
Sementara itu, di salah satu ruangan bernuansa lavender dengan corak motif bunga, juga berhiaskan karakter nan lucu imut, yang memberi kesan bahwa si pemilik menyukai hal-hal yang menggemaskan.
Terpotret sosok wanita berhijab mint tengah duduk di samping ranjang tanpa alas. Punggungnya bersender pada ranjang yang terbuat dari kayu jati, serta sorot lanjamnya yang tengah fokus pada smartphone.
Sebuah chanel di YT menyuarakan karomah tersembunyi dari Habib Ahmad bin Hamid Al Kaff, salah satu ulama besar yang berdakwah di Palembang, Sulawesi Selatan.
Beliau dikenal sebagai waliyullah yang karomahnya tersembunyi atau disebut wali masthur.
Dalam manakib beliau diceritakan banyak ulama dari penjuru Nusantara belajar kepada beliau. Palembang memang dikenal sebagai kota tempat bermukim dan berdakwah para habib dan ulama besar, demikian pula makam-makam mereka banyak ditemui di Palembang.
Nama beliau adalah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff. Sampai akhir hayat beliau tinggal di Jalan KH Hasyim Asy’ari No 1 Rt 01/I, 14 Ulu Palembang. Beliau lahir di Pekalongan, Jawa Tengah dan dibesarkan di Palembang. Sejak kecil beliau diasuh oleh Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Al-Attas.
Salah satu karomah Habib Ahmad bin Hamid Al-Kaff adalah adalah ketika beliau menziarahi orang tua beliau (Habib Hamid Al-Kaff dan Hababah Fathimah Al-Jufri) di Kampung Yusrain, 10 Ilir Palembang. Dalam perjalanan kebetulan turun hujan deras sekali. Hanya beberapa saat beliau mengibaskan tangan beliau ke langit sambil berdoa. Ajaib, hujan pun reda.
Seperti itulah yang kudengar, rasa kagum dan mahabbah padanya pun tumbuh ke dasar lubuk hati terdalam.
Tok! tok! tok!
Suara ketukan pintu membuat rasa terpanaku beralih menatap ke arah pintu kamar. Seorang wanita yang bertudung labuh tengah berdiri dengan anggun.
“Assalamu'alaikum,” ucapnya memberikan senyuman.
Aku membalas salam dan senyumannya.
“Wa'alaikumussalam. Kenapa, Dek?” tanyaku padanya.
“Kata mama, hari ini papa gak bisa antarin pesanan kue nya mama. Jadi nyuruh aku sama Teh Putri aja yang antar ke rumah pelanggan mama.”
“Oh, ya sudah. Kalau gitu Teteh ambil kunci motornya dulu.” Aku berdiri dan pergi menuju laci dekat ranjang. “Ayo, Vin!” ajakku.
“Iya, Teh.”
Kita pun berjalan menuju pergi meninggalkan kamarku dan menuju pintu keluar.
“Rumahnya jauh gak?” tanyaku sambil menutup pintu kamar.
“Kayaknya dekat deh.”
“Memang di mana lokasinya?”
“Gak tahu, nih.” Elvina menunjukkan selembar kertas yang bertuliskan sebuah alamat. Aku pun mengambil dan melihat alamat yang tertulis di kertas bergaris itu.
“Teh Putri tau gak itu di mana?” tanyanya.
“Gak tahu. Tapi kita bisa pakai maps untuk menunjuk jalannya. Kamu bawa handphone, kan?”
__ADS_1
“Bawa, Teh. Tapi miris kuotanya, hehe.”
“Ya udah kalau gitu pakai HP Teteh aja, nih.” Aku memberikan ponselku pada Elvina.
Sesampainya di luar rumah, aku langsung mengenakan helm. Demikian juga adikku, Elvina.
“Udah belum?” tanyaku.
“Udah.”
“Mah, kita berangkat ya? Assalamu'alaikum.” Aku bersalaman pada mama yang ikut mengantar kita. Kemudian bergilir ke belakang, Elvin juga bersalaman dengan mama.
“Iya, wa'alaikumussalam. Ingat! hati-hati dan jangan ngebut-ngebut,” amanahnya.
“Tenang aja, Mah. Teh Putri gak kayak papa kok,” ujar Elvina dan aku hanya tersenyum meyakinkan mama.
Ya papa memang kadang suka begitu, tapi anehnya kita yang dibonceng cuma santai-santai aja. Tapi kalau diri sendiri bawa motor begitu, gak berani deh.
...***...
“Teh ... ini benaran alamatnya di sini?” tanya Elvina melihat kertas ditangannya dan rumah dihadapan kita dengan berulang kali.
