
Saat Firuz dan Viona tengah balik ke Jakarta, justru di kosan khusus perempuan mereka sedang pesta petisan buah di bawah pohon jambu.
Dengan amben kayu nang bernaung di bawahnya sebagai tempat duduk mereka, dan membentuk sebuah lingkaran.
Nan bikin galfok ialah, seorang wanita berhijab instan non pet berwarna moka yang berpadu dengan gamis abaya polos, ia tengah memasang wajah bingung juga bimbang.
Ketika semua tangan sibuk saling cocol buah ke sambal petis, dia malah sibuk menatap ponselnya. Hal itu diketahui oleh teman di samping kirinya, seorang wanita yang juga berhijab.
“Put, ayo makan petisnya nanti keburu habis lho?”
“Iya Kak Shel,” sahutku menghentikan aktifitas bersama benda kerdil yang masih melekat ditelapk tangan.
“Kamu masih SMS-an sama Firuz ya?” desus Lucy, sahabatku.
“Gak!” jawabku.
“Bagus deh, cowok kayak dia gak usah dikasih maaf. Bisa-bisanya dia selingkuhin sahabatku, awas aja kalau ketemu aku cakar tuh wajah buaya nya,” umpat Lucy.
Semua penghuni kos mematung mendengar perkataan Lucy. Kak Shelly pun menjadi orang pertama yang berkomentar.
“Apa? Putri diselingkuhin? sama siapa Put?”
“Jangan-jangan cogan yang waktu itu?” desus kakak senior yang satu jurusan.
“Oh, yang waktu itu kamu ceritain itu ya?” sahutnya tak kalah pelan.
Dia mengangguk dan menatap sinis padaku. “Pantas aja kamu gak mau kenalin ke aku sama Mala, ternyata dia cowokmu toh?!” tuturnya dengan ketus.
Aku, Lucy, kak Shelly dan kak Mala menatap kearahnya. Ketika hendak mengklarifikasi, seorang disebelahnya langsung mengklaim dan menyalahkan hijabku.
“Luarnya alim, tapi ternyata dalamnya sama. Mending kamu lepas aja tuh hijab daripada bikin malu wanita berhijab lainnya.”
“Maksudmu apa Kak?! emang yang Kakak omongin tadi gak bikin wanita muslimah malu?! Kakak juga berhijab lho?! kok bisa sih tuh mulut tajam banget, lebih tajaman mulut Kakak lagi daripada silet!!” cela Lucy.
“Apa yang dibilang kak Dinar, kan benar? kalau emang mau pacaran mending gak usah berhijab kayak kita, ya gak?” cetusnya dengan lirih berbisik.
“Iya, tuh! untuk apa juga berhijab kalau masih melakukan zina!”
“Nah! modelan Putri gini, kan suka banget koar-koar bilang kalau pacaran itu zina?” celetuknya yang masih sama pelannya.
__ADS_1
Temannya mengangguk tanda setuju dengan apa yang dikatakannya. Walau mereka berbisik, namun itu masih terdengar ditelinga kita, ditambah suasana yang hening ini.
“Ck! ampun deh!! sama orang yang mengaku dirinya paling mulia padahal aurat aja masih diumbar, sering pamer bentuk tubuh yang gak seberapa!! muka cantik hasil polesan bedak aja langsung melayang ketika dibilang cantik!!” sindir Lucy.
Kedua wanita yang disebut kakak itu hanya diam setelah disemprot Lucy. Sedangkan aku pun ikut diam, karena yang dikatakan mereka tidaklah salah.
Aku memang telah menutup satu pintu dosa dari mengumbar aurat. Tapi aku malah mendekati perbuatan yang bisa menjerumuskan pada zina.
“Kamu tuh kalau ngomong ya ngaca dulu dong? harusnya kamu berhijab dahulu sebelum nasehati mereka, biar gak malu tuh sama rambut yang masih dibiarkan menyentuh api neraka!!” cemoohnya.
“Oh?! jadi aku harus berhijab dulu seperti Kakak ya? setelah itu bisa nasehati terang-terangan?!” ujar Lucy.
“Iyalah!!” serunya dengan puas.
“Kalau gitu ... kenapa gak Kakak aja yang nasehati mereka berdua? Kakak, kan udah berhijab dan merasa lebih baik dari Putri?” tutur Lucy menatap tajam kearahnya.
“....”
“Kenapa diam aja?” lanjutnya kembali yang melihat perempuan dengan hijab pashmina masih diam membisu.
