Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 58) Elvina Cemburu


__ADS_3

Keesokan harinya, tanggal 15 Januari 2023 di hari Ahad. Seseorang yang paling kusayang sedang dalam perjalanan ke rumah, bersama suaminya juga ponakan tampan kesayanganku.


Tok!


Tok!


Tok!


“Assalamu'alaikum!”


Ketukan pintu kembali terdengar dan salam pun diucapkan kedua kalinya.


“Put! tolong bukain pintu dulu, Mama masih sibuk nih!” pekik mama dari bilik dapur.


“Iya, Mah!” sahutku dari meja makan. Aku pun langsung berdiri dan meninggalkan pekerjaanku di atas meja demi menyambut tamu yang entah siapa yang datang.


Siapa ya, yang datang?


Aku berjalan menuju ruang tamu.


Sahutan salam kembali kudengar, kali ini suaranya sangat menggemaskan.


“Assalamu'alaikum!” ucapan salam seperti anak yang baru berusia 2,5 tahun.


Deg!


Aku tertegun, praduga muncul dalam benakku, “Jangan-jangan ....”


Langkah kakiku kian lebih lebar dan dengan kilat aku telah sampai di depan pintu. Aku membukanya dan ....


“Aksa!” pekikku yang langsung memeluk pria kecil di hadapanku.


“Assalamu'alaikum, Teh!”


“Wa'alaikumussalam!” Aku menoleh mendongak.



“Elvina?!” Kami berpelukan melepas rindu.


Adik manis ku akhirnya datang juga dan pria yang di sampingnya adalah suami Elvina.


“Teh!” panggil suami Elvina yang hampir kulupakan ke beradaannya sebab rindu berat dengan adik kesayanganku.


Aku menoleh dan menyudahi reuni kangen ini. “Oh, iya! maaf-maaf!”


Suami Elvina bersalaman dengan jarak aman, karena bagaimanapun tidak halal bagi kamu untuk saling bersentuhan kulit.


Meski dirinya telah sah untuk adikku, tapi hubungannya dengan ku yang sebagai kakak ipar tetaplah bukan mahrom.


“Teh Putri sama mama dan papa sehat-sehat aja, kan?”


“Alhamdulillah, kami semua sehat dan baik-baik aja! kalian sendiri gimana? semuanya sehat, kan?”

__ADS_1


Elvina membalasnya dengan ucapan hamdalah, lalu aku kembali berkata, “Kalau jagoannya Aunty gimana, sehat dong ya?” Aku berjongkok mensejajarkan tinggiku dengan Aksa.


“Sehat dong! kan Aksa super hero!” ucapnya seperti abjad anak kecil yang belum lancar ngomong.


“Ooh ... gemesnya!” Aku mencubit pipi tembem Aksa.


Aku terdiam dan fikiranku melayang entah kemana, tatapanku kosong tak lagi menatap makhluk kecil di hadapanku.


Kalau dipikir-pikir, aku bersyukur karena hubunganku dengannya harus di akhiri dengan paksa sebelum memulai.


Mungkin saja, aku dengan kak Nathan gak berjodoh seperti percintaan adikku.


Elvina pdkt sama sepupunya kak Nathan, tapi berjodoh dengan Ryan, anak kiyai di ponpesnya.


Benar-benar gak bisa di tebak, kan?


Semakin bertambahnya usiaku, serta sedikitnya komunikasi antara aku dan kak Nathan, aku tak menaruh harapan tentang pertemuan kami.


Dalam kehidupanku selama ini, aku sudah sering melihat dan menyaksikan teman-teman SMP-ku dulu yang memutuskan untuk lanjut mondok.


Kini kebanyakan dari mereka telah menikah dengan teman se-pesantren. Bahkan, ada yang menikah dengan pengajar walau mereka tidak satu pondok.


Lebih-lebih, jika santri itu di sukai oleh sang kiyai. Pasti akan di minta untuk anaknya yang single. Atau tidak, akan di jodohkan dengan santriwati nya.


Demikian dengannya, apalagi dulu saat aku dengan kak Nathan masih berhubungan. Juga alam semesta masih memberi waktu untuk kami bersenda gurau lewat chat.


Tahun itu, kak Nathan memberitahuku kalau dirinya menjadi imam masjid selama Ramadhan di negara M. Sebelum akhirnya dia menghilang tanpa kabar.


“Maaf-maaf!”


“Emang lagi ngelamunin apa sih? serius banget!”


“Nggak ... gak ngelamun kok, cuma lagi mikirin tulisan aja.”


