Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 36) Tertolak Lagi


__ADS_3

“Aku kira kamu gak bakalan ikut,” seruku pada seorang gadis pemilik netra berlensa abu.


“Aku bosan kalau dikamar sendirian,” ujarnya.


“Bosan apa karena khawatir?” godaku.


“Ya udah kalau gitu aku balik lagi aja deh.”


“Ya ampun kamu serius banget sih, Lucy!” Aku menarik tangannya. “Oh ya, memangnya kamu gak chattingan sama Fakri?” sambungku.


“Lagi libur dulu.”


“Ha? jangan bilang Fakri jadi es lagi?”


“Gaklah, sekarang es nya udah mencair,” ucapnya bangga dan berseri-seri.


“Ooh, jadi ... apa kamu sekarang lagi jual mahal kah? atau mau balas dendam sama Fakri?” tanyaku.


Lucy melengos kearahku. “Maksudmu?”


“Ya kali aja, sekarang kamu lagi balik dinginin Fakri, kan dulu kamu di cuekin habis-habisan sama dia, dari cerita yang kudengera sih gitu,” uraiku padanya.


“Mira, ya?!”


“Hehe ...” Aku mengernyih dan menggaruk pelipisku nang tak gatal.


...***...


Malam hari di dalam kamar kos. Dan benar saja, Lucy malah sibuk belajar sepertiku dibanding chat dengan gebetan nya.


Dasar teman keras kepala, akhirnya malah menyiksa hatinya sendiri.


Aku merasa kasihan melihat wajah Lucy yang lemas gak berenergi seperti sekarang ini. Padahal aku sudah bilang tak apa, jangan pedulikan aku.


“Lucy!”


“Hmm,” sahutnya lesu.


“Aku benaran gak apa-apa kok, hari ini kamu lihat sendiri, kan aku happy-happy aja.”


“Pokoknya aku mau nemenin kamu, titik! aku juga udah bilang ke Fakri kalau hari ini jangan ada SMS atau chatting dulu.”


“Ya Allah, aku baru tahu kalau temanku yang bernama Lucy lebay banget ya?!” ejekku. “Hahaha ...” imbuhku terkekeh-kekeh.


“Bomat!! siapa suruh juga temannya nyakitin kamu!!” balasnya merasa kesal.


“Memangnya kamu gak takut Fakri chatting atau telepon sama cewek lain?” ujarku menakut-nakuti Lucy.


“Enggak! kamu tenang aja, kalau sahabat kamu yang cantik ini aman ditangannya,” ucapnya dengan bangga.


Yah, aku rasa juga begitu. Fakri, kan orang yang amat sangat cuek dan dingin sama cewek.


Aku kembali fokus dengan bukuku, sedangkan Lucy sekarang tengah beralih untuk bersiap membuat konten.


Denting jam berdetak, waktu terus berjalan. Jarum detik, menit dan jam, kini telah menunjukan pukul 22:59:48 detik.

__ADS_1


Tanpa terasa, dari ba'da Isya' aku dan Lucy terus mengejar mimpi kami. Dan saat ini waktunya kita untuk rehat, terlebih besok hari Senin dan masuk kuliah.


Aku beranjak bangkit dari kursi meja belajar menuju kasur nang muat untuk dua orang, yang tingginya hanya sejengkal.


“Luc, kamu gak tidur?” tanyaku menatap Lucy nan masih sibuk memeriksa hasil kontennya.


“Nanti habis ini, Put. Kamu duluan aja.”


“Oh, ya udah.”


Nayamku mengerjap, hanya ada kegelapan saat lanjamku tertutup. Volume video Lucy yang hanya ia setel kecil perlahan masuk kegendnag telinga, berpadu dengan suara denting jam.


Aku mulai hilang kesadaran dan masuk ke dunia mimpiku. Waktu ini, aku tak tahu apakah Lucy udah tidur atau belum.


...***...


Pagi menyapa, aku telah bersiap untuk berangkat kuliah. Namun sohibku seperti kelelahan, bahkan saat subuhan tadi pun ia seperti mayat hidup.


Dan kini masih terlelap molor diatas kasur. Jika aku tak ingat ini hari Senin dan jam menunjukkan era setengah tujuh, akupun tak akan tega membangunkannya.


“Luc!! Lucy!! bangun, Luc!! udah siang!!”


“Heemmm, jam berapa sekarang?”


“Jam sembilan.”


“Apa?!” Lucy tersentak terperangah terlonjak.


Aku melihat sikapnya hanya bisa mematung di tepat, padahal aku sudah mau tertawa tapi reaksinya malah di luar dugaan ku.


