
Beberapa menit berlalu. Doaku terkabul, kita melewatkan permainan perosotan itu. Karena banyak anak-anak yang main itu, untunglah!
“Btw, aku boleh tanya sesuatu?”
“Boleh, mau tanya apa?” balas Viona yang tengah mengayun ayunan dengan kakinya.
“Lu kenapa suka banget sama taman hiburan? apa ada cerita spesial didalamnya?”
Viona menghentikan kakinya mengayun, sehingga ia tak lagi terbang maju mundur. “Kisah ya?”
“Lah, iya, kenapa malah balik tanya?” sahutku.
“Gak ada,” balasnya dan kembali main ayunan.
Aku yang hanya duduk manis tengah merenungi jawaban Viona. “Apa iya? masa sih gak ada alasan khusus?” gumamku dalam hati.
“Dari pada kamu diam aja, mending ayunin aku dong biar terbang lebih tinggi,” titahnya.
Aku melengos dan beranjak bangkit mendekati Viona. Aku berdiri dibelakangnya, bersiap mendorong ia untuk terbang tinggi seperti inginnya.
Wusshh!
Ayunan itu melesat lumayan tinggi tenimbang saat Viona mengayunkannya dengan kaki. Viona tertawa lepas, rambutnya tergerai berlari kesana kemari karena hempasan angin malam.
Aku yang masih setia dibelakangnya, cuma ikut tersenyum bahagia melihat gadis yang tengah duduk di ayunan nang berada di hadapanku.
Kita pun bermain cukup lama, rasa puas pun tergambar dalam raut wajahnya.
“Pulang sekarang?” tanyaku.
Viona mengangguk. “Iya, tapi kita makan malam dulu ya, aku belum makan dari siang nih.”
“Oh, iya juga ya? kita asik main dari siang sampai langit gelap, pantas saja dari tadi cacing diperut lu bunyi mulu. Hahaha ....”
“Rese banget sih! cacing diperut kamu kali!” Viona memukul perutku agak keras.
“Aw! ternyata kebiasaan lu masih sama ya, suka ninju perut orang.”
“Haha ... gak juga sih, itu cuma berlaku buat kamu aja.”
Aku merajuk, “Lu kira aku ini samsak tinju apa? bisa sesuka hati lu pukul-pukul.”
Viona tak merespon, ia hanya terus berjalan dan menghiraukan komentarku. “Ck! lagi-lagi dia diam,” celetukku dalam kalbu.
Setelah berjalan lumayan, kita menemukan sebuah kedai dekat dengan taman bermain. Akhirnya kita makan disana.
Selang beberapa menit, perut kita telah terisi. Usai membayar makanan, kita kembali parkiran di taman hiburan itu. Dan bersiap untuk pulang.
Tapi sebelum itu aku harus mengantarkan Viona pulang lebih dulu. Namun saat ditengah perjalanan, Viona menghentikanku.
“Stop!” Viona memegang tanganku. “Aku turun disini aja,” imbuhnya.
Aku melongo menatapnya. “Di sini?!”
__ADS_1
Viona melepas seat belt nya. “Iya,” balasnya dan langsung keluar dari mobil.
Aku masih mentap heran dirinya dari dalam kaca mobil. “Ya sudahlah, itu maunya dia.”
Kini aku menginjak gas dan mobil pun melaju pergi meninggalkan Viona dipinggir jalan.
Meski aku acuh gak perduli, tapi tetap saja dia itu cewek, mana jalanan lumayan sepi. Aku memarkir mobilku tak jauh darinya, namun masih aman dari pandangan Viona.
Sepertinya dia tengah menelpon seseorang, mungkin menyuruh adiknya untuk menjemput dia. Dan benar saja, selang beberapa menit setelah Viona menelpon, sebuah mobil berhenti didepannya.
Aku melongo. “Hah? sepertinya itu cowok bukan om Jack, juga bukan Sisil adiknya.” Aku masih memperhatikan Viona dan pria asing disana. “Tapi ... mereka juga kelihatan akrab gitu,” lanjutku.
Akupun kembali menjalankan mobilku mengingat mobil jemputan Viona juga usai datang dan pergi.
Perihal cowok itu, mungkin dia pacar barunya Viona. Aku menghela napas. “Huft! bisa-bisanya dia bercanda ngajak balikan, dia sendiri aja udah punya gandengan baru.”
