Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 51) Adik Mansiku Berubah


__ADS_3

Batinku panik, “Astaga! aku lupa buang surat itu!”


Secarik kertas berisi surat ungkapkan yang dulu pernah Firuz kasih untukku lewat perantara sohibnya, Fakri. Dan ternyata selembaran itu masih kusimpan di dalam sana.


“Itu surat cinta ya?”


“Bukan,” balasku pura-pura bersikap tenang.


“Apa Teh Putri dapat surat itu waktu sekolah atau pas di Bandung?”


“Teteh, kan udah bilang bukan,Vin,” tuturku sedikit menekan namanya. “Jadi stop ya, imajinasimu yang gak jelas itu.”


“Ayo makan, jangan ngobrol terus!” tegur mama yang tengah menyajikan lauk untuk papa.


“Lho? Mama kapan balik dari warungnya?”


“Makanya jangan melamun, Teh,” ejek Elvina yang tengah menyendok nasi.


“Siapa yang ngelamun? Teteh cuma lagi fokus sama HP aja makanya gak liat mama!”


“Bisa aja ngelesnya,” ujar Elvina yang sudah berganti mengambil lauk.


“Udah! jangan berdebat di depan makanan,” tegur mama kesekian kalinya.


Aku pun menyantap menu sarapan pagi dengan tenang usai mama menegur kita. Tapi berkat itu, Elvina jadi berhenti mengintrogasiku.


Makanan untuk menyambut aktifitas sekaligus memberi tenang di pagi ini, hanya berselang beberapa menit saja. Kita telah tuntas menamatkan sepiring nasi goreng dengan lauk favorit kita masing-masing.


Aku beranjak bangkit berdiri dari kursi. “Mau kemana Put?” tanya mama menghentikan langkahku yang hendak meninggalkan meja makan.


Aku melirik mama. “Mau ke kamar,” jawabku menunjuk arah kamarku.


“Besihin ini dulu.” Mama menunjuk piring kotor di atas meja makan lewat kedua matanya.


“Ah iya, lupa!” Aku menggaruk punggung kepalaku nang tak gatal dan malah cengar-cengir.


“Buru-buru amat, Teh.”


Elvina mengejekku kembali dan itu terlihat dengan jelas lewat lanjamnya. Aku melihat adikku ini dengan sekilas dan kembali membuang mukaku menatapi piring-piring kotor.


Aku ikut membantu mama merapihkan meja makan, Elvina pun ikut membantu menumpuk piring kotor dan membawanya ke dapur.


“Mau kemana?” tanyaku pada Elvina yang sudah balik dari pelipir.

__ADS_1


“Kamar,” jawabnya tersenyum lebih ramah dan manis daripada biasanya. Meski setiap hari adikku selalu manis dan ramah, tapi kali ini menurut penglihatanku Elvina sangat berbeda.


“Emang udah bantuin mama?”


“Udah dong, kan tadi Teh Putri liat sendiri aku bawa tumpukan piring.” Elvina dengan santainya menjawab dan berlalu masuk ke dalam bilik kamarnya.


Hanya tertinggal sangku nasi dan beberapa mangkuk. Aku mengangkutnya dan membawa ke pelipir dapur.


“Ini, Mah.” Aku memberikannya dan mama menerima ceting yang kosong itu. Namun di letakkan di samping wastafel karena papa memanggil mama.


Mama nenghilangkan tangan penuh busanya dengan air yang terus mengalir dari keran. “Ini kamu lanjutin ya Sayang,” titahnya sambil menyeka tangan basahnya dengan kain.


Jawabku meng-iya-kan dan langsung mengambil alih tempat mama berdiri tadi. Mama pun langsung pergi menemui papa.


Di sisi lain ....


Dalam ruangan yang berisi dengan macam-macam perabotan, seperti ranjang yang terbuat dari kayu jati bertindihkan kasur empuk dan berselimut seprei polos satu warna.


Corak pink itu tak berbentuk lurus karena seseorang menduduki kasur empuk tersebut. Wanita berhijab syar'i tengah tersenyum menatapi benda di tangannya.


Sementara itu, di ruangan berbeda namun tak jauh jaraknya. Seorang wanita yang juga berhijab, meski tak labuh tapi masih menutupi perhiasannya.


“Alhamdulillah, selesai juga.” Aku menyapu embunan air yang masih melekat di tanganku. “Oh ya, hampir aja lupa.” Usai kering, aku bergegas pergi ke kamarku.