Aku bangkit dan meraih tangan mungil Aksa. “Ayo kita masuk!”


“Hmm ...” Aksa menggeleng dan gak mau jauh-jauh dari Elvina.


Aku kembali berjongkok. “Aunty punya mainan baru untuk Aksa lho!” ujarku sambil tersenyum dengan dibumbui rayuan yang sudah ku siapkan saat keluarga kecil Elvina berencana akan datang.


“Mainan baru?” tanya Aksa dengan cadel sebab belum bisa manggil R.


Aku yang melihat mata berbinar Aksa menjawab, “Iya.” Penuh semangat, tangan mungilnya kini menggenggam tanganku lebih dulu. “Ayo masuk!” ajaknya setelah bersorak dengan happy.


Aku dan Aksa berjalan lebih dulu. Namun, saat kami melangkah masuk ke dalam rumah, kata salam terdengar dari belakang punggung, kami pun menoleh dan berbalik ke asal suara.



“Wa'alaikumussalam!” ucap kami dengan kompak.


Elvina dan suaminya lebih dulu menghampiri papa dan bersalaman.


“Tahu kalian datang secepat ini, harusnya tadi papa pulang lebih awal!” tutur Imron, papa nya Putri dan Elvina.

__ADS_1


“Gak apa-apa kok, Pah! lagian kita juga baru sampai!”


Papa memang selalu pulang agak terlambat, karena selalu memeriksa tugas anak-anak didiknya lebih dulu sebelum pulang ke rumah.


Jadi, saat di rumah papa bisa bersantai dan menikmati moment bersama keluarga dengan tenang.


“Ayo, kita juga salaman dulu sama kakek?!” ajakku pada Aksa yang terus menatap wajah papa, mungkin sedang mengingat dan mencari tahu dalam memorinya.


“Mainannya kapan?” tanya Aksa dengan wajah imut polosnya.


“Habis salaman sama kakek!” Aku tersenyum.


Setelah mendengar perkataanku, Aksa langsung melepaskan genggamannya dan berlari menghampiri papa yang jaraknya cuma 5 kotak lantai keramik.


Usai Aksa salaman, kini berlanjut aku yang bersalam ke papa. Kami pun menyambung reuni ini di dalam rumah.


Dan, baru saja pintu di tutup, Aksa sudah menagih mainan barunya.


“Mainannya mana?”


“Ada di kamar! bentar ya, Aunty ambilin dulu!”


Aku berbalik dan pergi menuju kamarku, tapi sebelum itu papa menghentikan aksiku. “Put! tolong bilangin sama mama, Elvina udah datang, gitu!”


“Jangan!”


Semua orang melihat Aksa, tak terkecuali aku yang juga ikut menoleh ke arahnya.


“Aunty mau ambil mainan untuk Aksa ...” rajuk Aksa dan tak lupa tatapan ngambeknya yang membuat kami bertambah gemas dengan pipi yang semakin seperti bakpao.


Kami semua yang ada di sini tertawa dengan perkataan Aksa yang kembali berucap, “Gak boleh!”


Mungkin maksudnya tidak boleh manggil neneknya kali ya?


“Iya-iya! aunty akan ambil mainan di kamarnya untukmu, kalau gitu Aksa aja yang manggil nenek di dapur, ya?!” pinta papa yang hanya bergurau pada cucunya.


Aksa menjawab sambil menggelengkan kepala. “Gak mau! malu!”


Kami di buat terpingkal-pingkal melihat tingkah lucunya. Dan tertawa kembali sampai-sampai mama menghampiri kami.


“Ada apa ini, kok ramai banget? sampai kedengaran dari dapur gitu!” Mama menoleh ke arah Aksa, “Oh pantas saja! rupanya ada cucu nenek?!”


Mama berjalan menghampiri Aksa dan lekas menciumi pipi kanan juga kirinya dengan berulang-ulang.


“Mama gak kangen sama Anak Mama juga, kah?” tanya Elvina memasang wajah cemberut.


“Enggak!” jawabnya dengan cepat tanpa menoleh sedikitpun ke arah Elvina.


Aku dan papa menahan tawa melihat mama yang lebih sayang dan melupakan kami semua yang ada di sini. Sampai-sampai Elvina cemburu dengan anaknya sendiri.


“Aakh ... Mama kok gitu?!” Elvina menghampiri mama dan langsung memeluknya dari samping.


Mama tertawa dan membalas pelukan Elvina.

__ADS_1


__ADS_2