
Beberapa hari yang lalu, saat aku usai dijemput oleh papa. Lucy pun sudah pergi beberapa langkah, kemudian disusul dua orang pria yang keluar bersama dari gerbang sekolah.
“Kamu benaran bolos sekolah, ya?” Pria itu yang tak lain adalah Fakri, ia menatap heran tak menyangka pada lelaki disebelahnya.
“Ya mau gimana lagi? hari ini semua mapelnya gak ada yang seru,” ujarnya.
Fakri mengambil ponsel dalam tas gendongannya. “Kalau mau seru gak usah sekolah, mending main aja sono!”
“Ide bagus tuh!”
Tanggapan Fakri malah langsung di setujui dengan senang olehnya. Membuat Fakri berdecak dalam kalbu. “Ck! kenapa aku bisa punya teman super males kayak dia gini sih?” rutuk batinnya.
“Terus aku juga bisa ketemu sama tuan Putri seharian.” Ia tersenyum berbinar-binar.
Mendengar temannya mengatakan kalimat aneh membuat Fakri menatapnya dengan heran. “Tuan Putri?”
“Teman sebangku lu, Bro!” terangnya.
Fakri meresponnya dengan datar. “Oh!”
“Tapi sayangnya dia udah punya pacar.” Kini wajah berbinar itu langsung berubah memelas lesu.
“Gak heran sih, sikap dingin dan cueknya emang bikin para cowok penasaran.” Tangannya tengah sibuk melawan musuh dalam game yang ia mainkan sewaktu dikantin, ML.
“Nah, kan! eh ... kenapa lu berspekulasi kayak gitu? dan ... bukannya kata lu Putri udah punya pacar?”
“Hah? kapan aku bilang gitu? kamu kira aku sama dia itu teman dekat yang bisa bebas ngobrol dan curhat?”
“Kagak sih, malah sebaliknya. Putri kayak anti banget sama cowok.” Langkah dan strategi terhenti di tengah jalan ketika ia teringat tentang kejadian itu.
“Benar juga, sih! waktu aku lewat juga dia langsung minggir gitu, padahal jalan juga masih muat untuk satu orang,” dalam batinnya.
Saat hari Rabu dimana mereka membicarakan pria aneh yang manggil Putri seperti dongeng kerajaan. Dan saat itu juga Putri menghindar ketika dirinya hampir menabrak Fakri.
“Ma—maaf.”
“Apa sih? nabrak juga kagak bilang maaf, aneh!” batin Fakri, dan ia terus berjalan melaju menghiraukan Putri dan Lucy. Sampai kalimat Lucy menusuk telinganya.
“Kamu kenapa, Put?! segitunya kamu benci sama si Fak—”
“Astaghfirullah! Lucy! jangan menyebar fitnah!” tukasnya menoleh kearah Lucy.
Fakri gak peduli, toh selama ini memang banyak wanita yang membenci dirinya. Fakri juga gak butuh perhatian palsu dari mereka.
Meski demikian, memang ada yang bermuka dua. Seperti para ciwi-ciwi dikelas yang suka bicara manis, tapi saat Fakri bersikap dingin mereka langsung melontarkan kebencian.
Namun itu gak berlangsung lama, bahkan hanya beberapa menit saja, dan mereka kembali mendekati Fakri seperti lalat.
Memori usai.
__ADS_1
Plak!
“Woi!“ Pria itu menepuk pundak Fakri dengan keras.
“Apa sih! sakit tau?!”
“Ya lu juga, Fak! bengong kok di jalanan.”
Pukulannya berhasil memecahkan lamunan Fakri, dan karena itu juga Fakri jadi kalah dalam game.
Batinnya menggerutu, “Ya ... kalah lagi deh, dasar Firuz!”
Fakri memanggil pria yang disebelahnya dengan nama Firuz, sepertinya mereka juga cukup akrab. Tapi entah mengapa ia tak ikut nimbrung difoto yang Putri lihat beberapa bulan lalu.
Saat Putri untuk pertama kalinya terpikat oleh Kaum Adam. Yakni, Nathan si cowok virtual yang berhasil merenggut seluruh hati Putri, dan mematahkannya dengan amat sangat keras.
Sebenarnya Fakri kenal dengan Nathan juga Gilang karena dulu masa SD kedua orang Turki ini pernah bersekolah di Indonesia, dan satu sekolah dengan Fakri juga Firuz.
Alasan Firuz gak ikut foto karena dia dilarang pergi oleh ayahnya, dan sedang masa hukuman sebab alpa selama lima hari.
