Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 9) Kabar Nathan


__ADS_3

Hatiku tersayat, entah apa maksud dari semua ini. Awal dari postingan, nama, foto profil, seakan ini respon yang memandu kalau mereka memang pacaran.


Beberapa saat kemudian, akun itu sekarang selesai membalas chatku.


📱“Bukan.”


Membaca pesannya membuat qolbuku merayap perih, rasanya seperti terkoyak. Sebentuk penantian yang memberi sayatan, dan berujung tergores jua.


“Kalau bukan ... apakah sekarang yang sedang aktif ini Cyr—” batinku belum tamat berucap, namun sudah di sergah oleh sahutannya yang membuatku semakin tanda tanya.


📱“Aku Vira,” protesnya.


📱“Kamu kok bisa kenal Nathan, emang kalian kenal di mana?” pesannya lagi.


“Lewat instagram,” imbalku. Sebuah respon yang kesekian kali kujawab, karena memang itu faktanya.


📱“Kamu siapanya dia?”


“Temannya,” sambutku to the point. Serius, aku harus menanggapinya gimana? toh, aku real bukan siapa-siapanya dia.


Lanjutku, “Kamu tahu gak, kabarnya kak Nathan gimana? apa dia baik-baik saja?”


📱“Dia sakit, dan sampai di bawa ke rumah sakit. Minta doanya ya agar dia cepat sembuh.”


“Innalillahi, jadi selama ini dia gak ada kabar karena sakit?” batinku tersentak.


Hujan! saluran air mataku meluncur dengan deras seperti rain, hatiku berserang lara mengetahui informasinya.


Nyeri di hatiku karena cemburu sirna begitu saja, lesak oleh kabar tentang dirinya. Perih, sungguh sangat perih! hatiku tersayat, teriris, tercabik-cabik.


Aku bertanya pada sosok gadis yang tersembunyi di balik akun itu. “Kalau boleh tahu, dia sakit apa?” isakku tertahan.


📱“Aku juga gak tahu.”


Ternyata ia juga tak tahu. Aku mulai bercakap-cakap pada diriku sendiri. “Sebetulnya ia sakit apa? kenapa sampai masuk rumah sakit? apa sakitnya sangat serius?”


Namun tidak jua kujumpai jawabannya. Semasih kita chattingan, kak Nathan memang tak pernah bersua tentang penyakitnya.


Kita kerap melontarkan pertanyaan dan perhatian penuh kasih, tapi tak pernah terpintas tentang sakitnya. Tiba-tiba aku teringat dengan sepupunya.


“Oh ya! kak Gilang! dia, kan sepupunya kak Nathan. Barangkali ia tahu kak Nathan sakit apa.”


Aku melacak namanya di kolom pencarian chat agar lebih cepat. Akun bernama 9ilang.anggar4 itupun berada di peringkat paling atas.


Sebenarnya sejak masa itu aku rada canggung padanya. Sorot balik sebelum aku menyuarakan perasaanku pada kak Nathan.


📱“Kalo misalnya kamu kenal aku duluan, apa kamu bakal suka sama aku?”


“Meski aku kenalnya Kak Gilang duluan, gak akan ada yang berubah. Karena kak Nathan dan Kak Gilang, kan 2 orang yang berbeda.”


Retrospeksi end.

__ADS_1


Setelah itu aku dan dia lost contact. Kak Gilang sudah gak pernah chat lagi, akupun gitu.


Aku juga bukan tipe orang yang akan berucap duluan. Kecuali jika itu hal darurat dan penting.


Lagipula, aku gak punya banyak topik yang harus di bicarakan. Tapi aneh juga sih, kenapa kalau sama kak Nathan aku jadi berbeda. Seperti ada 2 orang dalam diriku.


Atau, memang itulah diriku yang sebenarnya? saat hanya dengan kak Nathan, semua sifat kekanak-kanakanku muncul.


Aku juga gak menyangka kalau aku akan seberani dan gak tahu malu mengungkapkan perasaanku lebih dulu, walau gak tatap muka tetap saja.


Setelah mengingat perkataan kak Gilang, aku melamun sejenak memikirkan masa lampau.


“Tapi, benar juga sih. Jika yang aku lihat di postingan Fakri itu kak Gilang, apa aku juga akan suka padanya? tapi kak Nathan emang memberi aura yang berbeda sih,” racau batinku berceloteh.


“Mungkin aku juga akan suka, tapi hanya sebatas kagum jika itu orang lain. Astaga! aku sampai lupa tujuanku menghubunginya,” batinku tersentak dan hampir saja khilaf.


Aku memulai obrolan chat dengan salam seperti biasanya, dan kebetulan sekali akunnya kak Gilang sedang online.


“Assalamu'alaikum, Kak.“


“Apa Kak Gilang tahu kalau kak Nathan masuk rumah sakit?” lanjutku.


Kak Gilang masih tampak setia pada akunnya, namun pesanku masih belum jua ia sentuh. Dan aku menyesal menanyakan pertanyaan yang sudah pasti, hiks!