“Lucy!”


“Kok kamu malah tidur lagi sih?”


“Ya, kan udah jam sembilan? mau berangkat juga gak mungkin, kan? udah telat gini jadi mending tidur lagi aja!” jelasnya.


“Bentar ... kok kamu masih di sini, Put? kamu gak kuliah?” tanyanya yang masih enggan membuka mata.


Aku menghela nafas. “Mending kamu bangan dan liat sendiri tuh jam dinding ngasih tau pukul berapa,” titahku.


“Emang jam berapa sih?” Lucy melengos membuka netranya.


Ia menatap benda yang melingkar diatas tembok dengan jarum-jarum di tengahnya berputar berkeliling. “Putri!!” pekiknya.


“Daripada teriak-teriak mending sekarang kamu segera siap-siap, kan belum terlambat untuk pergi ke kampus, hehe.”


Lucy bangun dari tempat tidur, dengan ekspresi kesal dan manyun nya ia berjalan keluar ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Lucy tuntas dengan dandanan make up nang natural. Serta outfit yang cocok dengan cuaca hari ini nan begitu cerah.


“Hari ini kamu mau berangkat sama kak Dinar?” tanyaku.


“Nggak! hari ini aku naik ojol, dan udah pesan juga pas balik dari kamar mandi,” balasnya.


“Ooh, kalau gitu bentar lagi dong sampainya?”

__ADS_1


“Sepertinya iya, soalnya aku belum cek ponselku.”


“Tapi kenapa gak berangkat bareng Fakri aja, kan hemat ongkos!” tuturku.


“Iya juga ya? kenapa kamu baru kasih solusi sekarang? mana mas ojolnya udah sampai belokan lagi!” gerutunya. “Oh ya? kamu gimana, Put?” imbuhnya.


“Gimana apanya?”


“Berangkat hari ini, kan kamu biasanya sama kak Chika—”


“Apanya yang sama Chika? Putri sama aku juga kali,” sergah kak Mala yang sudah berdiri didepan pintu masuk.


Aku dan Lucy serempak melengos kearahnya. “Kak Mala? masuk aja, Kak!” titahku.


“Memangnya Kak Mala gak berangkat sama kak Chika juga?” tanya Lucy.


“Gak! aku males berangkat sama dia, kamu sendiri gimana?”


“Aku naik ojol,” tuturnya. “Oh! mas ojolnya udah sampai di depan nih? aku duluan ya, Kak, Put!” sambungnya.


“Iya, hati-hati Luc!” ucapku.


Selang beberapa menit setelah kepergian Lucy, aku dan kak Mala pun lekas berangkat ke kampus.


Nan seperti biasa, hanya bermodalkan sepatu sebagai kendaraan, dan kaki berperan sebagai penumpang.


Selama perjalanan menuju kampus, aku mendapatkan sebuah notifikasi dari email nang kukirimkan beberapa hari yang lalu.


📧Kepada : Putri Marsha Canda


Selamat siang!


Kami dari tim penerbit Azzam As Syams sangat senang menerima email dari Anda. Kami sangat tertarik dengan kisah yang anda suguhkan. Namun sangat disayangkan, kami belum bisa menerimanya, karena novel anda belum sesuai dengan kriteria dalam penerbitan kami.


Teruslah semangat menulis! Karena kesempatan selalu mengikuti orang-orang yang rajin berusaha.


Salam, Azkiya.


Lagi dan lagi, mungkin memang saat ini belum rezekinya. Tapi aku gak boleh menyerah, karena inilah salah satu mimpiku, dan aku harus mewujudkannya.


Ya Robb, bantu aku untuk menggapai cita-cita ku.


Gerbang kampus yang hanya tinggal beberapa jengkal terasa berat nan jauh untukku. Membuat ku merasa kehilangan semangat, terlebih saat ini gak ada Elvina yang menyemangatiku.


“Put? kamu kenapa? kok dari tadi ditekut terus?”


“Gak apa-apa kok, Kak!”


“Beneran nih? kalau gak enak badan istirahat di UKS aja,” titahnya. “Apa mau Kak Mala anterin?”


“Hehe ... gak usah Kak, Putri gak kenapa-kenapa kok.” Aku tersenyum. “Terimakasih ya Kak sudah perhatian,” sambungku kembali.


“Udah sepatutnya kita saling perhatian, apalagi kita ini cewek dan sama-sama merantau jauh dari orangtua. Iya, kan?” ujarnya.


“Iya, Kak.”

__ADS_1


Syukurlah, aku bersyukur karena orang-orang di sekitarku begitu peduli.


Terimakasih ya Robb!


__ADS_2