Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 59) Fakta


__ADS_3

Melihat keharominsan ini membuat kalbuku sangat nyaman. Dan sejenak, aku melupakan semua beban dalam hati dan hanya melihat apa yang ada di depan netra.


Ketika fokusku masih menatap Elvina dan mama, pergelangan tangan kananku seakan ditarik-tarik oleh sesuatu. Aku menoleh melihat ke bawah untuk memastikan.


Sosok imut dan menggemaskan terpotret bulat dalam bola mataku. Lanjamnya menatap diriku penuh dengan penantian.


Aku bertanya, “Kenapa, Sayang?”


“Mainan!” celetuk Aksa langsung pada intinya.


Oh, ya! aku hampir melupakan hadiah yang sudah kujanjikan pada makhluk kecil ini.


Aku menepuk pelipisku sebagai hukuman karena sudah melupakan sesuatu yang amat berharga bagi Aksa.


Tubuhku agak condong dan berkata, “Hampir saja Aunty lupa—”


“Aunty sudah lupa kalau tidak Aksa minta!”


Mendengar ucapannya berjaya membina tawaku kian lolos melompat keluar.


“Oke-oke! Aunty minta maaf ya—”


“Nggak!”


“Kenapa? Aunty jadi sedih, nih!” Aku memasang wajah sedih untuk menarik simpatinya agar mau menerima maafku.


“Mainan dulu!” tegasnya dan tak tergoyahkan dengan ekspresi yang kupasang.


“Kalau Aunty kasih mainannya, Aksa mau maafin Aunty?”


“He'eh!” Aksa mengangguk dan aku kembali berucap, “Baiklah! Aunty ambil dulu mainan nya, ya!”


Dia bersorak, “Yey!” Kedua tangannya terlipat dan mengepal, lalu mengayunkan siku nya. Benar-benar menggemaskan.


Aku pergi ke kamarku untuk mengambil mobil-mobilan dan robot-robotan yang sudah kubeli. Juga ada satu, meski bentuknya tak seperti mainan. Tapi bisa di anggap seperti itu oleh Aksa.


Beberapa menit kemudian ....


“Aksa ... ini dia mainan nya!” Aku menyerahkan tiga benada itu pada ponakanku satu-satunya.


“Wow ... ayo, Sayang! bilang terimakasih sama Aunty!”


“Terimakasih, Aunty!” ucapnya dengan nada anak-anak, yang belum fasih berbicara.


“Sama-sama Aksa Sayang ...” Aku mengelus kepalanya dan kembali berucap, “Kata mama, Aksa suka mewarnai, ya? jadi ... nanti Aksa bisa mewarnai gambar-gambar di dalam sini sepuasnya!”


“Hmm ...” Aksa mengangguk, lalu pergi menuju meja dan langsung memainkan mainan barunya.

__ADS_1


“Teh ...” panggil Elvin serta keraguan tampak dari wajahnya.


“Kenapa, Dek?”


“Aku senang banget, karena cita-cita Teh Putri untuk menjadi novelis akhirnya terwujud. Aku ucapkan selamat atas keberhasilan Teteh selama ini, selamat ya, Teh!”


Elvina mengulurkan tangannya, keraguan itupun kembali sirna. Tapi, saat kita tak lagi berjabat tangan, Elvina kembali ragu untuk mengatakan sesuatu. Bahkan, kegelisahan pun ikut hadir di wajahnya.


“Kenapa, Vin?”


“Teh Putri ikut aku sebentar, yuk!” ajaknya menarik lenganku menjauh pergi keluar rumah.


“Ada apa, sih? bikin Teteh semakin penasaran aja!” ucapku yang sangat penasaran saat kita sudah berada di luar.


“Ermm ... gimana, ya cara nanya nya ....”


“Apa, sih! emang mau nanya apaan, kok ragu-ragu gitu? udah kayak sama orang lain tahu gak!”


Elvina masih diam membisu untuk beberapa saat. Aku pun masih belum bisa menebak apa yang ingin Elvina tanyakan.


Apa begitu sulit untuk bertanya langsung sama teteh nya sendiri? mengapa pakai acara menimbang-nimbang segala?


Aku memutuskan untuk kembali ke dalam dan bermain dengan Aksa, jika memang Elvina masih belum jua angkat suaranya.


“Kalau gitu, Teteh kasih kamu waktu untuk menyusun kalimatnya. Tapi sebelum itu, Teteh mau main dulu—”


“Hah? apa?”


