Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 38) Masih Cinta


__ADS_3

Seperti rutinitas biasa, aku pergi ke kampus bersama kak Mala jalan kaki, karena memang jaraknya dekat dari kosan kita.


Waktu ini, mumpung berangkat lebih awal aku dan kak Mala pergi ke perpus. Sesampainya di sana, seorang mahasiswi sejurusan datang menghampiriku.


“Put, ada yang cari kamu dan katanya dia nunggu kamu di depan gerbang kampus,” ujarnya.


“Oh, siapa?” tanyaku.


“Gak tahu, kayaknya bukan anak sini,” paparnya.


“Cewek apa cowok?” tukas kak Mala.


“Cowok, Kak, tampan dan keren seperti Verrel Bramasta,” jelasnya tersipu malu. “Kalau gitu aku permisi ya, mau balik ke kelas,” sambungnya lagi.


“Oh, iya. Terimakasih, ya!”


“Sama-sama.” Dia berbalik pergi melesat meninggalkan ruang perpustakaan.


“Mau aku temenin?”


“Boleh, Kak. Temani ya?” pintaku.


“Ya udah yuk!” ajaknya membawaku pergi. “Tapi buku yang kamu cari udah nemu belum?” imbuhnya kembali.


“Alhamdulillah udah.”


Ucapku pada kak Mala, dan kita pergi kebagian sirkulasi untuk meminjam buku.


Usai pustakawan memasukkan ID anggota dan menulis kode barcode buku, pustakawan memberikan stempel pengembalian buku pada buku yang kupinjam.


Setelah proses meminjam buku selesai, aku dan kak Mala langsung pergi menemui pria itu.


Dalam perjalanan menghampirinya, aku terus berpikir.


Kira-kira cowok yang mirip dengan Verrel itu siapa ya?


Gak mungkin Fakri bukan? dia memang model, tapi kurasa itu bukan dia. Apalagi Lucy bukan mahasiswi Unisba.


Benakku terlintas oleh seseorang. ‘Dia memang agak mirip dengan Verrel Bramasta. Tapi masa sih? memangnya ada urusan apa dia kemari?’


Daripada sibuk mencari jawaban yang belum tentu benar, lebih baik aku segera menemuinya. Terlebih katanya dia juga mahasiswa, jika aku lambat menemuinya bisa-bisa ia jadi telat, atau mungkin lekas pergi.


Selang beberapa menit, kita telah berada diluar kampus. Seorang pria dengan baju hitam abu tengah bersender ditembok.


“Firuz?”



Ia melengos. “Putri!” ucapnya semringah berjalan mendekat.


“Kamu apa kabar? baik-baik aja, kan?” lanjutnya kembali setelah jaraknya dekat denganku.


“Alhamdulillah. Kamu ke sini ada perlu apa?” tanyaku tak ingin berlama-lama.

__ADS_1


“Ermm, kamu blokir akun aku ya?”


Blokir? oh iya aku lupa. Semalam, kan aku habis hapus akunku.


“Put?” panggilnya.


“Oh! maaf ... aku gak blokir kok, cuma akun milikku memang kuhapus.”


“Oh, syukurlah! aku kira kamu blokir. Apa kamu bikin akun lagi? kalau iya namanya apa? biar langsung ku follow,” tuturnya nan sudah mengeluarkan ponsel.


“Enggak!”


“Hah? apa?” Firuz terperangah. “Kamu gak mau kasih tahu ke aku?” tanyanya kembali.


“En ... Enggak, bukan itu. Maksudku ....”


Kayaknya ini pembahasan yang gak seharusnya aku dengar deh! dari tadi cowok ini lirik-lirik ke arahku, mungkin ada hal penting yang mau dia sampaikan ke Putri. Aku pergi aja deh daripada ganggu mereka.


“Put, aku tunggu di kelas aja ya?”


Aku melongok. “Eh—tapi, Kak!”


“Thanks,” ucap Firuz pada kak Mala dan langsung direspon dengan lambang oke lewat jari-jemarinya.


Usai kepergian kak Mala, suasana disekitar kita menjadi hening. Sangat-sangat canggung. Aku tak tahu harus memulai bagaimana.


Aku benar-benar gak ingin berjumpa dengannya. Entah ada apa dia tiba-tiba datang ke kampus dan ingin bertemu dengan diriku.


“Put!”


Memandang Firuz yang menundukkan wajah, kurasa dia ingin membicarakan hal nang serius. Pantas saja kak Mala langsung pamit ke kelas meninggalkanku.


Entah apa yang ingin ia utarakan membina perasaanku gelisah berdegup kencang. Rasa tak nyaman menyelimuti kalbu.


