
Tiga tahun kemudian ....
Dalam sebuah ruangan penuh kursi yang tersusun seperti tangga, ruangan yang memiliki sedikit pilar. Bukan sedikit, tapi memang tak ada cahaya.
Pantulan sinar itu berasal dari layar yang terpampang di hadapan mereka. Sebuah layar yang begitu besar dan cukup untuk dapat dilihat dengan jelas dari sudut ke sudut, hingga sampai pada kursi terbelakang.
Sstt ... film itu akan segera di mulai ....
One ....
Two ....
Three ....
Suasana mencengkam apa ini? lebih horor daripada melihat hantu. Dan semua itu apa? seorang gadis kecil tengah di keliling anak laki-laki? ya, seperti itulah suasana dalam film tersebut.
Gadis kecil yang akan menjadi korban pemerkosaan dibelakang sekolah, pertengahan antar kelas lima dan empat.
Seorang pria yang tinggi dan wajahnya sudah mencapai baligh, yang seharusnya saat itu sudah kelas satu SMA namun masih tinggal kelas dan sekelas dengan mereka, termasuk gadis kecil itu juga.
Anak-anak cowok yang ikut menghadang menghalangi larinya, membuat wanita kecil itu kian terpojok, tak bisa lagi pergi tuk meloloskan diri.
Semua anak laki-laki itu tertawa, ketika melihat gadis kecil di hadapannya merasa ketakutan karena terpojok. Ya, bagaimana tidak?!
Samping kanannya hanya ada tembok kelas menjulur panjang. Sedangkan samping kirinya merupakan pagar tembok sekolah. Benar-benar tak ada tempat untuknya melarikan diri.
Ditambah, arah depan gadis kecil itu ada pria yang tingginya dua kali lipat dengan tingginya.
Sementara itu, di belakangnya terdapat dua anak kecil yang seumuran dengan gadis itu dan ikut menghalangi jalannya.
Kepada siapa gadis kecil lemah tak berdaya itu harus meminta pertolongan?
Seorang gadis kecil terjebak dalam ketakutan, sesuatu yang sangat mengerikan walau dia belum faham apa yang akan terjadi padanya.
Namun, hal itu mampu menuntun firasat gadis belia itu bergedik ngeri ketakutan.
__ADS_1
Dua anak laki-laki berwajah malaikat, benar-benar tidak memiliki wajah iblis. Akan tetapi, ada niat jahat terselubung di dalam hati mereka yang berpacu dalam otak kecil itu.
Di sela-sela adegan terkepung dengan raut ketakutan anak gadis itu, terdengar bisikan dari kursi belakang baris ketiga.
“Awal-awal mulai kok udah kayak gini sih?”
Terukir jelas raut kasihan dan tak tega dari wajah cantik nan ayu yang dimiliki wanita berhijab itu.
“Kalau kamu gak suka, apa mau keluar dan ganti film aja?” tawar pria di sampingnya dengan popcorn dalam dekapan tangan kirinya.
“Nggak-nggak! teman-temanku udah nonton film ini sampai selesai, katanya ini film bagus banget dan bikin haru endingnya,” papar gadis berhijab itu, tanpa mengalihkan pandangannya dari layar besar tersebut.
Pandangan keduanya kini terfokus pada suasana kelas nan sunyi, yang dapat dilihat dari jendela mereka berada.
Posisi ruang guru pun berada di seberang tempat anak-anak lelaki itu menahan gadis kecil tersebut.
Sungguh, perbuatan apapun dapat terlaksana karena terhalang bangunan yang panjang dan tinggi. Apalagi tak ada saksi di sana.
Haruskah masa depan gadis kecil itu berakhir sampai di sini?
Tayangan pada layar itu kini berwarna, tak lagi abu-abu, juga sudah berpindah tempat dan adegan. Kali ini, seorang gadis berambut panjang termenung dalam kamarnya seorang diri.
Akan tetapi, melihat jam dinding yang melingkar di atas sana, menunjukkan pukul jam satu dini hari. Sepertinya bukan mimpi indah yang gadis itu dapatkan, melainkan sebuah mimpi buruk.