Gerundelku dalam hati, “Pertanyaan macam apa itu, Put? jelas kak Gilang pasti tahu, orang dia sepupunya.”


Aku baru tahu, kalo aku memang gak berbakat untuk membuka topik obrolan. Haishh! ponselku berdenting setelah membisu beberapa menit.


📱“Iya, aku tahu. Kamu tahu Nathan masuk rumah sakit dari siapa?”


“Dari Vira, Kak.”


“Kalau boleh tahu, emang kak Nathan sakit apa, Kak?” lanjutku menanyakan tujuan utamaku menghubunginya.


📱“Aku juga gak tahu, tapi kata dokter dia kebanyakan darah putih daripada darah merah.”


Sebelum membalasnya, aku mencari tahu nama penyakitnya di mbah google.


Ibu jariku mengetik keyboard ponsel, penyakit apa yang kebanyakan sel darah putih daripada sel darah merah.


Aku menemukannya, nama penyakit itu adalah Leukemia atau Leukositosis. Aku kembali membalas pesan kak Gilang untuk memastikan.


“Apa nama penyakitnya Leukemia.”


📱“Gak tahu.”


“Aku cari di internet kalau kelebihan sel darah putih nama penyakitnya itu.”


📱“Mungkin iya, soalnya susah banget namanya.”


Selepas itu, aku kembali melihat penjelasannya dan membuka artikel yang paling atas.

__ADS_1


Leukemia adalah kondisi kesehatan ketika tubuh terlalu banyak memproduksi sel darah putih atau disebut juga leukosit yang abnormal. Dan dapat di alami oleh anak-anak maupun orang dewasa. [1]


Aku kembali membaca artikel di bawahnya, sama seperti penjelasan pada artikel sebelumnya.


Leukosit tinggi atau Leukositosis adalah kondisi ketika jumlah sel darah putih terlalu banyak. Leukosit atau sel darah putih, berperan melindungi diri dari infeksi dan penyakit. Saat tubuh terserang penyakit, kadar leukosit akan meningkat sebagai respon terhadap penyakit tersebut. Leukosit tinggi umumnya di tandai dengan demam, tubuh terasa letih atau lelah, berkeringat pada malam hari, lebih mudah mengalami memar dan pendarahan, BB turun drastis, sesak nafas, gatal-gatal dan ruam di kulit. [2]


Batinku tersentak saat bola mataku sampai pada kondisi yang membuat leukosit tinggi. Lensa mataku menangkap kata alergi dan stres.


Kata stres langsung membulat dalam pikiranku. Kata-katanya sekejap menjadi bold. Seketika aku menyalahkan diriku sendiri.


“Apa?! jadi selama ini ... apa gara-gara aku dia jadi makin drop?” batinku menarik kesimpulan sendiri.


“Ah! ya juga sih, tugas di pondok lebih banyak di banding pekerjaan rumah di sekolah. Belum lagi ia harus menghafal karena pondok pesantrennya Tahfidzul Qur'an,” gumamku dalam hati.


“Dan aku malah menambah beban pikirannya bertambah. Seharusnya kutahan saja, kenapa malah terpancing oleh bisikan syaithon yang terkutuk,” lanjutku membatin.


Nada dering dari benda kerdil itu memecahkan lamunanku. Ternyata adik tercintaku, Elvina Umaiza. Aku menjawab panggilan telponnya di awali dengan salam.


“Assalamu'alaikum. Kenapa, Vin?”


📞“Wa'alaikumussalam warohmatullah. Teh, nanti besok kalau mau jenguk sekalian bawa ponselnya Vina, ya!” tutur adikku di seberang ponsel sana.


“Lho! emang mau buat apa toh, Dek?” tanyaku merasa bingung.


📞“Buat kerjain tugas sekolah, Teh.”


“Oh, ya udah. Ada lagi nggak?” ujarku memastikan.


📞“Emm ... bentar, Teh. Vina ingat-ingat dulu.”


Selang beberapa menit. “Oh, ya! beliin Vina kitab jurumiyah ya, Teh. Soalnya Vina besok udah mau khataman kitab kuning.”


“Alhamdulillah. Tapi, emangnya di pondak kamu gak ada? bukannya di dalam pondok juga ada, ya?”


📞“Ya ada, Teh. Tapi sekarang stoknya lagi kosong, dua hari baru ready.” papar Vina diseberang ponsel.


“Oh, ya udah.”


📞“Iya, Teh. Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumussalam warohmatullahi wabarokaatuh.”


...Tuuuuuuttt~ panggilan berakhir....


_________________________________________


Sumber :


[1] https://www.mitrakeluarga.com/artikel/artikel-kesehatan/leukemia\#:~:text\=Leukemia%20adalah%20kondisi%20kesehatan%20ketika,disebut%20juga%20leukosit%20yang%20abnormal.


[2] https://www.alodokter.com/leukositosis

__ADS_1


__ADS_2