Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 15) Bergosip


__ADS_3

Teng tong!


Teng tong!


Bel sekolah telah melakukan tugasnya. Yang dimulai dengan pelajaran pertama yaitu Akuntansi, hitung-hitungan yang sangat rumit.


Saat fokus kutertuju pada papan tulis dan bu Mely yang sedang menerangkan, ekor mataku menangkap sosok yang tengah mengintai kedalam kelas.


Aku melongok. “Pria itu ... jadi dia sekolah di sini juga?” gumamku.


Pria yang membuat kesalahpahaman dan keributan terjadi disekitar ku, saat ini ia sedang menempelkan wajah rectangle-nya pada jendela kaca kelas.


Entah siapa yang sedang ia cari, pandangannya sibuk berpusar mencagari kelasku.


Deg!


Orakel kita bertemu, ia smirk menatapku dan aku langsung melengos kembali memperhatikan pelajaran.


Pikiranku ambyar. Semenjak aku tertangkap basah memperhatikannya, dia tak jua mengalihkan pandangannya dariku.


“Bukankah kata Nia ... cowok itu badge nama sekolahnya bukan asal sini? kok dia juga bisa masuk kedalam sekolah?” gumamku dalam hati merasa heran.


Kehadirannya begitu mencolok dan mengganggu siswa/i yang lainnya. Sampai bu Mely turun tangan dan menghentikan aktifitas mengajarnya.


Bu Mely langsung ke luar kelas menegur siswa itu agar kembali ke kelasnya. Namun saat dia berbalik pergi, tampaknya bu Mely menyadari badge nama sekolah dia yang berbeda dengan sekolah ini.


Tanpa menunggu lama, bu Mely langsung menarik pria itu dan membawanya ke ruang guru.


Teng tong!


Teng tong!


Sampai bel pelajaran kedua, bu Mely belum juga balik dari ruang guru. Dan bukunya pun dibereskan oleh ketua kelas lalu diantar kembali pada bu Mely.


Kini pelajaran berganti menjadi pelajaran Bahasa Inggris, sepintar apapun aku dimata pelajaran hitung-hitungan, aku sangat lemah dalam mata pelajaran yang satu ini.


Sedangkan Lucy, justru sebaliknya. Ia sangat pandai berbahasa Inggris. Konon kata Lucy kakeknya adalah orang Coventry. Sebuah kota dan distrik metropolitan di West Midlands, Inggris.


Mungkin wajah Lucy yang agak kebulean ini menurun dari kakeknya? bola matanya juga tampak warna abu-abu.


Beberapa jam berlalu, saat ini bel istirahat sudah berbunyi beberapa menit lalu. Aku dan teman-temanku juga tengah menyantap makanan kantin yang telah kita pesan.


“Put!” Nia menampar pundakku agak kasar dan hampir membuatku tersedak.


“Astaghfirullah ...” ucapku lirih mengelus dada. “Ada apa, Nia?” imbuhku melengos kearahnya.


“Bukannya itu cowok yang tadi pagi, ya?” tunjuk Nia melongok ke arah siswa yang pakaian seragamnya begitu mencolok.

__ADS_1


Bagaimana tidak? dia mengenakan seragam putih abu, sedangkan kita memakai batik. Ditambah badge nama sekolahnya, walaupun dari jauh tak nampak.


Arah fokus kutertuju diujung jari telunjuk Nia, rupanya cowok itu masih belum pergi dari sini. Dan ia sedang mengobrol bersama seseorang dari sekolah kita.


“Cowok itu lagi ngobrol sama Fakri? jadi mereka saling kenal? pantas saja dia celingak-celinguk di kelasku.” cerocos batinku.


“Ngomong-ngomong ... ngapain dia ada di sini?” imbuh Nia dengan pandangan yang tak lepas dari siswa itu.


“Gak tahu.” Aku kembali mengalihkan pandangan dan melanjutkan makan siang ku.


“Berarti tuh cowok sekolah di sini! lu salah ngeramal, Nia!” kecam Mira tak memperdulikan sosok itu dan malah sibuk menyantap nasi padang miliknya.


Nia langsung melengos beralih menatap Mira. “Siapa juga yang lagi ngeramal?! aku tuh cuma menyampaikan pendapatku!” bantahnya.


Mira tampak tak peduli dengan pendapat Nia dan melanjutkan makannya. Nia yang melihat itu, sungguh dibuat geram olehnya.


