
Setelah menunggu beberapa lama akhirnya papa datang jua.
“Terimakasih ya, Luc, udah mau nemenin aku nunggu papa.”
Lucy tersenyum. “Sama-sama, Put!”
“Nak Lucy mau sekalian Om anterin juga?” Papa memakaikan helm padaku.
“Gak usah Om, Lucy juga mau ke warnet dulu.”
“Oh ya sudah, kalau gitu Om sama Putri duluan ya.” Pamit papa yang sudah menyalakan starter motor.
“Maturnuwun ya, Nak Lucy, udah jagain anak Om,” imbuh papaku.
“Sama-sama, Om. Dah, Put! hati-hati di jalan ya, Om, Putri!” Lucy melambaikan tangannya.
“Iya, kamu juga hati-hati ya!” balasku yang sudah duduk di jok belakang juga melambaikan tangan padanya.
Aku dan papa segera melaju meninggalkan Lucy, karena katanya dia mau ke warnet. Seperti biasa, dia mau mengedit videonya.
Profesi Lucy yang seorang YouTuber, membuatnya berusaha keras karena dia pun gak punya laptop dan apa-apa selalu sendiri.
Lucy juga sering kali membuat konten seputar kecantikan diwaktu luangnya, seperti saat hari weekend atau setelah tugas sekolah selesai.
Dia juga ingin dirinya seperti Tasya Farasya, dan menjadikannya sebagai motivasi agar Lucy dapat menggapai mimpinya.
Meski penonton dan followersnya belum banyak, Lucy tak pernah putus asa apalagi menyerah.
Kendatipun mimpinya selalu dianggap remeh oleh sang kakak dan ibunya, itu tak membuat Lucy berhenti mengejar mimpi.
“Pah, kok tumben papa pulangnya telat?”
“Tadi pas perjalanan mau ke sekolahmu ban motornya tiba-tiba kempes, setelah dibawa ke bengkel terdekat untuk isi angin rupanya bocor, tertusuk paku.”
“Pantas saja papa lama, ternyata sedang dapat musibah. Alhamdulillah bengkelnya gak jauh dari lokasi kejadian, syukron ya Robb,” batinku lega.
Aku tak lagi mengajak papa ngobrol karena takut mengganggu konsentrasi papa. Angin yang begitu sejuk membuatku jadi menguap.
Beberapa menit sudah akhirnya aku dan papa sampai dengan selamat. Kita langsung bergegas menunaikan sholat Dzuhur sebelum makan siang.
Sepuluh menit kemudian ....
“Put! kalau sudah doanya nanti jangan lupa makan!” seru mama mengecek kedalam kamarku.
Aku berputar memandang mama. “Iya, Mah!” sahutku.
Setelah mendengar balasan ku, mama balik melayani papa, yakni mengambilkan makan siang buat papa.
Sebaliknya, aku kembali mengulas doa nang sempat tertangguh. Aku merenung, menahan lara sakit kalbuku.
__ADS_1
Walaupun aku tak mengingat mu seharian ini, namun saat aku seorang diri, siluetmu kembali hadir memenuhi memoriku.
“Astaghfirullah ... astaghfirullah ... astaghfirullah ...” rintihku dalam bisik.
“Yaa Robb, sedalam apa ia di hatiku? mengapa hadirnya yang singkat berhasil mengambil seluruh hati ini?”
Aku tahu, dia tak pernah meminta hati apalagi cintaku. Justru, akulah yang dengan rela dan senang hati memberikannya.
Tapi ... sakit ini benar-benar pertama kalinya aku rasakan di usiaku yang hampir delapan belas tahun.
Album ingatanku kembali pada tujuh tahun lalu, sampai nyeri kalbuku menjadi double tak tertahan.
Hati dan pikiranku kosong, aku bengong melamun menatap awang-awang. Tanpa sadar batinku mengeluh, “Apa aku tak pantas untuk dicintai? mengapa semua pria senang menyakitiku?”
Aku tersentak tersadar. “Astaghfirullah! yaa Robb ampuni hamba ... hamba tak bermaksud bicara demikian ....”
Kedua telapak tanganku mendarat di wajah, aku terisak tersedu-sedu. “Astaghfirullah ....”
Setelah cukup lama, aku bangkit dan menaruh kembali mukenah dan sajadahku.
Aku memandangi diriku dalam cermin, tampak jelas potret wajahku yang usai bersedih.
“Lebih baik aku tidur dulu aja, daripada nanti pas keluar malah bikin mama khawatir setelah melihat lanjamku,” desisku.
