
Keesokan harinya ....
Pukul sepuluh siang hari Jum'at. Hari di mana tempat papa mengajar juga tengah libur. Kita pun hanya berkumpul diruang keluarga dan menonton drama bersama.
Kendatipun televisi yang masih menyala justru malah kita anggurin, karena sibuk mengobrol dan membahas yang lain.
Sampai pertanyaan Elvina, seketika membuat keadaan menjadi hening sunyi senyap.
“Teh Putri balik lagi ke Bandung kapan?”
Papa dan mama saling melontarkan tatapan. Dan aku yang mendapatkan lontaran sebuah pertanyaan, tak ketinggalan pula mematung untuk beberapa menit.
“Teh!” panggilnya menepuk punggung tanganku. “Kok malah pada bengong gitu?” imbuhnya lagi memperhatikan kita.
“Teteh udah gak kuliah lagi,” jawabku.
Elvina membelalak memandangku. “Hah? kenapa?!”
“Ermm ... Teteh—”
Suara ponselku berdering, sebuah panggilan masuk dari papa berhasil mengalihkan pembicaraan ini.
Syukurlah papa membuat panggilan, sehingga aku bisa berkilah dan lari dari pembicaraan ini.
“Oh, ada telepon! aku angkat dulu ya, assalamu'alaikum.”
Aku bergegas bangkit dan lekas pergi meninggalkan ruang keluarga.
“Emang dari siapa sih? kenapa gak angkat di sini aja?” Elvina memandang punggung Putri yang sudah menjauh dari mereka.
“Memangnya kenapa Sayang? kan teh Putri juga punya privasi,” balas papa.
“Apa jangan-jangan ... yang telpon teh Putri itu cowoknya?” terka Elvina.
“Hush! jangan ngawur, gak boleh su'udzhon. Dosa!” sergah mama mempertegas kata dosa.
“Bukan su'udzhon, Elvina cuma nebak aja. Iya, kan Pah?” Elvina melengos menatap papa.
“Mungkin.”
“Ish, kok mungkin sih, Pah!”
“Iya deh iya! apa kata puteri Papa memang benar, cuma nebak aja! dan gak sadar udah su'udzhon.”
“Iiihh Papa!” pekik Elvin.
“Papa mau keluar dulu ya, Mah! Assalamu'alaikum.” Papa berdiri meninggalkan ruang keluarga, sehingga hanya tersisa mama dan Elvina.
“Wa'alaikumussalam warohmatullah.”
Jawab Elvina dan mama dengan serempak, akan tetapi raut wajah Elvina masih di tekuk.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya mama yang melihat wajah Elvina, puteri keduanya.
“Entah mengapa, Elvina merasa teh Putri sengaja menghindari pertanyaan Elvin,” jawabnya.
“Menghindar bagaimana? bukankah teh Putri udah jawab pertanyaan kamu?”
“Iya, Mah! tapi pertanyaan kedua belum sempat dijawab dan malah nerima telepon.”
__ADS_1
Elvina diam, demikian juga mama. Karena sebuah amanat, membuatnya tak bisa membantu Putri mewakili jawaban buat Elvina.
“Apa Mama tahu, kenapa teh Putri tiba-tiba berhenti kuliah?” tanya Elvina pada mama.
Untuk sejenak, mama diam. Lalu beliau berkata, “Maaf ya Sayang. Mama juga gak tahu, teh Putri pun gak ada cerita sama mama dan papa,” kilahnya sambil meremas jemari.
...***...
Adzan Isya' telah berkumandang beberapa menit lalu. Dan disebuah ruangan, dengan lafadz Allah dan Muhammad dalam bentuk bingkai kaligrafi terpajang menghiasi dinding.
Dalam arah kiblat, terdapat tiga orang sedang rukuk, lengkap dengan mukenahnya, di mana salah satunya sebagai imam sholat.
Selang beberapa menit, ketiganya pun usai menuntaskan kewajiban tersebut. Mereka juga tak lekas berdiri, justru menghitung butiran tasbih dengan jemarinya.
Keheningan tiadanya percakapan hanya suara denting dan dzikir yang memenuhi ruangan tersebut.
Dan sampai pada finish yang sudah tuntas diakhiri dengan aamiin. Hanya Robbul'aalamiin yang tahu, hajat apa yang ketiga insan itu minta.
“Mah, Vin, aku balik ke kamar duluan ya!”
Aku berpamitan lebih dahulu setelah menanggalkan mukenahku yang menyisakan gamis dan khimar. “Assalamu'alaikum,” sambungku berucap salam.
“Wa'alaikumussalaam,” seru mama dan Elvina dengan serempak.
Aku beranjak pergi meninggalkan mama dan Elvina di mushola kecil dalam rumah. Ayunan kakiku melangkah melaju pada sebuah kamar dan masuk ke dalamnya.