“Ngomong-ngomong seharian ini kamu ada dikantor kepsek?” Fakri menyimpan kembali ponselnya di saku atas baju.
“Menurut lu? aku bisa pergi gitu aja? setelah ketahuan bolos aku diceramahin mulu sampai pengeng nih kuping, mana dari balik ke kantin sama lu itu sampai bel pulang sekolah lagi!”
“Itu sih salah kamu sendiri.”
“Habisnya pilihan yang dikasih daddy balik kesekolah atau diceramahin, coba kalau main ke warnet udah aku pilih yang itu.”
“Ya siapa tau, kan? bokapku lagi menang lotre terus happy dan bebasin anaknya buat main sesuka hati.”
“Ya kali kepsek main gituan. Mimpi aja sana!”
Firuz Sandi Lagwa, ia adalah anak kepsek di sekolah tempat mereka menimba ilmu. Ayahnya Firuz sengaja menyekolahkan anaknya di sekolah lain.
Namun tetap saja Firuz bandel dan suka membolos, tapi masih beruntung karena dia gak jadi preman sekolah.
Meski begitu, Firuz membuat nama baik ayahnya yang seorang kepsek jadi tercoreng. Pasalnya karena tidak bisa mendidik anaknya.
Mama Firuz bersikukuh agar dia sekolah ditempat suaminya mengajar. Namun sang suami, yakni ayahnya Firuz menolak permintaannya dengan tegas.
Padahal jika Firuz sekolah ditempatnya, ia bisa mengawasi Firuz selama enam jam. Dan alasannya karena ia khawatir kalau Firuz akan menjadi Raja Sekolahan jika ia sekolah ditempatnya.
Kemudian sesampainya dirumah, Firuz langsung menulis surat untuk Putri. Dan keesokan harinya dia menitipkan pada Fakri.
Sekarang balik lagi pada kisah hari ini. Saat aku menerima panggilan grup, aku merajut mimpi dalam keadaan perut masih gak enak.
Aku tertidur selama kurang lebih hampir satu jam, dan papa mama juga belum balik kerumah. Aku bangkit dan segera cuci muka.
__ADS_1
...***...
Cplas!
Cplas!
Cplas!
“Habis bangun tidur ya, Nak!”
Deg!
Aku terperangah kaget, mata yang masih terasa pedas kupejamkan sebelah.
Kriett!
Aku membuka pintu kamar mandi, sebelah lanjamku yang terbuka menangkap wajah mama yang tengah beberes di dapur.
Piring-piring yang tadi siang lupa aku cuci karena perut sakit membuatku jadi mager nak berbuat sesuatu.
“Mama sama papa kapan baliknya?”
“Barusan, saat kamu lari kekamar mandi,” seru mamaku.
“Oh ....”
“Itu yang diruang keluarga tas apa?” tanya mama.
“Oh iya! itu paper bag pesanan mama sama papa, dan dapat salam dari teman mama, kalau setelan roknya bonus.”
“Bonus?”
“Iya,” balasku.
Aku kembali melanjutkan membersihkan sabun yang masih menempel di wajahku, dan mama menyelesaikan cuci piringnya.
Beberapa menit selesai, mama langsung memeriksa isi paper bag itu, dan sesuai pesanan. Malah dapat bonus satu set, sama seperti salam yang dititipkan pada anaknya.
Bahan roknya terbuat dari katun embos, roknya juga mayung berwarna black. Sedangkan atasannya model kriwil berwarna baby blue, dan terbuat dari satin velvet, sangat mengkilat.
“Ini buat kamu aja, Put!”
“Buat Elvin aja, Mah, kan Putri udah pilih yang ini.” Aku menjembreng baju dan rok yang bahannya kaos kombi wolfis. “Dan lagi, sepertinya itu kekecilan di Putri,” imbuhku.
“Oh, ya juga sih kalau di bandingkan dengan yang ini.” Mama mengukur baju juga rok dengan setelan bonusnya.
Modelnya memang sama, hanya bahan kainnya saja. Aku request untuk atasannya kain wolfis warna putih bermotif buah ceri kecil-kecil, dan dibuat kriwil membentuk Y.
Sedangkan untuk lengan panjangnya dari kaos dengan model kerut. Karena bahan kaos memiliki dua warna, aku memilih warna lemon untuk kiri, lalu bagian kanan warna hijau.
__ADS_1
Dan untuk rok sama mayungnya, juga kombinasi wolfis dan kaos. Aku request rok dengan model canda tiga susun.
Dengan atasnya berbahan kaos warna hijau, bahan wolfis motif ceri untuk tengah, dan bawahnya kaos warna lemon.