Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 7) Menjadi Pelangi


__ADS_3

Waktu beredar begitu gesit. Tak terasa sudah 2 bulan, 27 hari. Sebuah hubungan yang kita jalani tanpa status.


Hari Selasa, 3 April 2018 pukul 14:32 WIB.


Beberapa buku menumpuk di atas meja belajar, dan sebuah buku latihan yang masih sibuk aku kerjakan.


Ponsel yang tak jauh dari buku latihanku tepat berada di sampingnya. Ponsel itu berdenting, memecahkan fokusku.


Ting!


Sebuah notifikasi chat masuk, dan aku buka pesan itu. Batinku lesu, “Oh, No! pesan ini la-”


Ting!


Pesan masuk terdengar kembali menyergah ucapanku hingga terpotong dan terlempar keluar dari hati.


“Lagi!” pekikku.


“Astaghfirullah ...” ucapku lirih.


“Kenapa, Teh?” Adikku berjalan masuk kedalam kamarku.


Sepertinya Elvina khawatir, sampai bukunya masih lengket di tangan kanannya, kacamata mines yang juga masih tersangga di batang hidungnya.


“Gak kenapa-kenapa, Teteh cuma terkejut gara-gara chat dari Lucy.”


Batinku bergumam, “Maaf ya, Luc. Aku pinjam namamu dulu.”


“Oh, teh Lucy?”


“Iya.”


Setelah mendengar jawabanku, Elvina kembali ke kamarnya. Melanjutkan belajarnya. Sedangkan aku, berusaha menenangkan qolbuku.


Aku mebuang nafas berulang-ulang. Rasanya muak dan menjengkelkan. Semua pertanyaan yang terus berulang hingga aku menjadi hafal. Mereka seolah sedang menginterogasi dan mengujiku.


Aku mencoba untuk menahannya karena mereka adalah teman kak Nathan, hanya hingga rasa penasaran mereka lenyap. Meski aku merasa sedikit terganggu.


Tapi, entah kenapa saat ini hatiku di penuhi rasa cemburu. Pasalnya bukan satu atau dua orang yang salah mengenaliku, tapi lebih dari lima orang.


Bahkan yang mengira dia pacarnya ada lebih dari sepuluh orang, dan mereka satu denganmu. Sedangkan aku yang jauh darimu gak tahu harus menyikapi seperti apa.


Malam hari di dalam kamarku, pukul 22:45 WIB.


Ting!


📱“Maaf ya baru balas pesanmu, tadi lagi ada urusan.”


“Iya gak apa-apa.”


📱“Kamu lagi apa? udah makan belum?”


“Belum. Ini aku lagi chat sama Kakak.”


📱“Kenapa belum makan?”


“Lagi gak nafsu aja.”


📱“Oh, tapi jangan lupa makan, nanti sakit.”


“Iya, kalau Kak Nathan lagi apa? sudah makan, kan?”


📱“Sudah. Sama kayak kamu, lagi balas chat kamu.


Aku tersenyum membaca pesannya sampai gigi atasku lolos. Tapi aku juga gak bisa membohongi hatiku. Aku sedang tak baik-baik saja, hatiku masih ngilu.


“Aku kira Kak Nathan lagi chat sama yang lain.”


📱“Ya, sama teman-temanku juga.”


“Kak!”

__ADS_1


📱“Ya, kenapa?“


“Aku boleh tanya sesuatu?”


📱“Boleh, kalau aku bisa InSyaa Allah aku jawab.”


“Kakak sama Cyra ... kalian benaran gak pacaran?”


📱“Aku harus jelasin kayak gimana lagi biar kamu percaya? aku sama dia gak ada hubungan apa-apa. Aku cuma anggap dia sebagai adik, gak lebih.”


Aku ragu untuk bertanya kembali padanya, tapi hatiku benar-benar cemburu dengan Cyra, seorang gadis yang hanya kutahu namanya dari teman-teman kak Nathan.


“Iya, tahu! tapi teman-teman Kakak, mereka bilang Cyra itu pacar Kak Nathan.”


📱“Aku, kan udah bilang, mereka itu cuma salah faham. Dia emang suka sama aku, tapi aku cuma anggap dia adik, gak lebih.”


Sambil balas chatnya, air mataku terus mengalir seperti air, turun seperti rain. Aku terisak-isak menahan tangis, aku was-was bila sampai terdengar oleh adikku Elvina, dan juga mamah papahku.


“Iya, aku tahu. Maafin aku ya, atas pertanyaanku tadi.”


📱“Iya gak apa-apa.”


Sepertinya gak hanya aku yang letih, mungkin di seberang pulau sana ia juga merasa capek. Apalagi, dia baru saja selesai kelas belajar malamnya.


Malam ini aku pura-pura baik-baik saja. Mungkin bukan aku, tapi kita. Kita pura-pura baik-baik saja, dan berusaha menghidupkan kembali susana dalam obrolan chat kita.


Rasanya hampa, kita saling chatting hanya untuk menutupi keadaan hati kita, dan saling menjaga perasaan.


Sampai dia mentransfer sebuah foto balita, ia tampak gemoy dan lucu. Kedua pipinya chubby dan menjulurkan lidah yang ia buat melengkung. Semakin gemas aku di buatnya.


Suasana dalam obrolan akhirnya benar-benar cair, bukan di buat-buat tapi benar-benar terasa hangat. Aku bertanya padanya, “Anaknya siapa, Kak?”


