Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 39) Terulang Kembali


__ADS_3

Waktu beredar dengan acap gestinya, hari terus berganti dan minggu berlalu menjadi bulan, hingga tahun berlalu dengan dua belas bulan berlalu begitu cepat.


Dua tahun kemudian....


Dibulan ketujuh yang memiliki nama Juli, aku memutuskan untuk berhenti kuliah. Bukan karena papa tak lagi mampu membiayaiku, ataupun beasiswaku dicabut.


Tapi ini semua berawal dari kejadian seminggu lalu. Ketika aku tengah tinggal seorang diri dikosan. Waktu itu, semua penghuni kos menghadiri pesta pernikahan adiknya tante Rossa yang berada di desa sebrang.


Aku sengaja tak bisa ikut pada hari itu, karena setelah sekian lama aku menunggu, akhirnya sebulan yang lalu novelku diterima. Dan ini kesempatan emas bagiku.


Dan hari Sabtu itu, hari terakhir aku menyerahkan naskah novel yang tinggal beberapa bab akan end.


Reminisensi ingatan beberapa minggu lalu on.


“Put, kamu yakin gak mau ikut?”


Ucap Lucy sambil bersolek menata riasan wajahnya dicerimin. “Yang lain pada pergi lho? nanti kamu bakal sendirian dikosan, apa gak masalah?” imbuhnya lagi.


“Iya, gak apa-apa kok.” Aku tersenyum. “Aku nitip aja ya, amplonya udah kutaruh di atas meja rias,” lanjutku.


Lucy menurunkan pandangannya. Sorot mata abu itu menangkap secarik kertas nang tak tebal, dengan warna putih bersih nan suci, karena memang amplop baru beli.


“Salamin sama tante Rossa juga ya, maaf aku gak bisa ikut,” sambungku kembali dan tak lepas dari layar monitor di hadapanku.


Lucy menghela nafas panjang, menatap sosokku yang terpantul dari kaca cermin nan kebetulan posisi antar meja belajar dan meja hiasan kita susun seperti huruf L.


Aku tahu, dia sangat khawatir padaku. Terlebih kosan ini akan menjadi kosong nan sunyi, dan akupun akan sendirian di sini.


Dia mengenal betul diriku. Ia tahu, meski saat ini ekspresiku biasa saja tak menunjukkan kekhawatiran ataupun rasa takut. Tapi dalam pandangan Lucy yang dalam, ia menyadari kekhawatiran hati kecilku.


Lucy meriah amplop yang tergeletak di sana. Kemudian mengambil benda persegi panjang yang tak jauh dari posisinya.


Kini dompet pesta bercorak hitam yang senada dengan dress nan Lucy pakai telah ia tarik hingga membuat celah.


Lucy menaruh ponselnya kedalam benda yang lebih sempit nan kecil dari ransel itu. “Apa tugasmu gak bisa ditunda dulu,” rengeknya bergilir sembari menyimpan titipanku.


“Gak bisa, Luc! hari ini udah jatuh tempo dan sekitar jam sepuluhan aku harus kirim ke editornya.”


Aku sibuk mengetik hingga suara keyboard bak alunan itu mengiringi celoteh kita.


Semenjak kabar bahagia karena akhirnya novelku diterima, membuat rahasia kecilku diketahui oleh Lucy. Walau begitu, Lucy mensupport mimpiku yang bertolak belakang dengan kampus dan jurusan nang kuambil.


“Kalau gitu aku nemanin kamu aja di sini, aku was-was dan gak tenang kalau harus ninggalin kamu sendirian di sini,” tuturnya yang kembali duduk di atas kasur.

__ADS_1


Ketika aku hendak membujuknya, kak Mala dan kak Shelly menjemput kita untuk berangkat bersama.


“Assalamu'alaikum,” seru kak Shelly.


Aku menilik ke arah pintu yang memang sedari tadi terbuka. “Wa'alaikumussalam,” sahutku dan Lucy secara bersamaan.


“Lho? Put! kok kamu masih belum siap-siap?” tanya kak Mala menatapku bingung.


“Hehe ... iya nih, Kak! aku gak bisa ikut karena tugasku masih menumpuk.”


“Lalu, kenapa dengan Lucy? kok dia gak semangat gitu?” tanya kak Shelly nang tertarik oleh wajah Lucy yang sedang menekuk usai berdandan dengan beauty.


“Itu Kak, dia gak mau pergi kalau aku gak ikut,” beberku.


“Ya ampun, setia kawan banget. Atuh gak apalah! di sana juga palingan kita gak lama, cuma makan, absen muka sama tante Rossa dan kasih amplop selesai deh, terus langsung pulang,” jabar kak Mala.


“Iya tuh, udah kamu pergi aja sama Kak Mala dan Kak Shelly. Aku benaran gak apa-apa kok,” bujukku kembali.