Aku melongo bengong, apa maksud dari tujuh tahun lalu? apa pertanyaan itu yang membuat Elvina ragu juga gelisah?


“Emang ada apa dengan tujuh tahun lalu?”


Aku berpikir, tujuh tahun lalu berarti saat aku kelas satu SMA.


Tapi, ada apa dengan masa itu?


Aku sama sekali tidak menemukan ingatan yang aneh tentang masa-masa saat itu.


“Novel ... novel Teh Putri. Aku dengar, katanya tujuh tahun lalu itu cerita real dari sang penulisnya. Apa itu benar, Teh?”


Aku menghela nafas, lalu menghembuskan dengan pelan. “Iya, benar! tepatnya, kejadian itu waktu kelas enam SD ...” ungkapku seraya tertunduk.


Elvina memelukku dengan erat, dia terisak dalam pelukan. Membina kalbuku ikut tersayat, lacrimaku kian jatuh mengingat masa lalu kelam nan pahit.


“Ke ... kenapa Teh Putri gak bilang sama aku, Teh? apa mama dan papa juga tahu?”


“Maaf, Vin! saat itu, Teteh gak berani bicara. Mama sama papa juga belum tahu sampai sekarang, tapi itu udah masa lalu jadi berhenti dong nangisnya, Teteh jadi ikutan nangis nih!”

__ADS_1


“Dasar bodoh!”


Aku dan Elvina tersentak dengan kalimat umpatan itu, kita menoleh ke asal suara. Tepat di pintu, berdiri seorang wanita paruh baya tengah menyeka lacrima nya.


Kami tertegun, secara bersamaan aku dan Elvina memanggilnya.


Beberapa menit lalu ....


“Lho? Elvina ke mana?” Adira mengedarkan pandangannya mencari puteri keduanya.


“Tadi aku lihat dia sama teh Putri pergi keluar, Mah!” jawab Ryan menunjuk luar rumah dengan netranya.


“Ya udah, kamu sama Aksa makan duluan aja biar Mama panggil Elvina—”


“Gak usah, Mah! mungkin mereka sedang melepaskan kerinduannya karena sudah lama tidak bertemu!” cegah Imron menghentikan niat Adira


“Tapi, Pah! Elvina itu punya penyakit magh, papa juga tahu itu, kan?!”


Ucap Adira dengan penuh perhatian, lalu kemudian melihat ke arah Ryan dan berkata, “Selama perjalanan ke sini, kalian belum makan apa-apa, kan?!”


“Belum, Mah! karena Elvina selalu menolak untuk berhenti, katanya dia mau cepat-cepat ketemu sama papa, mama dan teh Putri!”


“Tuh, kan! dasar anak ini, selalu aja! suka banget nunda-nunda makan siang, udah ah Mama mau omelin Elvina dulu!”


“Kok di omelin sih, Mah! katanya mau disuruh makan!” Imron tersenyum melihat istrinya yang sangat sayang kepada anak-anak mereka.


“Ya dua-duanya, Pah! Papa juga cepatlah makan, jangan di telat-telat seperti Elvina!”


“Siap, istriku!”


Ujar Imron yang membuat Adira tersipu, pasalnya di situ masih ada Ryan dan Aksa yang juga belum pergi ke ruang makan.


“Ingat umur, Pah! yang pantas bilang gitu tuh ya Ryan sama Elvina!”


Jawaban Adira membuat gelak tawa Ryan yang menyaksikan keharmonisan kedua mertuanya.


Adira pun berjalan menjauh dari mereka, tepat saat sudah dekat dengan pintu, Adira mendengar ungkapkan anak pertamanya.


Sebuah fakta yang tak pernah ia dengar selama belasan tahun. Satu fakta itu membuat Adira kian syok dan tak bergeming dari tempatnya sekarang berdiri.


Sementara itu, Ryan dan Imron yang tidak menyadari langkah Adira nang terjeda, mereka pergi ke meja makan dengan membawa Aksa.


“Ayah! Aksa masih mau main! Aksa gak mau makan!” rengeknya yang tak mau jauh-jauh dari mainan nya.


“Iya, Sayang! tapi sekarang kita makan dulu, kalau Aksa main terus nanti bunda marah lho? Aksa gak mau, kan bunda marah sama Aksa?”


“Tapi bunda gak pernah marah sama Aksa!”

__ADS_1


Imron dan Ryan saling bertukar pandang. Elvina memang bukan tipe cewek yang gampang marah. Dan, apakah Aksa anak yang begitu patuh dan penurut?


__ADS_2