
Durasi berkeliling dengan gesit nya, tanpa terasa jam pulang usai menyapa. Aku, Fakri, dan Viona, tengah berjalan menuju tempat parkir.
“Kalau lu gak jadi pulang sama Putri aku nebeng ya?” ujar Fakri.
“Enak aja! gak ya! dahlah aku pergi duluan ya takut Putri kelamaan nunggu!”
Aku langsung cus ninggalin Viona dan Fakri. Jika mereka berdua tahu kalau Putri nolak pulbar, pasti aku akan habis diledek sama mereka, khususnya si Viona.
“Emang si Putri seriusan mau dijemput sama Firuz?” tanya Viona yang masih menatap punggungku nang sudah jauh beberapa meter darinya.
“Kalau menurutku sih kayaknya gak. Tapi bisa juga, kan mereka dah pacaran, jadi si Putri gak enak jika nolak Firuz terus.”
“Emang Firuz sering ditolak sama Putri?” tanyanya kembali.
“Bukan sering, tapi udah jadi hobinya,” ejek Fakri yang menghibahiku.
Viona mulai penasaran. “Biasanya Putri nolak soal apa?”
“Yang aku dengar dari curahan hati sohibku itu, tiap kali dia ngajak jalan atau dia main kerumahnya. Juga video call, katanya Putri malu kalau tatapan muka gitu,” beber Fakri.
“Jadi mereka cuma pacaran lewat sms juga telpon aja?”
“Kayaknya sih gitu, maklumlah si Putri, kan syar'i banget.”
Viona tersentak kaget, pasalnya Firuz bukan tipe orang yang kalau pacaran bisa tahan dengan sms atau telpon saja. Tapi Putri? dia bisa membuat Firuz sabar dan bertahan hanya dengan dua mode.
Sikap dan sifat sang mantan yang berubah, membuat Viona semakin takut akan kehilangan Firuz yang dulu. Hatinya kini tengah panas, kalbunya dipenuhi kecemburuan.
“Syar'i kok pacaran!” tukas Viona dengan ketusnya.
Fakri menilik. “Kenapa lu? cemburu ya?”
“Gak, ngapain juga cemburu sama cewek yang sok alim tapi munafik,” ujarnya penuh dengan kebencian terhadap Putri.
Sementara itu, ditempat parkiran. Tampak seorang pemuda tengah melamun, atau mungkin ia sedang berpikir keras.
Semenjak kelulusan, hubunganku dengan Putri sudah mau sebulan. Namun jika ada acara anniversary jadian sebulan pasti Putri akan menolak dengan tegas.
Baiknya aku kasih kejutan apa nggak ya? tapi kalau Putri ngambek gimana? aku masih belum tahu tentang Putri?
Mungkin sebaiknya gak aku lakukan! tapi ... aku ingin jadi pacar yang romantis untuknya! sudahlah, aku pikirkan nanti aja.
Tringg! langsung muncul lampu 5 watt yang menyala diatas kepala, ide pun keluar, hehe.
“Oh ya! aku tanya ke Mira aja. Mereka berdua, kan berteman baik!” Aku segera mengeluarkan disaku celana dan menelpon Mira.
Tek!
📞“Hallo! kenapa, Ruz?”
“Aku mau kasih kejutan buat anniversaryku sama Putri, kira-kira Putri suka sama yang gituan gak?”
📞“Kalau itu sih kayaknya gak masalah, asal jangan setiap bulan.”
“Memang kenapa?”
📞“Putri kurang suka sama aktifitas yang membuang waktu, apalagi anniversary juga gak ada dalam islam.”
__ADS_1
Aku terdiam sejenak.
Ya juga sih! tunggu ... membuang waktu? pacaran termasuk gak ya?
📞“Emang kalian udah ada sebulan?”
“....”
📞 “Woi! Virus!”
“Ya kenapa?”
📞“Kamu sama Putri emang udah genap sebulan?”
“Belum, masih seminggu lagi.”
...***...
“Dari siapa?” tanya seorang pria disebelahnya yang tengah menyentir.
“Firuz,” bisik Mira.
📞“Lu lagi sama Jhoo?”
“Ya betul, apa kamu sekalian mau konsultasi sama Jhoo juga?”
📞“Nanti ajalah pas di base camp. Kalau gitu aku tutup ya? btw makasih sarannya.”
...***...
📞“Oh ... ya udah, sama-sama.”
Panggilan berakhir.
Sementara itu, dalam jarak kurang dari lima meter, dua orang tengah menatap kearahku.
