


Aku langsung bergegas berlari kecil menuruni tangga. Sampai mommy melihatku yang sudah berada di bawah tangga dan memberi aba untuk lewat ke jalan pintas.


...***...


“Syukurlah... daddy sama mommy masih belum sampai.”


Ucapku yang sudah berada di kolam renang tepat waktu sebelum kedua orangtuaku. Netraku mengedar berkeliling mengitari seisi tempat ini.


“Wow! mommy benar-benar menyiapkannya dengan sangat sempurna,” gumamku tersenyum setelah menatap dekorasi yang mommy siapkan hanya untuk malam ini.


Entah kapan para pekerja di sini bisa menyiapkannya dalam waktu sesingkat ini.


“Mereka telah bekerja keras hanya demi menyenangkan tuan rumahnya, aku rasa mommy harus menambah upah mereka,” gumamku.


Selang beberapa menit, aku melihat mommy dan daddy mulai memasuki pintu. Sesuai rencana mommy, aku mengambil kue yang sudah datang sore tadi.


Kue buatan camer, hehe, bolehkan aku ngarep sedikit.

__ADS_1


Daddy berhenti di pinggir kolam, dan mommy perlahan membuka ikatan penutup matanya. “Jangan buka mata dulu ya, Dad,” titah mommy kepada daddy.


“Memangnya Mommy mau kasih kejutan apa sih? perasaan Daddy juga gak lagi ultah.”


Mommy dan aku tersenyum. “Sekarang mommy hitung sampai tiga ya, baru daddy buka matanya,” titah mommy kembali.


“Iya,” ucap daddy menyetujuinya.


Mommy menghitungnya dengan slow motion. “Satu... dua... tiga....”


Daddy membuka matanya. “Surprise!” pekikku dan mommy secara bersamaan.


Sementara itu di waktu yang sama berbeda tempat dan lokasi, kedua wanita bermahkotakan hijab tengah bertukar kalimat.


“Teh Putri masih gak mau cerita nih?” tanya si khimar biru, Elvina Umaiza.


“Kamu gak ada kerjaan lain apa, selain kepoin Teteh?”


“Hehe, gak ada. Makanya ayo dong Teteh curhat sama Elvin,” rengeknya.


Ting!


Sebuah notif menghentikan aksi Elvina yang terus-terusan membujukku dari selesai tadarusan.



Elvina tersenyum menatap si ponsel. Aku pun menjadi iseng ingin menggodanya. “Ciee, kayaknya dari ayang mbeb tuh?” ledekku.


“Hustt.” Elvina membungkam mulutku, sedangkan tangan satunya memberi isyarat agar aku tak berisik.


Elvina kembali menggenggam ponselnya. Jemarinya sangat lihai menari-nari di atas layar smartphone.


Elvina kembali menaruh ponselnya setelah selesai membalas pesan, yang entah dari siapa aku pun gak tahu.


“Dari pacar?” tebakku.


Elvina melengos. “Bukan pacar, cuma lagi PDKT aja—eh, nggak-nggak!” Elvina mengibaskan tangan dengan artian tidak.


“Dia cuma teman. Ya, kita temanan aja. Cuma kenalan,” ungkapnya.


Aku hanya tersenyum melihat Elvina—adikku tiba-tiba salah tingkah. Jarang-jarang bisa melihatnya seperti ini.


“Akhh! Teh Putri! jangan liatin Elvina kayak gitu dong? Elvin, kan jadi malu!”


“Kenapa malu? kan kamu bilang teman, bukan pacar?” balasku sambil tersenyum dan masih menatap Elvina.


Dan Elvina malah diam hak merespon dengan kata-kata, tapi malah menutupi wajahnya dengan khimar yang Elvina gunakan.


“Ada yang mau ceritain ke Teteh gak?” tawarku menggoda Elvina yang tengah malu-malu.