Wanita itu tengah mengatur napasnya yang memburu. Lalu, gadis itu berbisik pada dirinya sendiri, “Ya Allah, sudah 7 tahun berlalu, mengapa mimpi buruk itu selalu menghantuiku?”
Sekeping ingatan yang belum tuntas dalam mimpinya, kini berlanjut dalam memori ingatannya.
Warna gambar film pun kembali hitam putih. Memberikan efek dan kesan tengah menceritakan masa lalu.
Gadis kecil itu tersorot lampu syuting kembali, masih dalam keadaan lemah tak berdaya dan putus asa. Kalimat 'putus asa' mungkin belum dapat di fahami, karena yang anak gadis itu tahu hanyalah bermain.
Satu gerakan!
Ya, satu tindakan dari pria yang lebih tinggi diantara mereka bertiga di sana, menambah kecemasan dan rasa takut anak kecil itu yang bergender beda dengan mereka.
__ADS_1
Pria tinggi bertubuh lurus tersebut tersenyum bak orang yang tengah berada di bawah kendali minuman terlarang. Oh, tentu saja tidak! mereka tidak mabuk, mereka amat sangat sadar.
Lelaki jangkung itu karena tinggi dan tak berlemak, benar-benar lurus tak ada gelombang, dia menarik sabuk yang tadinya melingkar sempurna dalam pinggangnya, kini pengaitnya telah terlepas.
Gadis kecil itu membelalak sejadi-jadinya. Ketakutan yang sudah mencapai puncaknya tersalur lewat teriakan tangis histeris si gadis kecil.
Benar! gadis kecil itu menangis sejadi-jadinya, membuat ketiga peria itu mengurungkan niat buruknya dan pergi meninggalkan gadis kecil itu seorang diri di belakang sekolah.
Khimar pendek yang pas dengan usianya, kini basah bercampur keringat dan linangan air mata. Meski anak kecil itu sudah aman, tapi ketakutannya masih tertinggal dalam dasar hatinya.
Semua kenangan buruk di masa kanak-kanak, menjadi duri belenggu hingga gadis kecil itu bertumbuh besar menjadi gadis remaja.
...***...
Cip ... cip ... cip ....
Kicauan burung yang mengawali hari pagi. Sang surya dengan pancaran apinya yang terasa begitu hangat, namun tidak untuk gadis yang tengah mengikat rambutnya seperti ekor kuda.
Wajahnya suram karena semalaman bergadang. Bukan keinginannya, tapi gadis itu memang tak bisa tidur kembali usai mimpi tujuh tahun lalu.
Suara ketukan pintu masuk ke dalam gendnag telinganya, gadis yang masih berdiri di depan cermin tersebut hanya meliriknya saja, tanpa ada niat membukanya.
“Maryam!” panggil seseorang di balik pintu dengan suara khas perempuan. Mungkin wanita di balik sana adalah ibunya, atau mungkin kakaknya.
“Kalau sudah siap-siap jangan lupa sarapan ya? Ibu udah taruh makanannya di atas meja, kamu tinggal buka tudung saji nya saja!”
“Iya, Bu!” jawab gadis yang memiliki nama Maryam, tanpa beranjak dari cerminnya, ia masih sibuk melilitkan dasi abu di lingkaran kerah kemeja putih berlengan panjang.
“Ibu pergi ke kebun dulu, ya? bapak juga sebentar lagi pasti sampai, habis itu berangkatlah sama bapakmu!”
Maryam menjawabnya dengan balasan yang sama. Wajahnya semakin murung, selain mimpi buruk yang berasal dari kenyataan, Maryam juga harus menelan pahit tentang kedua orangtuanya yang sudah tak lagi serumah.
...***...
Beberapa menit kemudian ....
__ADS_1
Maryam keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah rapih, juga hijab putih bertaut di wajah pucatnya.
Saat dirinya melangkah ke arah dapur, sebuah sambutan di balik punggung Maryam menghentikan langkahnya.