Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 27) Taman Bermain


__ADS_3

“Tapi, kan fakta! Putri itu berhijab, dan dia juga terjaga. Nah, lu?” ucapku ada Viona, wanita yang maksa aku jadi supirnya.


“Jadi namanya Putri?” gumam Viona dalam hati.


“Aku kenapa?” tanyaku pada Firuz.


“Gak deh, nanti kalau aku tafsirkan malah gak terima.”


“Udah buruan jelasin! jangan setengah jalan gitu, pamali!”


“Janji dulu, kalau lu gak bakal ngdumel lagi.” Aku memberikan jari kelingkingku pada Viona, dan dia melilitkan anak jarinya dengan jentikku. “Iya, janji ... jadi aku kenapa?”


“Kamu itu cantik, dan ... maaf ya, selalu berpakaian terbuka, sehingga banyak cowok yang melirik juga mendekati tanpa rasa takut.”


“Termasuk kamu juga, kan?!” tukasnya.


“Itu Firuz yang dulu, semenjak ketemu Putri, lu bukan lagi tipeku. Jadi, mulai sekarang stop ngejar-ngejar aku, oke!”


“Siapa juga yang ngejar-ngejar lu?! pede banget sih!”


“Lah?! terus ngapain lu pagi-pagi udah nongkrong dirumah pakai acara minum teh bareng mommy lagi,” hardikku.


Gak ada respon juga jawaban, Viona hanya diam menatap jalanan. Kebiasaan buruknya cuma itu, tiap kali ditanya malah matung. Giliran dia tanya, harus banget dijawab.


Aku meliriknya beberapa detik, lalu fokus ke jalan lagi. “Jangan-jangan lu masih belum move on ya?” imbuhku.


“Iya! aku gak bisa move dari lu! apa lu mau balikan lagi sama aku?!”


Deg!


Denyut jantungku jadi gak menentu, mengapa aku menjadi berdebar gini? jelas-jelas akupun sudah gak ada rasa sama dia. Ini semua gara-gara Viona yang asal ngjeplak.


“Haha ... sorry-sorry nih ya! dalam kamusku gak ada kata balikan sama mantan.”


Apa-apaan sih ini cewek? dia gila ya? jelas-jelas dia sendiri yang mutusin, malah ngajak balikan segala? pokoknya aku harus tetap tenang!


Keheningan pun terjadi selepas itu Viona tak lagi bicara. “Kenapa lu diam aja? lu gak lagi molor, kan?” Aku menilik Viona. Ternyata dia sudah tenggelam dalam mimpinya.


“Ck! Viona-Viona, bisa-bisanya ya lu bikin anak orang hampir jantungan,” ujarku dengan lirih.


Tiba-tiba tenggorokanku kering, aku berhenti sebentar diwarung pinggir jalan untuk membeli sebotol air mineral.


“Aku tinggal dulu ya mau beli minum, lu mau nitip kagak?” tawarku sembari membuka seat belt.


Ctik!


Aku menjuling kearahnya, aku lupa kalau ia tengah tertidur. Aku menghembuskan nafas. “Bisa-bisanya aku menawarkan minum sama orang yang lagi molor, pantes aja dia diam dan gak jawab.”


Akupun turun dari mobil meninggalkan Viona yang masih lelap tertidur.

__ADS_1


Aku berjalan ke warung yang berada disamping tempatku memarkirkan mobil. Sekalian akupun beli minum untuknya, khawatir saat bangun tenggorokannya jadi haus.


Sementara itu, Viona yang masih tertidur dalam mobil perlahan membuka matanya, menatapku yang sudah berada di dalam warung.


Sebenarnya aku hanya pura-pura tidur, dan tahu apa yang kamu ucapkan. Hanya ada sesuatu yang tak bisa kuutarakan padamu.


Aku tahu, dalam hatimu masih ada aku, begitupun denganku. Tapi aku tak bisa melanjutkan hubungan kita, karena Ayahku, dia telah menjual diriku.


Viona kembali mengerjapkan matanya saat melihatku usai membeli minum, dan tengah berjalan kearah mobil.


Akhirnya aku benaran beli minuman coffee untuknya. “Apa enaknya sih minum kopi? kok dia suka banget sama minuman ini?” Aku menatap membolak-balik minuman yang kubeli untuk Viona.


Sesampainya di mobil, aku langsung masuk dan meneguk minumanku. Aku terperanjat, nayamku terbelalak, hingga aku menjadi tersedak karenanya.


Viona yang tiba-tiba menitikan lacrima membuatku merasa khawatir.


“Ukhuk ... ukhuk ... Vi! ukhuk ... Viona!” sergahku memanggilnya sangat lantang sampai membuat Viona tersentak.


“Kenapa?” Viona menatapku dengan tatapan heran tak mengerti.


“Kenapa?! lu tuh yang kenapa?!” tukasku.