“Kalau nggak, Teh Putri kasih tahu ke mama sama papa ya?”


Lanjutku dan lekas berdiri, namun ditahan oleh Elvina. “Jangan Teh! Elvina mau kok cerita semuanya sama Teteh,” ujarnya.


“Benar nih?”


Elvina mengangguk terpaksa. “Tapi jangan kasih tahu ke papa?”


“Berarti kalau sama mama, boleh?”

__ADS_1


Elvina menggeleng cepat. “Gak juga!”


“Ya udah, buruan cerita sekarang.” Aku kembali duduk di samping adikku.


Elvina masih enggan, tapi dirinya tak ada pilihan lain selain harus cerita. Padahal aku hanya menakut-nakutinya saja.


Tapi aku juga sangat penasaran dengan pria yang sudah berhasil merebut hati Elvina, adikku satu-satunya.


Aku rasa, pria itu pasti satu ponpes dengannya. Jika bukan, mungkin teman sekolahnya waktu SMP.


Jika iya, mereka sudah pdkt sejak lama dong?


“Sebenarnya, dia itu dari ....”


Oh? Elvina udah mau cerita?


...***...


“Surprise!” sergahku dan mommy dengan kompak.


Daddy terperangah terkejut dengan surprise yang aku dan mommy siapkan. Daddy hanya terpana untuk beberapa saat kemudian berkata, “Ini semua untuk Daddy?”


Aku mengangguk tersenyum. “Iya,” tutur mommy.


“Selamat ya Dad, karena udah berhasil mendapatkan proyek ini,” sambung mommyku cipika-cipiki dengan daddy.


Kakekku memang punya sebuah perusahaan yang lumayan di kota ini. Walau daddy mengemban amanat sebagai kepsek, kadangkala daddy juga ikut membantu kakek dalam menjalankan perusahaannya.


Dan sekarang, kakek tengah sakit keras, sehingga daddy lah yang harus ambil alih. Karena cuma daddy anak lelaki satu-satunya di keluarga kakek.


Sebab inilah, daddy pun mengundurkan diri dari jabatannya sebagai kepsek. Dan baru bergabung dengan perusahaan sebulan yang lalu.


Kemarin juga daddy baru mendapatkan proyek pertamanya dengan perusahaan yang cukup berpengaruh di kota ini.


“Ini kita cuma bertiga aja yang merayakan?” tanya daddy menatapku dan mommy secara bergantian.


“Iya Dad, hari ini khusus dan spesial keluarga kecil kita. Minggu depan baru semua keluarga besar.”


“Memangnya kakek mau merayakan juga?” tanyaku.


“Iya honey! Jam'at depan, kan kakek udah boleh pulang,” ungkap mommy.


“Nah, sekarang Daddy make a wish dulu lalu tiup lilinnya.”


“Tunggu-tunggu! kita lewati aja, Mom. Lagian dalam agama islam juga gak ada acara tiup lilin dan berdoa pada api.”


“Berdoa pada api? Mommy gak nyuruh daddymu untuk berdoa pada api.”


“Tapi yang akan daddy lakukan itu sama aja, Mom!”


“Gak bisa di samakan gitu—”


“Apa yang dikatakan Firuz ada benarnya, jadi kita lewatkan aja dan langsung makan kue nya, gimana?”


“Iya.” Aku tersenyum, sedangkan mommy masih tampak hak setuju dengan usul dan keputusan daddy.


“Ngomong-ngomong, kenapa anak cowok Daddy mendadak jadi agamis gini?” tanya daddy padaku.


Aku mengatakan yang sebenar-benarnya tentang Putri. Wanita yang membuatku mulai belajar tentang agamaku sendiri pelan-pelan dan sering kali mengikuti kajian di beberapa majelis dekat sini.

__ADS_1


Disisi lain... “Jadi ini doi kamu, Vin?” tanyaku pada sebuah foto yang Elvina tunjukkan.


__ADS_2