Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 57) Salah Faham lagi?


__ADS_3

Waktu bergerak begitu cepatnya, jam ponsel pun telah berganti menunjukkan waktu 21:09 dan hari pun kini berubah menjadi malam.


Dalam kesunyian malam serta sorakan yang terdengar samar nan mungkin berasal dari ruang keluarga.


Karena hari ini, semua keluarga tengah berkumpul dan besok akan ikut mengantar Melati masuk ke pondok pesantren.


Ya, Melati adik perempuanku dan satu-satunya cewek di keluarga kami. Tak heran jika semuanya sangat sayang dan memanjakan Melati, tak terkecuali diriku.


Aku yang masih mengurung diri di dalam kamar, berdiam dan duduk sila dengan Al Qur'an nang sudah terbuka sempurna di depan mata.


Lanjamku terkatup, aku pun mulai kulantunkan hafalan yang sudah bersemayam dan berakar dalam benak juga kalbuku.


Aku memulainya dari juz awal, yakni surah al fatihah dan al baqarah dari ayat satu sampai seratus empat puluh.


Kesunyian dalam kamarku, serta lantunan berbisik yang hanya sampai pada gendeng telingaku.


...***...


Durasi terus berjalan, jarum menit, detik dan jam pun telah bergeser berpindah tempat. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan dini hari.


Aku mengarah pada sebuah benda nan melingkar sempurna di atas dinding sana, yang menunjukkan waktu jam satu lewat lima belas.


Muroja'ah hafalanku yang telah tuntas kulantunkan, kuakhiri dengan do'a Khotmil Qur'an.


Allahummarhamni bilqur'an.


Waj'alhu lii imamawwa nuurowwa hudawwa rohmah.


Allahumma dzakkirni minhu maa nasiitu wa 'allimnii minhu maa jahiltu warzuqnii tilaawatahu aana-allaili wa'athrofannahaar.


Waj'alhulii hujjatan yaa rabbal 'alamiin.


Al Qur'an yang sudah tertutup pun kembali kuletakkan pada tempatnya. Yakni, di atas rak buku bersamaan para kitab.


Dan tentu saja, urutannya Al Qur'an lebih dulu. Sebab, Al Qur'an adalah kitab suci dan gak boleh meletakkan barang apapun di atasnya.


Benar! seperti yang ada dalam pikiran kalian, aku menaruhnya dengan posisi di rebahkan bukan berdiri. Jadi ku mulai pada tumpukan pertama dengan beberapa kitab, kemudian Al Qur'an berada ditumpukan teratas.


Aku berjalan ke arah pintu, kuraih sajadah yang tergantung di sana. Wudhu-ku pun belum batal, tanpa membuang masa, aku langsung menunaikan sholat sunnah sebelum tidur.


Beberapa menit kemudian ....


Do'a ku terusik manakala sebuah ingatan tentang siang tadi menyerbu memoriku. Sebuah percakapan antara aku dengan Melati adikku, terulang kembali.


“Beberapa tahun lalu kami pernah kontekan beberapa kali. Tapi setelah itu Marsha kembali menghilang, seperti menjauh dariku.”


“Mungkinkah saat itu kak Crystal sudah punya orang lain?”


Aku terdiam sejenak, lalu menjawab pertanyaan dari Melati. “Entahlah, aku juga gak tahu!”


Melati membuat tiruan suara seperti berdehem dan menaruh tangannya menopang dagu. Ekspresi-ekspresi yang dibuatnya pun mencerminkan orang yang sedang berpikir keras.

__ADS_1


“Apakah ... kak Crystal salah faham sama Kakak? terus, dia mengira kalau Kak Nathan sudah menikah!” tebak nya dan kembali berkata, “Aku rasa karena inilah dia jadi menghilang kembali dari kehidupan Kakak!”


Impresi memori telah usai.


“Mengira sudah menikah?” gumamku yang masih duduk di atas sajadah.


Kalimat Melati terus terngiang-ngiang di dalam kepalaku. Aku merenung dan mencari jawabannya dalam hati.


Deg!


Gak mungkin dia salah faham soal aku dengan ... tapi masa sih, karena itu? waktu itu juga dia udah tahu kalau aku, kan gak jadi tunangan ....


Pikiranku masih melayang-layang mencari alasan yang tepat dan seketika sebuah memori lama pun kembali melintas.


Tunggu-tunggu! jangan-jangan ... astaga! apa karena itu?