“Aku?” Viona menunjuk dirinya sendiri.


“Iya! kenapa lu tiba-tiba nangis?”


“Na ... nangis?” Viona menyentuh pipinya.


Deg!


Batinku tersenyum. “Aku tahu kamu masih suka sama aku, terimakasih, Firuz!”


Aku menarik tanganku dan menjembel pipinya seperti anak kecil. “Aku gak kenapa-napa kok! mungkin karena tadi aku habis mimpi sedih, dan tanpa sadar kebawa haru saat bangun.”


Aku tersenyum dihadapan wajah cemas nya. Aku tersentak terbeliak, karena setetes air yang jatuh mengalir menyentuh tanganku.


“Firuz?! kamu nangis?!”


Deg!


Aku langsung melengos dari Viona, dan menyeka lacrimaku. “Ng—nggak kok! kan lu yang nangis?” kilahku kembali menatap jalan setelah menyeka air mataku.


“Oh ya?! jelas-jelas aku liat lho?!” ledek Viona yang tahu kalau aku tengah berbohong.


Dia tersenyum. “Firuz-Firuz! aku tahu betul kamu orang seperti apa? jangan coba-coba berkilah di hadapanku,” ujarnya dalam hati.


Lanjut Viona cengengesan. “Hehe ....”


Aku geram juga malu. “Udah deh, mau lanjut apa nggak?” rengutku.

__ADS_1


“Lanjut dong!”


Aku kembali menjalankan mobilku. Akupun tak mengerti kenapa dia melow begitu, yang pasti itu bukan mimpi. Jika karena mimpi, Viona pasti akan bicara terus menerus dan mengisahkan padaku.


Sementara itu ....



Siang ini aku memulai menulis kembali, kendatipun otakku sudah bersarang rumah laba-laba, tapi aku harus memutar kembali porosnya agar bisa menemukan ide yang lebih baik lagi.


Dalam kamar yang sunyi, hanya ada lantunan sholawat badar mengisi kekosongan. Aku mulai berpikir, menulis satu perkata hingga membuahkan satu kalimat, satu paragraf.


Tek!


Aku meletakan pensil ku dengan agak kasar diatas meja belajar, otakku mulai buntu, tak kutemukan ide lagi.


“Ayolah lampu, muncul lampu diatas kepala seperti di sinetron-sinetron,” geramku.


Mau memaksa bagaimanapun otakku untuk bekerja keras, tak kutemukan jua ide untuk melanjutkan novelku.


Aku bangkit dari kursi dan berjalan mendekati kursi ku dan duduk di tepinya. Aku menarik laci atas, terdapat benda kecil yang memiliki kabel panjang.


Tampak redup suara sholawatan itu karena headset yang kucolokan, dan hanya diriku seorang yang menikmati.


Tanpa sadar, aku mulai terlelap karena merdu dan tenangnya. Entahlah, aku masih tak mengerti dengan diriku yang menikmati kebersamaan dengannya.


Aku menutupi hubungan kita dari papaku, serta sebuah prinsip yang sudah runtuh hanya karena hatiku yang sakit.


Aku bingung, bimbang, dilema, gundah, aku tengah terserat tak tahu arah. Dimana kudapat temukan cahaya untuk menyinari jalanku? agar aku dapat kembali pada jalanmu, yaa Robb.


Dan diwaktu yang sama pula ....



Aku masih menyetir mobilku, karena Viona hanya ingin ke taman bermain yang biasa ia kunjungi. Hingga aku harus mengemudi lumayan jauh.


Hampir sejaman lebih, akhirnya aku dan Viona sampai ditujuan kita, dan aku tengah membeli dua tiket untuk kita masuk. Sedangkan Viona menungguku di depan mobil.


Setelah mendapatkan tiket, aku menghampiri dirinya, dan memberikan sebuah tiket untuknya. “Ini!”


“Thanks.” Viona langsung berlari seperti anak kecil meninggalkanku yang masih mematung.


Aku menggerutu, “Si Viona benar-benar deh, kalau udah di taman suka lupa sama supirnya,” ujarku merendahkan diri sendiri.


Viona mulai bermain jungkit-jungkit, ia melambaikan tangannya dan menyuruhku untuk ikut main. Yah! apa boleh buat? aku harus menuruti sifat kekanakannya itu.


Akhirnya seharian ini aku ikut bermain dengannya sampai lupa mengabari Putri. Kita terus tertawa riang, betapa asiknya permainan ini, membuat kita kembali seperti anak kecil tanpa merasakan beban.


Langit orange telah menyapa, tapi kita masih terhipnotis oleh segala macam permainan di sana.

__ADS_1


Hanya tinggal labirin, perosotan, dan ayunan saja yang belum. Tapi ... perosotan, gak mungkin, kan? semoga saja masih ada jiwa dewasanya.


__ADS_2