Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 18) Pesan Papa


__ADS_3

Keesokan harinya. Hari Jum'at 20 April 2018 pukul 06:50 WIB.


Disebuah ruangan yang hanya terdapat empat kursi, nang mana satu kursi di hadapan sang pria paruh baya tampak kosong.


Dan di satu sisi terdapat dua wanita berhijab. Mereka sepertinya seorang anak dan ibu. Karena yang satu memakai seragam sekolah, sedangkan yang satunya lagi gamis bercorak warna baby blue.


Kemudian ditengah-tengah mereka terdapat meja yang di atasnya ada secepon nasi goreng, juga beberapa telur dadar dan telur mata sapi.


Saat ini wanita paruh baya yang tak lain adalah mamaku, tengah mengambil sepiring yang berisi telur nang sudah masak.


Mata sapi untuk papa, dan yang didadar mama berikan untukku. Aku sangat gak suka telur yang kuning dan putihnya terpisah. Namun jika itu didadar, aku tak masalah.


Walaupun papa hari ini libur mengajar, aku masih tetap berangkat bareng papa. Bukan karena mau menjenguk Elvina dan gak ada motor.


Tapi, ya! motor papa memang sempat masuk rumah sakit perbengkelan, tapi sudah di ambil sore kemarin.


Dan mulai hari ini sampai lulus, aku akan berangkat pulang sama papa. Ini semua gara-gara kejadian Rabu kemarin.


Papa mengira aku telah melanggar pesannya agar tidak boleh pacaran sampai lulus sekolah. Dan pria itu asal ngejeplak manggil aku Tuan Putri, sehingga membuat papa salah paham.


Selama makan batinku terus menggerutu, “Cowok itu juga benar-benar deh, kalau mau sebut nama ya sebut aja, ngapain pakai minta ijin segala.”


Mengingatnya benar-benar membuatku geram, aku tak habis pikir kalau ada cowok yang bertingkah seperti itu.


“Dan lagi, apa? Tuan Putri? terus dia pangerannya gitu?” umpatku kembali dalam kalbu.


“Kalau lagi makan jangan sambil mengumpat, nanti bisa tersedak!”


Mendengar perkataan itu aku langsung tersedak makanan tanpa memberiku waktu untuk bersiap-siap.


“Ukuk! ukhuk!”


“Astaghfirullah, Putri! ini minum dulu, Nak!”


Mama memberikan secangkir air bening yang dituang saat aku tersedak. Aku langsung meraih dan segera meminumnya.


Mama melirik papa yang sedang memperhatikanku. “Papa nih apa-apaan sih, anak lagi makan kok diomongin yang nggak-nggak!” omel mama.


Papa menghentikan makannya, kini kedua tangan papa merekat menopang dagu dan menatap mama.


“Papa bicara sesuai fakta, jelas banget tuh di mukanya Putri!” Papa menunjuk wajahku dengan bola matanya


Mama melengos menatapku, kemudian bergilir menatap papa. “Hufft!” Mama mengehla dan membuang nafas.

__ADS_1


“Ya sudahlah kalau emang suka gak masalah, namanya perasaan gak bisa diatur, Pah!” Mama melanjutkan kembali sarapannya.


Papa terkesiap menganga karena sangat terkejut. “Mama tahu kalau Putri punya pacar?”


“Bukan pacar, cuma sempat menjalin silaturahmi,” jawab mamaku kembali menyantap nasi goreng.


“Bukan pacar kok punya panggilan sayang!” sindir papa dengan tatapan menusukku.


“Ukhuk! ukhuk!”


Kali ini mama yang tersedak, dan langsung mengambil minum yang papa berikan.


Aku membatin, “Kenapa jadi begini? jelas-jelas yang mama dan papa bahas itu dua orang yang gak sama.”


Sedangkan kedua orangtuaku memiliki prasangka beragam macam. “Jadi papa sudah tahu soal pria Turki itu?” tutur mama dalam hati.


Prasangka papa dalam kalbu, “Ternyata mama juga udah tahu soal pria itu? bisa-bisanya mama sembunyikan hal ini dari suaminya.”


