
“Sebenarnya, dia itu dari Malaysia—“
“Malaysia?!” sergahku.
“Iya.”
“Oke, lanjutkan lagi ceritanya,” tuturku menenangkan gejolak pikiranku. “Mungkin laki-laki itu mondok di tempatnya Elvin. Iya, pasti begitu!” prasangka dalam benakku.
“Kita sih baru dekat dua bulan lalu, tapi udah saling follow setahun yang lalu dan—”
Aku membelalak. “Follow?! saling follow?! jadi... kamu sama dia itu kenal lewat sosmed?” sergahku kedua kalinya.
“Nggak Teh, dia itu saudara jauhnya Raudhoh. Terus gak sengaja dia ngenalin kita gitu.”
“Itu mah bukan gak sangja, tapi sengaja.”
Elvina cengengesan. “Ya gitulah, Teh!”
“Lalu?”
“Kemudian ....”
Impresi ingatan setahun yang lalu.
Hari Jum'at ini semua santri-santriyah libur mengaji, jadi kita semua bebas gak ada kegiatan mengkaji kitab.
Papa juga sudah mengunjungiku Jum'at kemarin. Dan aku tengah menuju ke aula di mana tempat itu untuk berkumpulnya para keluarga yang menjenguk anak-anaknya.
“Hari ini, apa ayah sama bundamu yang datang?” tanyaku pada Raudhoh, sahabatku.
“Enggak, sekarang yang datang ibu sama pamanku.”
“Oh! kalau begitu mereka pasti belum sempat istirahat.”
“Iya, padahal aku tak masalah jika ibu gak bisa mengunjungiku.”
“Ya, tapi namanya seorang ibu, pasti beliau sangat kangen sama kamu.”
Setahuku dari kisah yang Raudhoh ujarkan, ayah dan ibunya berpisah saat Raudhoh masih kecil.
Setahun kemudian ayahnya menikah lagi, sedangkan ibunya memilih untuk fokus mengasuh adiknya yang masih balita kala itu.
Saat perpisahan, kedua orangtuanya Raudhoh sepakat kalau ayahnya lah yang mengasuh dirinya.
Walaupun demikian, keduanya masih menjalin hubungan yang baik. Kadangkala pula, Raudhoh pulang kampung ke rumah ibunya yang ada di KL Malaysia.
Seperti itulah yang kudengar dari sahabatku.
Selang beberapa menit, setelah kita berjalan keluar pondok, akhirnya kita sampai di aula. Yang letaknya di luar pondok namun masih satu dengan ponpes.
“Ibumu yang mana, Dhoh?” tanyaku mengedarkan pandangan mencari keberadaan ibunya.
“Di sana, yang tengah melambai ke arah sini.” Raudhoh menujuk lurus dengan jari telunjuknya.
“Yang di samping berdiri cowok berkaos putih itu?”
“Iya.”
“Tapi dia gak tua-tua amat tuh, yang ikut pasti sepupumu, kan?”
“Haha, dia memang masih muda. Cuma terpaut enam tahun denganku.”
“Apa pamanmu ada juga yang cuma selisih tiga tahun denganmu?”
“Sayang sekali, dia itu pamanku yang paling bungsu. Jadi cuma dia yang lebih muda dari pamanku yang lainnya.”
__ADS_1
“Yah, kirain ada.”
“Kamu sukanya sama yang paman-paman ya? aku baru tau lho?”
“Gak juga, cuma lebih suka dengan yang baby fase gitu.”
“Mau kukenalkan gak?”
Album memori berakhir.
“Jadi begitu, Teh, ceritanya!”
Aku sengaja bilang dia sepupunya, kalau teh Putri tahu pasti dia bakal menertawakanku lagi.
“Oh gitu?”
Elvina mengangguk. “Hmm.”
Aku memperhatikan Elvina yang masih sibuk chattingan.
Yaelah, dia malah kacangin tetehnya dan sibuk balas chat dari sepupunya Raudhoh.
“Woy! Vin?!” sergahku.
“Ya?! kenapa Teh?”
“Ada fotonya gak?”
“A—da!” ucapnya gelapan.
“Mana?”
“Hah?!”
“Liat fotonya,” pintaku kembali.
“Bu—buat apa?!”
“Cuma pengen tahu aja.”
“Kan—”
“Mah!” pekikku.
“Iya-iya! bentar, Elvin cari dulu,” ujarnya secepat kilat dan tengah mengobrak-abrik foto di galerinya.
Aku terkekeh kecil melihat tingkah wanita yang tengah kasmaran dihadapanku ini.
“Oh, ini dia, ketemu juga!” gumamnya.
Aku menilik layar ponselnya. “Hmm?”