“Sepertinya dia salah faham lagi,” tebak batinku saat sebentuk album tiga tahun lalu terbuka kembali. Saat-saat aku dan Marsha berkomunikasi lewat telepon.


Waktu di mana bagiku dan Marsha sama-sama pertama kalinya mendengar suara seseorang yang dulu pernah mewarnai sebuah hati, tapi harus kandas sebelum jarak diantara kami jelas.


Tiga tahun lalu ....


.


.


.


“Dia ... siapa?” tanyaku dengan bingung terlongo-longo atas pertanyaan Marsha.


📞“Elvira!”


.


.


.


Ingatan berakhir.


Aku kembali merenung. Pasalnya saat itupun aku telah tuntas memberitahukan apa adanya pada Marsha.


Apa ... dia masih curiga tentang hubunganku dengan Elvira?


“Ah! sudahlah!” Aku bangkit dari tempatku saat ini dan menaruh kembali sajadah pada tempatnya, yakni di pintu bersama gantungan lainnya.


Sementara itu, di suatu tempat dan kota lain. Seorang wanita berhijab labuh berwarna putih polos dengan bordiran bunga yang warna senada sebagai hiasan nya.


Perempuan tersebut tengah menengadahkan kedua tangannya ke atas langit-langit. Dalam posisi duduknya seorang wanita.


Dekorasi tempatnya pun menunjukkan seperti kamar tidur, ciri khasnya yakni ranjang berkasur empuk set dengan bantal dan guling nya.

__ADS_1


Ya Allah, mengapa engkau pertemukan aku dengannya? padahal, dengan susah payah aku melupakan wajah orang yang cintanya masih bersemayam dalam kalbuku.


Bukannya aku membenci pertemuan ini, tapi aku takut jika hati ini akan goyah setelah perjumpaan kami siang tadi.


Ya Robb, jagalah hatiku. Jika dia bukan untukku, jangan biarkan hatiku berlabuh padanya.


Dan ... apabila dia untukku, satukan hati kami dalam sebuah ikatan yang halal. Sebuah cinta yang engkau pun ridho terhadap kami.


Aamiin ....


Kusapu wajahku dengan telapak tangan saat do'anya telah usai kupanjatkan. Sebutir lacrima yang membentang sedari tadi membasahi pipi, ikut terseka.


.


.


.


Dini hari itu menjadi kegalauan kedua insan dengan perasaan yang berbeda namun pikirannya tertuju pada satu nama.


...***...


Keesokan harinya ....


Pria dengan peci dan jubah putih ber-vest hitam tengah sibuk memasukan barang dalam bagasi belakang mobil.


“Kak, ini!” Gadis cantik di sampingnya memberikan sebuah tas kanvas berukuran lumayan besar.


“Ini yang terakhir?”


Wanita cantik itu menjawab, “Iya.” Sambil berjalan lurus ke depan, kemudian masuk ke dalam mobil.


Tatkala semua barang telah masuk semua, lelaki muslim itupun menutup bagasi mobil, lalu berjalan menuju kursi belakang tempat gadis tadi masuk.


Ya, kali ini yang akan membawa mobil adalah ayahnya. Yang memiliki cetakan wajah seperti pria yang duduk di belakangnya, yakni Nathan, anak lelaki satu-satunya.


Kendaraan roda empat itu telah bergerak berjalan, dengan pondok pesantren Al Iman sebagai tujuan akhirnya.


Waktu berlibur untuk Nathan pun telah berakhir. Sedangkan untuk wanita di sebelahnya, yang bukan lain yaitu Melati.


Hari ini pertama kalinya bagi Melati masuk pesantren di tempat Nathan menimba ilmu.


Semua persiapan berupa perlengkapan sholat, beberapa gamis dan hijab dengan set cadar atau niqob pun telah di bawanya.


Serta persediaan lainnya seperti peralatan mandi pun telah Melati siapkan.


Tak lupa pula uang bulanan dari sang ayah yang gak boleh tertinggal.


Barang lain yang berkaitan dengan kegiatan ponpes pun sudah Nathan siapkan, karena cuma Nathan yang tahu. Pelajaran seperti apa yang akan dipelajari untuk santri baru seperti adiknya ini.


Walau pondok santri putra dengan santriwati terpisah, pelajarannya tetap sama. Yang beda hanya letak pondok dan yang mengajar saja.

__ADS_1


__ADS_2