“Udah, Luc! jangan kebawa emosi gini, nanti kalau ketahuan tante Rossa kita bisa kena hukum,” tutur Kak Mala menangkan amarah Lucy.
Jika itu sampai terjadi, maka beliau akan menghukum kita untuk membersihkan kamar mandi selama sebulan. Itulah yang beliau sampaikan saat aku dan Lucy baru datang kemari.
“Kalian tuh kalau ngomong dijaga dong, khususnya kamu Nar. Di sini kamu yang lebih tua, kenapa malah ikutan menyalakan api?” ucap kak Mala.
“Udah, jangan diperpanjang lagi. Mending kita masuk kedalam aja yuk!!” titah kak Shelly menarikku, dan kak Mala menarik Lucy.
Kita pun beranjak turun dari amben bambu itu.
“Tunggu, Kak!” kataku pada kak Shelly, sehingga menghentikan langkah Lucy dan kak Mala nang sudah berjalan duluan di depan kita.
Aku berbalik menghadap ketiga kakak yang masih diam menundukkan pandangan.
“Aku tak menyalahkan ucapan Kakak-Kakak, karena itulah faktanya. Tapi, jangan pernah menyalahkan hijabku atas perbuatan burukku. Karena hijab dan akhlak adalah dua hal yang berbeda ....”
“Yang perlu Kakak ingat, aku sama seperti kalian. Aku hanya manusia biasa yang tak pernah luput dari dosa. Jika ingin menyalahkan dan menghina, salahkan diriku, hina lah aku, tapi jangan tudung suci ini ....”
“Dia tak salah, justru dia menjagaku. Namun, diriku lah yang selalu kalah dalam memerangi hawa nafsu ... assalamu'alaikum.”
__ADS_1
Kita pun kembali melangkah berjalan pergi meninggalkan mereka. Dan mereka masih diam tak menjawab salamku.
“Kak Dinar, apa kita perlu minta maaf sama mereka? khususnya Putri!”
“Terserah kalian,” sahut Dinar turun dari amben.
“Terus Kakak mau kemana?” tanya kakak tingkat yang beda kampus.
“Warung Nita.”
Dinar pun lekas melesat menuju warung kak Nita yang jaraknya hanya beberapa langkah dari gerbang kosan.
“Nit, aku pesan es teh ya?” tutur kak Dinar nang sudah sampai didepan warung kak Nita.
“Itu tadi ada apa sih ribut-ribut? kalian berantem ya?” tebak kak Nita yang ternyata mengamati kita dari warungnya.
“Ya gitu deh, aku juga gak ngerti sama mereka. Orang dinasehati kok malah gak terima dan ngamuk-ngamuk,” tuturnya yang sudah duduk beberapa detik lalu.
“Gak terima gimana? emang kamu kasih nasehat apa ke mereka?” tanya kak Nita kembali merasa penasaran.
“Kamu tahu anak baru yang beberapa bulan lalu ngekos di sini, kan?”
“Iya tahu, kalau gak salah Putri sama Lucy, kan namanya? emang mereka kenapa?” tanya kak Nita sambil membuatkan pesanannya.
“Itu si Putri, udah tahu pacaran itu awal dari perbuatan zina. Eh dia malah pacaran, aku kasih tahu malah teman bulenya itu sewot dan marah-marah sama kita.”
“Sekar dan Chika juga?” tuturnya sambil menyerahkan pesanan kak Dinar.”
Dinar menerima es teh nya sambil menganggukkan kepalanya, tanda ia membenarkan pertanyaan Nita.
“Mereka ikut memojokkan Putri?” tanyanya kembali dan menarik kursi disebelah Dinar.
“Gak, mereka cuma bisik-bisik doang tapi kena semprot sama si cewek bule itu!”
Dinar pun menjelaskan bagaimana kronologi kejadian beberapa menit lalu pada Nita. Dan Nita tak habis pikir kalau Dinar akan berkata demikian.
Wanita berhijab pashmina ini memang sulit untuk menjaga lisannya, dan mudah emosi jika melihat hal yang dianggap buruk dalam pandangannya.
Nita pun tak memberi respon apa-apa, hanya diam mendengar keluhannya. Dan pantas saja Lucy yang sebagai sahabat langsung menjadi tameng untuk Putri.
__ADS_1
Ia berpikir dalam benaknya, “Jika aku ada diposis Lucy, akupun pasti akan melakukan hal yang sama sepertinya. Dasar, Dinar!”