“Itu bukannya si Firuz!” ujar Fakri melihat parkiran motor.
Fakri melengos menatap Viona, namun ia telah melesat berlari menghampiriku. “Gesit banget tuh cewek.” Pandangannya kembali melihat ke parkiran.
“Dor!”
Viona memukul kedua pundakku, membuat aku terlonjak kaget dan gak bisa lari darinya.
Mampus! bisa-bisa dapat pertanyaan beruntun nih!
“Putri lagi ada urusan ya? makanya lu masih bengong di sini?” tanya Viona dengan muka polosnya.
“Haha ... iya, kok lu tahu bulat sih?”
Sambil canggung aku merekatkan tali pengaitnya. Setelah usai, aku langsung duduk di jok depan dan menyalakan stater motor dilanku.
“Kalau gitu anterin aku pulang yok! aku bawa uang sakunya pas-pasan cuma buat jajan aja.”
“Seorang Viona? uang sakunya cuma pas buat jajan doang? masa sih?” ledek Fakri berjalan menghampiri kita.
Viona mengabaikan sohib kita, dan ia langsung naik ke jok belakang tanpa persetujuan dariku. Tapi ya udahlah, kali ini akupun gak mau adu mulut dengannya.
“Udah yuk kita jalan, abaikan aja si jomblo ini!”
__ADS_1
“Bukannya lu juga sama?” balas Fakri.
Motor kita melaju meninggalkan Fakri yang masih menatap laju motorku.
“Entah apa yang dipikirkan si Firuz, bisa-bisanya masih patuh sama Viona,” gumamnya menggelengkan kepala dengan pelan.
“Daripada mikirin mereka berdua mending aku juga pulang,” ujar Fakri kembali dan berjalan menghampiri motor matik nya.
...***...
Beberapa menit berlalu. Dikosan khusus cewek dengan pintu nomor tujuh. Tampak dua penghuni tengah berujar.
Seorang wanita duduk dilantai dengan hijab yang masih lengkap. Serta tangan nang sibuk membolak-balik buku, dan satu wanita lagi, ia adalah pemilik lensa abu yang sedang duduk di kursi.
“Gimana dengan hari ini, Put? apa ada hal yang menyenangkan?” tanya wanita itu memanggil perempuan berhijab dengan nama Putri.
Aku mengingat kejadian dengan pria asing itu. “Gak ada!” sahutku tanpa ekspresi. “Kalau kamu, Luc?”
“....”
Lucy diam tanpa kata. Aku melirik menatapnya, dia seperti sedang memikirkan sesuatu. “Apa ada hal yang terjadi juga di kampusnya?” ucapku dalam hati.
Aku memanggilnya, “Lucy!”
Ia tersentak dan tersadar dari lamunannya. “Ya!”
“Kamu kenapa? kok tiba-tiba bengong gitu?”
Lucy menopang tangan kanannya, dan tampak ragu untuk bercerita.
Selang beberapa menit, Lucy memulai obrolan dengan bertanya padaku, “Menurut kamu ... apa Fakri udah berubah?”
“Fakri?” Aku meletakan bukuku di atas kasur yang berada di belakangku. “Maksudmu?” imbuhku lagi.
“Tadi pas pulang ....”
Lucy mulai berkisah. Satu jam yang lalu, saat ia tengah menunggu kakak senior nang masih ada urusan, mendadak Fakri berhenti di depan kampus Lucy.
“Ayo naik,” ujarnya tanpa basa-basi langsung memberi Lucy tumpangan.
“Kok kamu bisa ada disini?”
“Mau naik apa nggak?” tanyanya dengan nada yang masih dingin, namun sudah ada secuil kehangatan.
“Iya mau!”
Lucy langsung menghampiri Fakri dan hendak naik, namun ia tiba-tiba teringat tentang kakak seniornya.
“Oh ya, gak jadi deh, soalnya aku udah janji mau pulang sama seniorku.”
Fakri langsung pergi melesat meninggalkan Lucy. Cerita pun usai.
“Kayaknya dia udah mulai terbuka ya?” responku untuk kisah yang Lucy beberkan.
“Tapi ya masa dia cuma jawab 'oh' doang! terus udah gitu langsung pergi!” timpal Lucy cemberut sebelah.
“Memangnya kamu ngarepin respon kayak gimana dari Fakri?” tanyaku. “Bukankah Fakri memang orang yang dingin?” lanjut ku.
__ADS_1
Sama seperti cowok Turki itu!
“Kamu kenapa? kok malah mukamu yang ditekuk gitu?” tanya Lucy.