📱“Pamanku, lucu, kan?”


“Iya, lucu banget. Jadi pengen cubit pipinya, hehe.”


📱“Hahaha.”


Kulanjutkan membalas chatnya, “Namanya siapa, Kak?”


📱“Muhammad Naufal Taheem.”


“MaaShaa Allah, indah sekali namanya. Naufal Taheem itu artinya apa?”


📱“Naufal itu artinya baik hati dan dermawan, sedangkan Taheem artinya murni.”


“MaaShaa Allah, semoga tumbuh besar seperti arti namanya.”


📱“Aamiin.”


“Jadi pengen cepat punya anak, wkwkwk.”


📱“Hahaha, nantilah sekarang fokus dulu menuntut ilmu.”


“Hehehe, iya.”


📱“Kamu masih belum ngantuk?”


“Belum, Kak Nathan udah ngantuk?”


📱“Iya, aku pamit tidur duluan ya.”


“Iya, selamat beristirahat. Jangan lupa mimpiin aku ya.”


📱“Hahaha, kamu juga.”


Deg!


Hatiku terpanah oleh kata-katanya, aku menarik sudut bibirku membentuk lekungan busur.


Beberapa menit setelahnya senyumku kembali tawar, aku terisak, air mata yang sudah aku seka kini berangsur longsor lagi.

__ADS_1


Ini kedua kalinya aku dan dia bertengkar karena Cyra. Seorang gadis yang berjaya membentuk was-was di relung hatiku.


“Sepertinya dia lelah denganku,” gumamku berpikir.


Aku menjelangak ke arah jam yang melingkar di dinding kamarku, dengan bunga lavender mengelilinginya.


Kini lidi menit dan jamnya menunjukkan era 23:36 WIB. Aku merebahkan diriku, disusul kelopak mataku yang turun dalam hitungan detik.


Aku angkat kedua tanganku menengadah, mulutku membaca mantra doa sebelum tidur, tak lupa surat qulhu dan ayat kursi kulantunkan sebelum doa bismika allahumma ahya wa bismika aamut.


...***...


Tok! tok! tok!


Aku menoleh kearah pintu kamarku yang memang sudah aku buka. Aku mendapati adikku tengah berdiri dan mulai masuk, tangan kanannya bekerja memegang erat khimar yang ia kenakan.


“Teh, minta peniti dong.”


“Ambil aja, ada di dalam laci atas.”


Adikku berjalan mendekati laci yang aku tempatkan dekat kasur. Ia mulai menariknya, dan di ambillah kotak mika kerdil warna bening.


“Subhanallah. Gak ada yang lebih kecil, Teh, jarumnya?”


Walau ia tampak protes melihat peniti berukuran kerdil di laciku yang hanya memiliki panjang 32mm, tapi adikku tetap mengambilnya.


Ditusuklah kain tipis di bawah dagu lancipnya, yang adikku pegangi dari tadi. Kini ia menggantinya dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya tampak kewalahan, jarum itu terus lolos dari benang khimar.


“Ya Allah, Teh! bantuin Elvin dong, dari tadi kendur mulu.”


Sebelum adikku menggerutu lagi, aku langsung membantunya mengancingi khimarnya.


“Sudah!”


“Alhamdulillah, syukron jazaakillahukhoyr yaa ukhty.” Adikku tersenyum manis mengucapkan kalimat doa itu, adem melihat wajahnya yang seperti ini.


“Wa iyyaki yaa ukhty.” Aku membalas senyumnya walau lebih manisan adikku.


Elvina sama seperti kak Nathan, wajahnya mampu menyejukkan qolbu.


“Apa semua anak pesantren memang begitu?” pikir batinku.


Adikku, Elvina Umaiza. Dia sekolah sambil mondok di pesantren dekat sekolah. Tapi hari ini dia ijin pulang, dan lusa bakal balik lagi ke pondok.


“Kalau gitu Elvin pamit ya, Teh.”


“Iya.”


Aku yang sudah selesai dengan khimar dan sepatuku, kini aku mulai mencari buku untuk mata pelajaran hari ini.


Di tengah pencarian buku latihan matematika, ponselku berdenting.


Ting! pesan masuk, pukul 06:05 WIB.


📱“Assalamu'alaikum.”


Aku menoleh, mataku menembak benda kerdil yang masih tergeletak di atas ranjang.


Aku mendekat dan meriah benda itu, rupanya aku alpa memberinya makan. Dayanya tinggal 2% tapi cukup untuk membalas pesan kak Nathan.


“Wa'alaikumussalam warohmatullah. Tumben bisa online?”


📱“Iya. Karena sekarang hari jum'at jadi bebas boleh main ponsel, tapi nanti malam harus di kumpulkan lagi.”


“Oh begitu. Ya udah, Kak. Aku pamit ya, kita lanjut nanti siang lagi selepas pulang sekolah.”


📱“Iya, semangat belajarnya.”


“Terimakasih,” balasku diakhiri dengan emoticon smile tersipu.


Beberapa hari kemudian, kak Nathan tiba-tiba menjadi pelangi. Bahkan waktu itu ia hanya online di pagi hari saja, padahal katanya bisa pegang ponsel sampai malam.

__ADS_1


Mungkin dia sedang ada urusan, pikirku kala itu. Tapi sudah hampir seminggu akunnya gak ada tanda-tanda di sentuh. Hanya ada pemberitahuan di bawah username akunnya, aktif 5 hari yang lalu.


__ADS_2