Sebelum kalimat nan masih tertahan dalam rongganya, ia masih menurunkan kepala menatapi batako yang berbaris dengan rapih.


“Aku masih suka sama kamu,” jelasnya.


Aku membelalak tertegun dengan kata yang ia lontarkan, bagaimana bisa ia mengatakan kalimat itu. Jika memang suka, kenapa kamu balikan dengannya?


Lidahku kelu membisu, alisku merengut. Praduga-praduga menyelinap membisik dalam hati.


Apakah dia dengan Viona telah usai? tapi mengapa? dia tak mungkin mencampakkan Viona bukan?


Aku benar-benar bingung tak mengerti dengan dirinya. Ada masalah apa dia dengan Viona? jika dia berkata demikian dan masih menjalin hubungan dengan Viona, aku betul-betul akan membencinya.


“Lebih baik kamu bicarakan baik-baik sama Viona, jangan gampang putus kalau masih sayang.”


“Gak, Put!” sergahnya langsung menarik tanganku, dan segera ku lepaskan dari genggamannya. “Maaf, aku refleks,” imbuhnya mengalihkan pandangan dengan wajah ia tekuk merasa bersalah.


Aku diam, tak merespon ataupun menerima maafnya. Hal yang paling aku benci telah ia lakukan, terlebih saat ini perasaan dia tengah kacau.


Sebenarnya, apa yang telah terjadi dengan dirinya dan Viona. Mengapa ia mengutarakan perasaannya dan ingin kita CLBK?

__ADS_1


Dalam keheningan beberapa menit, ia menarik nafasnya dalam-dalam.


“Aku dan Viona telah berakhir. Saat aku menerimanya, aku benar-benar suka sama kamu. Aku yang terlalu kebawa suasana tanpa sadar mengajaknya balikan,” terangnya.


Tanpa sadar? apa sekarang juga kamu mengajakku balikan karena tanpa sadar dan terbawa suasana?



Aku memeluk erat bukuku. Padahal perselingkuhanmu dengannya tak membuatku samapi kecewa. Tapi kalimatmu saat ini membuatku semakin kecewa denganmu.


“Aku gak bisa menjelaskan lebih detailnya, namun perasaanku sama kamu itu nyata. Kamu masih mau, kan balikan lagi sama aku?” paparnya menatapku.


Aku menghela nafas dalam-dalam. “Maaf! aku gak bisa, Ruz!” tolakku tanpa berani melihat sorot matanya.


“Tapi, Put! aku benaran masih suka sama kamu, sampai detik ini cintaku ke kamu gak pernah berubah,” rengeknya.


“Aku benar-benar nyesel karena udah duain kamu. Kali ini aku janji, aku gak akan selingkuh dari kamu,” imbuhnya kembali.


“Maaf, Ruz! aku benaran gak bisa menerima kamu lagi, maafkan aku,” ucapku.


Firuz termenung terdiam membisu. Ia sepertinya tengah berusaha menenangkan hatinya.


Aku sungguh tak bermaksud untuk melukai hatinya, namun tuk saat ini tak ada cinta yang tersisa.


“Kalau gitu ... apa kita masih bisa temanan?” tanyanya.


“Ya! kita masih bisa berteman,” jawabku.


Setelah mendengar balasanku, Firuz langsung pergi melesat meninggalkan kampusku.


Sosok nang pernah menyelinap ke halaman kalbu, kini kubiarkan ia pergi dan tak memberinya kesempatan tuk tetap berdiam diri di sana.


Aku menatap sosok nan sudah hilang dari pandanganku.


Apa benar kamu mencintaiku?


Dusta! kamu gak sungguh-sungguh mencintaiku.


Jika kamu mencintaiku, kamu takkan berpaling kepada cinta pertamamu.


Demikian dengan hatiku.


Aku telah berbohong pada cinta pertamaku. Aku tak betul-betul mencintainya. Jika aku mencintainya, maka kamu takkan bisa masuk kedalam hatiku.


Walaupun tanpa rasa, aku takkan menerima cintamu.


Tidak ada yang betul-betul cinta kepada sang makhluk, semuanya hanya palsu.


Hatiku perih lara, kristal bening telah jatuh menerpa kulit wajah.


Ya Allah, labuhkan hatiku hanya pada ia yang telah engkau tuliskan. Jaga hatiku, dari sebentuk cinta yang tak kau ridhoi.


Aku menegarkan kalbuku, betapa lemahnya hati ini hanya karena cinta kepada sang makhluk. Padahal dulu aku telah berprinsip takkan jatuh cinta.

__ADS_1


“Sungguh naif!” ucapku lirih menyeringai.


Aku mengehla nafas dengan kasar sembari menyeka lacrimaku. Kini ku melangkah beranjak pergi menuju kelas.


__ADS_2