“Kayaknya memang iya deh.” Aku pun ikut memastikan dan melakukan hal yang sama seperti Elvina lakukan. “Coba pencet aja bel nya,” imbuhku kembali.
“Tolong pegangin dulu Teh, pesanannya.” Elvina memberikan kotak berisi kue padaku. Dia pun mulai melangkah maju dan menekan bel nya hingga bunyi, teng-tong! teng-tong!
“Gak ada yang keluar, Teh.”
“Kalau gitu Elvina coba lagi nih?”
“Iya.”
Elvina menekan kembali bel nya. Salam pun tak lupa kita ucapkan. “Assalamu'alaikum,” seruku dan Elvina secara bersamaan.
Selang beberapa menit, akhirnya gerbang besar dan tinggi itu bergerak. Seseorang pun menjawab salam kita dibalik gerbang yang tengah ia dorong. “Wa'alaikumussalam,” jawabnya.
“Cari siapa ya, Mbak?” tanya seorang pria paruh baya berseragam satpam.
“Ini, Pak. Apa benar ini rumahnya bu Shava?” tanya Elvina.
“Benar, kalian ada perlu apa ya cari majikan saya?”
“Oh ini, kita mau antar pesanannya bu Shava,” tutur Elvina.
“Ada siapa Mang? kok gak disuruh masuk sih tamunya?”
Satpam itu berbalik ke belakang. “Ini Mas, katanya mabk-mbak ini anterin pesanannya nyonya.”
“Oh? mana?” Pria itu memiringkan kepalanya melihat kita.
__ADS_1
Deg!
Seorang pria dengan wajah rectangle nya yang gak asing dalam tangkapan lensa netraku.
Aku tertegun, demikian juga dengannya. Lanjamnya menatap lurus ke arahku tanpa berkedip.
“Sepertinya tuh cowok jatuh cinta pada pandangan pertama sama Teh Putri deh?” bisik Elvina.
Aku tersentak mendengarnya dan langsung bangun dalam keheningan waktu yang berhasil memberi jeda beberapa detik disekitarku dengannya.
Pandanganku kini beralih menuju Elvina. “Bisa nggak hilangin dulu cinta-cintaannya? dan fokus sama hafalanmu aja?” celetukku.
“Akh si Teteh, aku pulang ke rumahkan untuk refreshing otak,” rajuknya, tapi kali ini dia gak terlihat manyun.
Mungkin Elvina gak mau menunjukan sisinya yang seperti itu dihadapan pria lain selain papa.
“Putri?”
Panggilannya kembali membuatku menatap dirinya yang tengah berjalan menghampiriku dan Elvina. “Kok kamu bisa ada di sini?” lanjutnya.
“Dia pasti Elvina Umaiza.” Pria dihadpanku kini bergilir menatap Elvina. “Adikmu yang mondok itu, kan?!” sambungnya kembali dan menatapku.
Aku segera menundukkan pandangan. “I—iya.”
“Kalian saling kenal? kok Teh Putri gak pernah cerita sama Elvin sih kalau punya teman cowok?” bisiknya.
“Ayo masuk, kita bicara di dalam saja,” tukasnya.
“Iya—”
“Gak usah! kita masih harus mengantar pesanan yang masih tertinggal dirumah. Mama juga pasti udah nungguin kita,” dalihku memotong ucapan Elvina untuk menerima tawarannya.
“Teh Putri kenapa ya? apa mereka berdua punya masalah?” dalam benaknya Elvina.
Elvina merebut kotak itu dariku. “Oh! ini Kak kue pesanan mamanya Kakak.” Dia pun memberikan kue yang tersembunyi dalam kotak itu, kemudian diterima olehnya. “Mommy udah bayar, kan?” tanyanya.
“Udah, Kak!” jawab Elvin.
“Jadi ... kalian gak bisa mampir sebentar aja gitu?” tanyanya.
“Ermm ...” Elvina menoleh ke arahku yang sudah memberikan tatapan datar, dengan artian untuk menolak tawarannya. “Maaf, Kak! mungkin lain kali aja.”
“Benar ya lain kali,” ucapnya dengan nada yang masih sama, ceria.
“InSyaa Allah, Kak!” balas Elvin.
“Ayo, Vin!” ajakku yang sudah naik motor.
Elvina menoleh. “Iya, Teh!” Dia pun kembali melihat pria yang masih berdiri di depannya. “Assalamu'alaikum,” ucap Elvina, kemudian berjalan kearah motor.
__ADS_1
“Wa'alaikumussalam.”
Kita pun langsung melaju meninggalkan rumah yang mewah dan megah itu, juga meninggalkan beberapa pertanyaan dalam benak Elvina, yang kelihatan sangat jelas banget dari wajah bingungnya.