“Tapi kok ... aku gak pernah liat tuh cowok, ya?” tutur Lucy yang ikut memperhatikan pria itu.


Mira menjeda hidangannya. “Emang setiap cowok di sekolah ini harus kenal sama kamu, Luc?!” celetuk Mira memberi tatapan sinis.


Lucy berdecak kesal, “Ck!”


Aku gak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Lucy dan Mira. Padahal hubungan mereka dulu baik-baik saja.


Tapi semenjak kelas dua, Lucy dan Mira semakin renggang dan tampak jelas tidak nyaman.


Daripada suasana diantara mereka berdua semakin panas dan terpancing. Aku langsung bertanya pada Lucy.


“Emang waktu kelas bu Mely kamu gak lihat, Luc?”


Lucy melihat kearahku dengan terkejut dan penasaran. “Hah?! kelas bu Mely?”


“Iya.” Aku mengangguk pelan.


“Memangnya dia datang ke kelas kita?”


“Ya! dia celingak celinguk dan itu membuat semua siswa/i terganggu, makanya bu Mely langsung seret dia,” beberku.


“Aku gak tahu, soalnya pelajaran bu Mely selalu bikin aku molor, hehe,” terang Lucy cengengesan.


“Jadi benaran dia ngintip kedalam kelas kita?” sambungnya kembali.


Jawabku dengan anggukan kepala, karena mulutku masih penuh makanan.


“Jangan-jangan ... dia cari kamu, Put!” goda Lucy mulai jahil.


Aku memutarkan bola mataku. “Lihat baik-baik, sekarang dia lagi ngobrol sama siapa?” terangku tanpa menunjuk kearahnya.

__ADS_1


“Oh ... itu, kan Fakri?” jelas Lucy.


Mira dan Nia serempak mengatakan, “Fakri si model itu?” Kini tatapan mereka kompak menilik wajah Fakri dan teman ngobrolnya.


“Sepertinya tuh cowok temannya si Fakri,” tutur Mira tanpa mengalihkan pandangannya.


Sedangkan aku menjadi penasaran tentang Fakri setelah melihat ekspresi Nia dan Mira. Apa dia memang seterkenal itu? sampai Mira dan Nia yang anak Fisika juga tahu?!


“Kalian tahu kalau dia model?”


Tatapan Mira beringsut kearahku. “Siapa? Fakri?”


“Iya,” jawabku singkat.


“Tahulah!” tukasnya penuh percaya diri. “Memangnya kamu gak tahu, Put!” sambungnya lagi.


“Ta—”


“Jangan bilang kalau kamu tahunya waktu ulangan harian itu?” tukas Lucy memotong ucapan ku.


“Hah?! serius?! kamu gak tahu, Put?!” pekik Nia dan Mira kembali kompak.


Kedua bola mata temanku terbelalak tak percaya mendengar perkataan Lucy. Dan teriakan mereka terdengar sampai kearah meja dimana Fakri dan temannya sedang berbincang.


“Mereka serius banget, jangan-jangan lagi gosipin lu?”


Fakri tak menggubrisnya dan malah memilih bermain Mobile Legend di ponselnya yang diam-diam ia bawa kesekolah.


“Btw, cewek yang duduk sama lu itu udah ada yang punya belum?”


“Udah!” jawaban asal tanggap.


“Keliatan sih, mana alim gitu terus pendiam, pasti banyak yang ngincar untuk jadi pacarnya.” Fokusnya masih menilik ke arahku.


“Kenapa aku merasa dia lagi ngeliat ke arahku, ya?” batinku mulai tak nyaman.


“Tapi gak mungkin sih, paling dia kepincut sama Lucy atau Nia,” imbuhku dalam hati.


Beberapa menit kemudian, bel istirahat telah usai sedari tadi, dan pelajaran Bahasa Indonesia pun tengah berlangsung.


...***...


Aku tengah berdiri didepan gerbang sekolahku karena menunggu papa yang juga belum datang. Sedangkan Lucy ikut menemaniku.


Kalau Mira dan Nia sudah dijemput oleh sepupu mereka. Meski Mira dan Nia menawariku untuk gayor, tapi aku tak enak hati.


Apalagi nanti bisa-bisa selisih jalan sama papa. Entah mengapa papa belum juga pulang. Padahal sekolah MI biasanya selesai lebih awal dibanding SMA.

__ADS_1


Papaku memang seorang guru di Madrasah Ibtidaiyah. Dan, di sana papa mengajar PAI juga Matematika.


__ADS_2