Aku merobohkan tubuhku dan terbaring diatas kasur. Ba'da beberapa menit kupejamkan mata, diriku langsung tepar dan mulai masuk dalam dunia mimpi.
...***...
“Kamu udah bangun, Nak?!” Mama menghampiriku.
“Udah, Mah!”
“Ya udah, kalau gitu sana ambil wudhu terus sholat Ashar kemudian makan. Pasti tadi siang belum makan, kan?!”
“Hehe ... iya, Mah!”
Aku lekas pergi mengambil air wudhu kemudian sholat bersama mama.
Mungkin mama sadar, karena setiap kali aku mengurung diri dikamar artinya aku sedang tak baik-baik saja.
Mama memang tak menghampiriku langsung, karena ingin memberi ruang untukku. Setelah aku tenang, baru kemudian mama menghampiriku.
Selang beberapa menit, kita telah usai menunaikan sholat fardhu Ashar. Aku bersalaman pada mama, lalu lanjut berdzikir dan berdoa.
“Tahan, Put! jangan sampai nitik!” tuturku dalam kalbu.
Aku tak bisa menahan hatiku. Sebelum lacrimaku terjun deras alangkah baiknya aku langsung bergegas pergi menuju kamar.
Mama yang masih belum tamat berdoa, tanpa sadar lacrimanya bercuruan. Entah apa yang membuat mama sedih, aku gak tahu.
__ADS_1
...***...
Aku yang sudah masuk kedalam kamar, langsung mengalihkan fokusku pada buku pelajaran. Pikiranku masih ambyar berantakan, aku kembali berpindah mengambil sebuah Al Qur'an.
Aku membukanya dengan asal, lembaran yang kubuka berada disurah Maryam.
Ku mulai dengan ta'awudz dan al fatihah. Saat aku sampai pada ayat kelima. Aku tertegun, sebuah ayat yang pernah ia lantunkan untukku.
Aku terus membacanya, menahan isak tangis hingga tubuh ini sampai bergetar. Aku tersendat-sendat membacanya dan lacrimaku terus mengalir deras tak berhenti.
Setiap huruf, setiap ayat, aku teringat denganmu. Sampai tanpa sadar aku membacanya sesuai irama yang kamu gunakan sampai pada ayat ketujuh.
“Yaa Allah, betapa malunya aku. Saat aku ingin berbicara denganmu, nama dan wajah hambamu yang terngiang-ngiang dalam kalbu dan ingatanku,” isak batinku.
Aku menutup Al Qur'an karena fokusku yang juga tak teralihkan. Ekor mataku menatap benda kerdil nan mungil disamping bantal.
Aku bangkit dan kudekati benda itu, sekarang ia sudah tergenggam. Ada sebuah pesan, aku sadar itu tak mungkin darinya.
Buat apa juga ia berkirim pesan dengan wanita lain, dia bukan pria seperti itu. Aku juga sudah tak lagi berharap padanya.
Meski dulu kita pernah membangun mimpi. Kamu dan aku, sebelum pelangi menghilang dan badai menghantam.
Hari dimana aku dan kamu saling dekat. Sebelum kamu pergi, juga sebelum aku mengenal wanita bernama Cyra.
Pukul 22:34 WIB.
“Kira-kira aku boleh gak dengerin Kak Nathan ngaji?”
📱“Boleh, tapi aku malu.”
📱“Maaf ya!”
“Gak apa-apa, lagipula nanti juga bisa dengarin Kak Nathan ngaji.”
📱“Kalau itu aku bakal ngaji sampai subuh biar kamu puas dengarinnya.”
“Hahaha ... benar ya! sampai subuh lho!”
📱“Iya.”
Beberapa hari setelah itu, kamu justru mengirim sebuah pesan suara. Saat kubuka, ternyata lantunan ayat suci Al Qur'an yang sangat merdu dan menenangkan kalbu.
Sejarah bayangan pesan tamat.
Masa itu, aku dengan yakin memberikan seluruh hatiku untukmu. Karena aku hanya akan mencintaimu seumur hidupku.
Namun aku lupa, bahwa kamu adalah milik Tuhanku. Takdir kita jua telah tertulis di Lauhul Mahfudz.
Dari situ pula aku mulai mengerti, meski kita bersikukuh menjaga diri dari yang namanya pacaran, namun tak menutup kemungkinan kita bisa lepas dari bisik dan rayuan syaithon.
__ADS_1