Cklek!


Aku membuka pintunya dan masuk ke dalam. Langkahku berbelok menyimpang menghampiri nakas.


Drek!


Aku menarik lacinya, sesuatu yang kucari ternyata gak ada di dalam sana. “Di mana kertas itu? kata Elvina dia melihatnya di samping peniti,” tuturku mengedarkan pandangan di dalam sana.


Tanganku masih mengobrak-abrik isi di sekitarnya. “Kok gak ada sih? apa Elvina cuma mengerjaiku? tapi aku ingat kalau surat itu belum sempat kubuang.”


“Aku simpan di mana ya kertas itu ...” Aku menarik laci di bawahnya. Hasilnya pun sama, hanya ada buku-buku saku yang sering kubaca saat luang.


Aku duduk dengan kasar di atas kasur. Pandanganku menilik Elvina yang berdiam diri di depan pintu. “Ngapain berdiri di sana, ayo masuk sini,” pintaku.


Elvina masuk dan mengucapkan salam, aku juga membalas salamnya. “Ada apa, Dek?” tanyaku saat Elvina sudah berjalan dekat dan duduk di sampingku.


“Gak ada apa-apa sih, cuma ...” ucapan Elvina yang tertangguh memberi tanda tanya dalam benakku, “Apa yang mau dia sampaikan? kok slow motion gitu sih?”


Elvina melirik ke arah samping membuatku terhipnotis dan ikut mengintai melengos. Tapi aku masih gak faham dengan gerak-gerik aneh adikku ini. “Kenapa sih?”

__ADS_1


“Tadi Teh Putri lagi cari apa?”


Aku terkesiap dan langsung berbalik menengok Elvina yang masih duduk di sampingku.


“Apa udah ketemu, Teh? Kalau belum, mau Elvina bantuin cari—”


“Gak usah!” Aku menolaknya langsung.dengan nada sedikit tinggi.


Elvina menatapku dengan tatapan seperti sedang mengorek sesuatu melalui bola netraku. “Ma—maksud Teteh, gak usah, soalnya yang Teteh cari juga udah ketemu.”


“Ooh, emang yang Teteh cari apa?”


“Anu, itu ....”


Elvina mengeluarkan kertas yang sudah di lipat dari saku bajunya. “Yang ini bukan?” tunjuknya dengan kertas yang sudah terbuka sempurna.


Aku membelak terkesiap. “Elvina!” pekikku. “Kok bisa-bisanya kamu ngambil kertas itu dari kamar Teteh?” omelku pada gadis yang tak jauh beda tingginya dariku.


Bukannya minta maaf, wanita ini malah unjuk gigi. Aku merebut kertas dari tangannya tapi gagal, karena kesigapannya berhasil lolos dan berdiri jauh dariku.


“Elvina, balikin gak?!” titahku menahan emosi.


“Akan aku kembalikan tapi Teh Putri harus cerita dulu, siapa itu Firuz? apa cowok yang waktu itu?”


Elvina terus menerus berceloteh, banyak sekali tanda tanya dari adikku ini.


“... Dan kalian pernah menjalin hubungan sebagai apa? teman? pacar? atau gebetan?”


Aku menatap malas dan gak mau ribut dengannya, apalagi ini masih pagi banget untuk memulai pertengkaran.


Bukan berarti, aku akan berkelahi dengannya. Terlebih lagi, waktu di meja makan membuatku kenyang karena berdebat dengan adikku yang super kepo ini


Padahal dulu saat aku masih SMA dan Elvina SMP, Elvina gak sekepo ini. Malah cuek dan sibuk dengan buku-bukunya.


Kepingan memori kecil melintas dalam benakku, “Aha! sepertinya aku tahu kenapa adik manisku ini bisa berubah.”


Semenjak Elvina berkisah tentang sepupunya Raudoh, adikku tak lagi pencinta buku seperti dulu. Ya meski sekarang juga masih hobi dan sibuk dengan bukunya.


Tapi waktunya lebih banyak Elvina habiskan bersama ponsel yang sudah banyak bunga bertaburan keluar tiap kali Elvina senyum-senyum dengan jari-jemarinya menari dengan anggun membalas pesan seseorang.


“Ya, yang kuamati selama ini sih begitu,” ucapku membenarkan praduga memoriku.


Deg!

__ADS_1


“Benar juga, ini bahaya!” tutur batinku.


__ADS_2