Aku berdecak dan memukul kemudi dengan kasar. Bisa-bisanya cuma karena liat Viona sama lelaki lain mampu membuat suasana hatiku kian memburuk.
Aku mengambil ponsel yang ku simpan di laci penyimpanan mobilku. Sambil menyetir aku menghubungi nomor seseorang yang aku prioritaskan. “Ayo dong angkat, please!” gumamku.
Ponselnya masih tersambung, namun orang diseberang sana belum juga mengangkat panggilanku.
“Kenapa gak kamu angkat? aku lagi butuh kamu banget sebagai penambah energiku!” gumamku melemparkan HP-ku di kursi sebelah.
Entah apa yang sedang ia lakukan sampai tak menjawab telponku.
Saat ini hatiku tengah dilema, satu sisi aku memang menyukainya. Tapi di sis lain, hatiku gak bisa berdusta kalau aku masih menyukai Viona.
Sementara itu, diwaktu yang sama beda lokasi. Dimana ketiga wanita memakai mukenah tengah melaksanakan sembahyang, yakni sholat isya'. Selang beberapa menit ....
“ ... assalamu'alaikum warohmatullah,” ucap mama menengok ke kiri.
“... assalamu'alaikum warohmatullah.” Aku dan Elvina mengikuti mama.
Usai salam, kita saling bersalaman, kemudian kembali duduk dan melanjutkan dzikir serta doa.
Selang beberapa menit. Aku berpamitan dengan mama dan Elvina untuk pergi lebih dulu, karena akupun masih harus menyiapkan diri untuk masuk ke perguruan tinggi.
“Mah, Vin, aku balik ke kamar duluan ya?”
“Gak makan malam dulu?” tanya mama.
“Nanti aja, Mah, habis selesai belajar.”
“Oh, ya udah.”
Aku pergi menuju kamarku, sedangkan Elvina dan mama lanjut mengaji didalam musholla rumah kita, yang terletak di samping ruang tamu.
Hah?! panggilan masuk 49 menit yang lalu? dia telpon ada apa ya?
Aku mengetik dan mengirim pesan untuknya.
Ting! [pesan terkirim]
__ADS_1
***
Ting!
Ting!
Ting!
Aku yang baru keluar dari kamar mandi beberapa jengkal, menyadari ponselku menyala dan berdenting beberapa kali.
Kudekati benda kerdil yang tengah tertidur di atas kasur, sambil menyeka rambutku yang masih basah dengan handuk.
Rupanya pesan dari seseorang yang tak menjawab panggilanku.
[pesan masuk 20:25]
“Maaf ya aku gak angkat telpon kamu, soalnya tadi lagi sholat isya' dan gak ada liat HP sama sekali.”
“HP-ku juga mode silent, memang ada apa ya?”
“Apa ada hal penting?”
“Iya gak apa-apa, maaf aku gak tahu kalau kamu lagi sholat ... gak ada apa-apa, cuma pengen bilang kangen.”
“Hahaha ... tapi sekarang udah nggak, kan?”
“Masih atuh, kan sekarang aku udah gak bisa ketemu kamu lagi.”
“Btw, kamu lanjut kemana, Yang?”
“Bandung, sama Lucy.”
“Oh ya?! aku juga lho!”
“Serius?”
“Iya, aku daftar di Telkom University. Kalau kamu?”
“UIB, kalau Lucy di ISBI.”
“Oh, jadi kalian berencana mau ngontrak bareng ya?”
“Iya.”
Obrolan kita pun seputar masa depan dan karir kita masing-masing, sampai tak terasa waktu sudah jam setengah sebelas. Dan Putri pun sepertinya ketiduran, karena sudah hampir 15 menit dia belum balas jua.
Akupun ikut mengistirahatkan diri, karena seharian ini pun aku merasa letih setelah bermain berjam-jam dengan Viona.
...***...
Waktu beredar dengan acapnya, tanpa berasa kita sudah diterima dikampus impian kita masing-masing. Aku dengan Lucy pun usai mendapatkan kosan khusus putri.
Sedangkan Firuz, katanya ia juga ngontrak bersama Fakri. Sepertinya Fakri juga mengambil jurusan yang sama dengan Lucy, tapi entahlah. Semalam akupun tak bertanya dengan Firuz.
__ADS_1