“Ini Teh orangnya.” Elvina menunjukkan foto pria yang dikenalnya lewat perantara Raudhoh, sahabat juga teman pondoknya.
“Dia ... jadi ini doi kamu, Vin?” tanyaku pada sebuah foto yang Elvina tunjukkan.
“Ih, si Teh Putri! bukan doi, tapi teman aja.”
“Ya, rata-rata awal dekat ngakunya gitu,” gumamku dengan dingin tanpa ekspresi.
“Teteh ada ngomong sesuatu?”
“Gak ada!”
__ADS_1
Aku terdiam membatin.
Kok bisa?! dari sekian banyaknya penduduk di Malaysia, kenapa adikku harus dekat sama sepupunya kak Nathan?!
“Teh, kenapa malah jadi bengong? apa Teteh kenal sama dia juga?”
“Hah?!” Aku tersentak. “Eng—enggak! aku gak kenal sama dia,” sambungku kembali berkilah dan tersenyum.
Aku memang tak mengenalnya. Yang kukenal dan pernah dekat cuma dengan sepupunya saja, yaitu Nathan.
Tapi, cowok itu, pria yang pernah mengirim voice note dan membocorkan tentang curhatannya kan Nathan.
“Sosial media yang jangkauannya begitu luas, mengapa hanya berputar pada kehidupannya kak Nathan saja?” keluhku dalam hati.
“Aku, kan udah kasih cerita semua, jadi Teh Putri harus tepati janji untuk gak kasih tahu sama papa dan mama ya?”
“Iya,” balasku yang masih melongo-longo bengong dan gak mencerna ucapan Elvina.
“Kalau gitu, Elvin balik ke kamar ya, mau istirahat.” Elvina beranjak bangkit dari duduknya.
“Iya,” balasku kembali dengan tatapan kosong namun beribu-ribu pertanyaan mengapa mengusik benakku.
“Assalamu'alaikum,” seru Elvina.
“Wa'alaikumussalam.”
Elvina keluar dari pintu kamar. “Teh Putri kenapa ya? kok malah bengong guru? apa dia lagi nikotin ide buat novelnya?” ujarnya dalam hati kemudian menutup pintu dengan rapat.
Sementara itu, wanita yang ditinggal sendirian dikamar masih melamun meratapi nasib percintaannya.
Kedatangan semua hal yang berkaitan dengan masa lalunya, membuat perasaan di dasar lubuk hatinya kian mencair.
“Apa ini bagian rencana darimu, ya Robb!” gumamku menatap awang-awang.
“Tapi mengapa engkau memberikan kisah yang sama untukku adikku, Elvina?” sambungku kembali bergumam.
Aku pernah terpikat oleh orang asing lewat dunia maya, kini adikku juga malah kepincut dengan orang luar. Dan juga pdkt-nya lewat sosial media, pula!
Aku mengehela nafas kasar dan berat. “Semoga akhir cinta adikku tak senasib denganku.”
Ya Allah, jaga hati adikku dari rasa patah hati!
“Put!” Seseorang menepuk pelan pundak kiriku, hingga aku tersentak sadar dari lamunan. Aku melengos. “Lho? Mama?! kok gak salam dulu?”
“Gak salam apanya?” Mama mencubit hidungku. “Maam udah tiga kali salam tapi yang di dalam kamar malah bengong,” imbuhnya.
“Aww! sakit, Mah!” keluhku memegangi hidung dengan kedua tangan.
“Apa yang sedang kamu lamunkan? hmm? ayo cerita dong sama mama?”
“Gak ada kok, Mah, Putri gak lagi ngelamunin apa-apa kok,” balasku tersenyum.
“Ya sudah, kalau gitu kamu buruan istirahat, udah jam tengah dua belas juga.”
“Iya, Mah.”
Aku dan mama beranjak menghampiri kasur. Kali inipun aku masih ditemani mama, semenjak kepulanganku dari Bandung aku tak lagi tidur sendirian.
Karena, bayangan pintu yang suatu ketika bisa dimasuki oleh orang membina perasaanku terus terjaga dan was-was tiap kali lanjamku terkatup.
Kendatipun sudah ada mama di sampingku, aku selalu susah nan kesulitan untuk tidur, meski sudah terpejam tapi pikiranku masih merasa cemas.
Padahal tempatku sekarang adalah rumah. Tempat teraman untukku. Dan tidak ada siapapun yang masuk ke kamar ini selain mama, papa dan Elvina.
“Aku pikir, aku telah berlapang dada atas kejadian itu. Rupanya, aku masih tak baik-baik saja ketika keheningan menerjangku,” gumamku dalam hati yang disusul setitik kristal yang meleleh jatuh menerpa pipi.
__ADS_1