Langkahku berjalan mendekati laci dekat ranjang. Sebentuk benda persegi panjang tergeletak di atasnya.
Aku meraih dan mengambil benda pipih itu. “Lama juga gak main sosmed, kali-kali main deh sebentar aja,” gumamku membuka kunci smartphone milikku.
Saat ini passwordnya telah terbuka, semua aplikasi terpampang di sana. Ibu jariku menyentuh salah satunya, sebuah pemberitahuan yang amat lebih dari seratus.
...***...
Seminggu kemudian, tanggal 27 Oktober 2020 pada hari Selasa, pukul 21:07 WIB.
Perasaanku tengah diliputi rasa gelisah, gundah dan bimbang. Aku terus menarik mundur ibu jariku saat dia sampai pada icon berbentuk telepon.
Dalam sebuah akun dengan username lamanya, netraku menatap lama akun tersebut. Di mana, terdapat foto gadis kecil berihijab sebagai profilnya.
Telepon nggak ya? kalau enggak, aku penasaran banget, aku mau dengar langsung darinya. Tapi ... kalau di telepon, aku harus ngomong apa untuk memulai percakapan?
Sekian lima menit kuhabiskan untuk berfikir, aku memberanikan diri untuk menelepon dan bertanya dengan yang bersangkutan.
Aku pernah salah faham karena bertanya pada orang lain dengan info yang kudapati dari orang lain jua.
Dan itu, justru menyisakan penyesalan dalam hatiku. Kali ini, aku ingin memastikan langsung dan bertanya padanya. Pada dia yang memiliki semua faktanya.
Aku menatap ponselku, detik di layar telah berjalan satu detik yang memberi isyarat bahwa orang diseberang sana telah menjawab panggilanku.
Aku langsung mendekatkan smartphone milikku di telinga dan segera mengucapkan salam, dengan deru jantung yang masih berdegup kencang.
“Assalamu'alaikum.”
📞 “Assalamu'alaikum.”
Ucapku dengannya secara bersamaan.
“Wa'alaikumussalam warohmatullah,” sergahku langsung menjawab salamnya.
__ADS_1
📞“Ini siapa ya?”
“Putri,” jawabku.
📞“Oh, Marsha?!”
“Iya.”
📞“Putri malu!” pria diseberang sana tertawa lepas usai mengucapkan nama akunku.
Mendengar tawanya membuatku kian membeku. Sesuatu yang dulu kuharapkan, yakni bisa mendengar suara juga tawanya.
Saat ini, seakan waktu berhenti di sekitarku. Aku bisa mendengarnya usai dua tahun kita lost contact.
Untuk sejenak aku terdiam. Selang beberapa detik aku mulai bersua, “Iya.” Aku tersenyum dan masih bisa mengontrol hatiku.
Pria yang di seberang telepon sana masih tertawa renyah. Hingga menular padaku yang ikut guyon mendengarnya nan masih menertawakan nama akun lamaku.
Sebuah akun pertama yang kubuat, juga awal aku mengenal hingga terikat rasa.
“Kakak kenapa sih, kok ketawa mulu. Emang ada yang lucu ya?” tanyaku dengan deru jantung yang masih tak terkendali namun ada sedikit perasaan kesal.
📞“Haha ... gak ada sih.”
“Terus kenapa ketawa mulut?”
📞“Aku cuma senang aja bisa dengar suara kamu.”
Kalimatnya mengantarkan aliran listrik. Rasanya aku seperti tersetrum oleh kata-katanya. Karena bukan hanya dirinya, tapi aku pun sama.
“Aku juga, aku senang banget bisa dengar suara kamu, Kak!” gumam batinku.
📞“Aku gak sangka lho kalau kita bisa kayak gini.”
“Aku, apa lagi!” ucapku dalam hati.
Aku tersenyum untuk beberapa detik, kemudian kembali masam. Karena ada seseorang yang sudah mengisi hatinya.
Aku gak boleh terbawa perasaan, jika tidak, aku lagi yang akan sakit.
Lagi-lagi, suara tawa lolosnya terdengar. Hingga membuatku deru detak jantungku semakin berpacu cepat.
Sebelum aku hilang kendali atas perasaanku, lebih baik langsung membuka pembicaraan lain. Akan tetapi, lelaki diseberang sana memulainya lebih dulu dengan bertanya.
📞“Gimana kabarmu?”
“Alhamdulillah, baik! Kakak sendiri gimana kabarnya?”
📞“Alhamdulillah, baik juga!”
“Alhamdulillah.”
📞“Iya.”
“Ngomong-ngomong, kabar tunangan Kakak gimana?”
📞“Alhamdulillah, dia juga baik.”
“Syukurlah!
__ADS_1
Ini pertama kalinya aku dan dia mengobrol, walau masih lewat dumay. Benar-benar sesuatu yang tak pernah kuharapkan dan mengalir begitu saja.