Akhirnya kita sarapan dengan pendapat dan praduga masing-masing.


Selang beberapa menit aku dan papa sudah selesai sarapan, kini waktunya papa jagain aku sampai sekolah.


...***...


Suasana dikantin tampak longgar, karena sekarang hari jum'at dan waktu istirahat pun menjadi lebih awal. Dan antrianpun gak terlalu panjang seperti hari biasanya.


“Put! akun kamu udah gak aktif lagi, ya!”


“Iya. Emangnya kenapa, Mir?” Aku menghentikan aktifitas makanku.


“Aku chat kamu mau tanya soal Matematika tapi on sejak empat hari lalu.”


Semenjak kabar ia dijodohkan aku memang tak lagi membuka ataupun mengecek sosial mediaku.


Untuk sekarang aku hanya menerima pesan dan panggilan saja, walau hanya teman dekat dan keluarga yang tahu nomorku.


“Aku memang udah jarang main Instagram, tapi kamu bisa tanya lewat WhatsApp saja.”


“Masalahnya aku ganti handphone, dan gak sempat salin nomor kalian jadi gak bisa hubungin siapapun.”


“Lah, tadi pagi aku WA ke nomor kamu masuk kok.”


“Iya, Luc. Tapi ceklist satu, kan?”

__ADS_1


“Iya sih, kamu ganti nomor juga?”


“Ya iyalah, kan nomor WA-ku itu udah gak ada kartunya, aku pun lupa ganti ke nomor baru, dan keburu ditukar dulu tuh HP.” Mira mengambil bolpoin yang menggantung disaku bajunya.


Imbunya, “Sini, bagi nomor kalian.” Kini mengeluarkan secarik kertas dari yang sudah dilipat menjadi empat.


Lucy pun mengambil kertas dan bolpoin Mira untuk segera mencatat nomornya. Kemudian bergilir ke Nia dan aku.


Aku hanya punya satu nomor, sedangkan Lucy tiga nomor, yang satu nomor WA, satu lagi khusus telpon dan sms, satunya lagi khusus kuota internet.


Dan Nia hanya dua nomor. Satu nomor WA yang masih aktif kartunya, juga satunya lagi sama seperti Lucy, kartu internet.


...***...


Aku tengah mencari set rok yang Elvina pesan kemarin, entah dimana dia menaruhnya. Aku cuma berhasil menemukan rok batiknya saja.


“Mah! baju yang setelan dengan ini dimana?” Aku menjembreng rok batik itu.


Mama melengos. “Ada dilemari.”


“Putri udah cari tapi gak nemu, Mah!”


“Carinya satu-satu dong jangan di sibak-sibak doang.” Mama berjalan masuk menghampiriku.


Kini mamaku mulai memunguti satu persatu baju Elvina yang menumpuk rapih didalam lemari. Rupanya baju itu menyelinap ditengah-tengah tumpukan.


“Emang mau buat apa, Put?” Memberikan bajunya.


Aku menerimanya. “Katanya buat besok hari kartinian.” imbuhku.


“Oh! besok udah tanggal duapuluh satu April, ya?”


“Nggih, Mah.” Aku melipat kembali rok batik yang tadi aku jembreng.


Sebenarnya papa bisa saja menjenguk Elvina karena pondoknya pun libur, gak ada kegiatan mengaji. Tapi Elvina sama sepertiku, sekolahnya libur dihari Ahad.


Hingga papa dan mama memutuskan untuk menjenguk Elvina setelah aku pulang sekolah.


Namun hari ini aku gak ikut, karena beberapa detik lalu kedatangan tamu dari tanah abang membuat perutku nyeri sakit.


“Kalau gitu Mama sama papa jenguk Elvin dulu ya! kunci rumah yang benar, dan jangan minum air es dulu.” Pesan mamaku.


“Iya, Mah.”

__ADS_1


Aku langsung mengunci rapat semua pintu dan jendela selepas mama dan papa pergi. Rasanya benar-benar MaaShaa Allah sekali.


Kini aku langsung menuju kamar dan berbaring sebentar, dengan bantal dan guling aku taruh diatas perutku sebagai ganjalan.


__ADS_2