Lucy menghembuskan nafas dengan berat. “Ya udah, tapi kamu harus hati-hati. Dan jangan lupa kunci pintunya.”


Lucy beranjak bangun dan memberi amanat untukku agar tak lalai, apalagi kosan ini benar-benar akan sepi sekali.


Selang beberapa menit, Lucy dan kakak-kakak yang lain telah pergi meninggalkan kosan. Sesuai dengan pesan Lucy, aku telah tamat mengunci pintu kamar.


Aku meregangkan jari-jemariku hingga membina suara 'Kretek-kretek!' yang keluar dari beberapa jemariku.


“Semangat, Put! kamu pasti bisa!” ujarku memberi semangat pada diri sendiri dan melanjutkan menulis.


...***...


Jarum jam terus berdetak tanpa mengenal lelah hingga menit dan jam pun ikut bergeser.


Heningnya kosan tak berpenghuni karena hanya ada aku seorang yang tengah memfokuskan diri pada layar laptop di depanku.


Sampai ketika, fokusku terusik manakala kudengar suara gemerisik benda dari arah luar pintu kamarku.


Aku menghentikan sejenak tarian jemariku di atas keyboard laptopku. Kuajak indera pendengaranku untuk mendengar lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi di luar sana.


Tubuhku merosot bersembunyi dibalik kursi, mengintai dan terus mengamati. “Semoga saja Lucy!” pikirku.


Sambil menanti, jantungku berdegup semakin kencang dan cepat. Manakala aku melihat gagang pintu bergerak ke bawah. Yang mana artinya seseorang sedang berusaha membuka pintu.


Aku semakin bingung sekaligus juga ketakutan. Bagaimana tidak? aku sudah mengunci rapat benda itu.

__ADS_1


Dan aku yakin, kalau itu bukan Lucy. Meski Lucy sudah pergi jam empat sore tadi, tapi tak mungkin Lucy lupa berucap salam.


Bukankah Lucy pun tahu aku ada di dalam? kenapa dia berlaku seperti maling?


Praduga yang lewat sepintas dalam pikirkan, membina rasa was-was dalam kalbu.


Saat ini, ketakutan semakin nyata aku rasakan begitu pintunya benar-benar terbuka diikuti dengan kemunculan sesosok pria bermasker dengan langkah terendap-endap.


Dia perlahan-lahan dan sangat hati-hati menutup pintu. Nyaris tak ada suara pintu tertutup karena saking pelannya seperti jalan semut, atau mungkin kura-kura.


Aku langsung bersembunyi di kolong meja, dengan kursi sebagai penghalangnya. Deru kaki yang mengendap-endap terdengar semakin jelas.


Serta kamar yang terang karen pantulan sinar dari luar memantulkan sebentuk bayangan lain dihadapanku.


Akupun tak bisa menggunakan ponselku, karena cahayanya akan membuat persembunyianku bisa tercium oleh indra matanya.


Ya Allah, lindungilah hamba. Jangan sampai aku ketahuan oleh pria asing ini.


Deru jantungku terus berpacu, langkahnya yang hampir tak bersuara membuatku semakin panik dan gelisah.


“Wah-wah! rupanya masih ada seorang gadis yang tertinggal sendirian di sini?”


Ujarnya saat dia menangkap basah diriku yang tengah bersembunyi dikolong meja.


Lelaki itu menjulurkan kedua tangan dan mencengkram menarik tanganku dengan kasar hingga aku lolos dari persembunyianku.


Aku meronta-ronta berusaha melepaskan tanganku yang lelaki ini menggenggamnya dengan sangat erat.


Pria yang menutupi wajahnya dengan masker hitam, menyeretku dengan kasar, tubuhku dilempar hingga jatuh tersungkur di atas kasur.


Bagaimana bisa aku seceroboh ini? Yaa Allah, tolonglah hambamu ini, aku sangat takut ya Robb.


Penyesalan karena bersembunyi ditempat yang salah, serta rasa cemas dan gelisah menyelimuti sekujur tubuh dan kalbuku.


Aku tak ingin berada diposisi ini lagi ya Robb ....


Lacrimaku bercucuran, di situasi genting dan darurat yang bisa menghancurkan seluruh hidup nan masa depanku malah membuatku membisu.


Rasanya suara teriak 'Tolong' tertelan ke dalam, aku berusaha untuk mengeluarkan suaraku.


“To—tolong ....”


Ucapku lirih terasa serak, padahal kondisiku fit dan tidak terkena flu. Tapi mengapa? mengapa suaraku menjadi begini.

__ADS_1


Pria itu terkekeh puas melihatku tak berdaya dihadapannya. Lelaki itu perlahan melepas jaketnya.


__ADS_2