
“Sepertinya Putri udah tidur.” Pradugaku yang sudah hampir satu jam menunggu balasannya.
Aku bangkit dari meja belajar. Kini ku melangkah mendekati tempat tidur dan merebahkan tubuh diatas kasur, dengan pakaian singlet hitam bercorak petir.
Akupun mulai mengerjapkan lanjamku. Tanpa tahu, jika Putri kekasihku tengah gundah, karena sebuah voice note dari seorang ikhwan yang masih sekeluarga dengan cinta pertamanya.
Bukan aku tak peka, justru aku sudah menduga tentang Putri. Meski ia berhijab, pasti ada alasan kenapa ia sulit menerima pria yang mendekatinya.
Tentu saja, mungkin karena ia memang gak mau berpacaran. Ditambah dalam islam pun gak ada namanya pacaran, hanya mengenal dengan sebutan ta'aruf, khitbah, kemudian menikah.
Bahkan! saat hari kelulusan, aku sungguh tak menyangka, kalau pernyataan cintaku diterima begitu saja. Padahal aku hanya mencoba keberuntunganku, sampai batinku pernah berpikir.
“Mungkin sekarang Putri udah bisa move on dari masa lalunya.” Aku menatap Putri yang enggan dan malu untuk menatap diriku.
Meski awalnya hanya iseng dan coba-coba. Namun aku benar-benar dengan tulus mencintai Putri, dan gak ingin melewatkan kesempatan yang ada di depan mataku.
Sambil tersenyum, aku bertekad dalam hati.
Karena kamu udah berusaha keras untuk membuka hati, aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini, walau kamu masih sulit untuk memberikan hatimu untukku, aku akan selalu menunggumu.
Aku tersenyum. “Kalau gitu aku langsung balik ke sekolah ya? pasti di sana juga udah mulai acaranya.”
Putri masih menatap lurus lantai. “Iya.”
Akupun pergi meninggalkan Putri yang masih belum menatap kepergianku.
Album memori usai.
Sementara itu, di ruang keluarga tengah ada perbincangan serius antar mommy dan daddyku.
“Daddy yakin? setuju gitu aja tentang keputusan Firuz yang ingin kuliah di Bandung?”
“Yakin Mom,” jawabnya yang tengah membaca koran.
“Mommy juga lihat sendiri, kan. Sekarang dia sudah rajin belajar dan gak perlu disuruh-suruh lagi. Dan nilai kelulusannya juga cukup bagus, gak sampai mempermalukan keluarga kita,” sambungnya.
“Ya sih, tapi kok bisa dia berubah cepat gitu? Mommy benar-benar gak ngerti sama tuh anak, tapi Mommy senang dia bisa berubah, dan gak main terus kerjaannya.”
“Kenapa heran? jelas dia itu sedang kasmaran, sama kayak Daddy nya waktu muda dulu,”
“Sama siapa?” Shava—mommyku menatap tajam ke arah daddy.
“Ya sama Mommy lah, kan dulu juga Daddy lebih suka main dibanding belajar. Persis banget kayak Firuz, gak ada yang dibuang.”
__ADS_1
“Hahaha ... namanya juga anak, gak bakal jauh sama orangtuanya,” ujar mommy. “Kalau Firuz berubah karena ada kaitannya sama seorang gadis, apa dia sama Viona udah baikkan?” lanjutnya lagi.
“Mungkin.”
...***...
Keesokan harinya, aku sudah sangat rapih dan harum. Tentu saja, penampilanku hanya untuk Tuan Putriku. Eh, tidak deh. Sekarang dia sudah menjadi Ratu dihatiku.
Aku berjalan menuruni tangga, sambil bersiul. Nayamku menilik jam yang berwarna rose gold melingkar dipergelangan tangan, dan arlojiku menunjukan pukul sembilan lewat satu menit.
“Firuz!” panggil mommyku yang tengah duduk.
“Ya, Mom! kenapa?” Aku menilik kearah mommy, dan seorang gadis yang kukenal.
“Kok kenapa? kamu siap-siap gitu pasti kalian mau kencan, kan?”
“Enggak! aku sama Viona juga udah lama putus.”
Aku pergi melewati mommy dan Viona yang masih duduk di sofa. Namun langkahku terhenti ketika seseorang meraih dan menahan lenganku.
“Viona? apa-apan sih! lepasin!”
“Gak mau, wlee.” Ia menjulurkan lidah manjanya dengan maksud mengejek.
“Tante, kita pergi dulu ya, bye!” Viona berpaling kearah mommy dan memberikan kiss bye. “Bye Sayang,” balas mommy dengan hal yang senada.
Aku masih enggan dengan gadis nang tingginya hanya sepundakku. Namun ia semakin berani menarik diriku keluar rumah, tanpa peduli wajah bengisku.
Dia adalah Viona, cinta pertamaku. Memang jauh banget dengan Putri. Dia tanpa ragu main peluk lenganku, sedangkan kekasihku saat ini saja masih menjaga dirinya dalam batasan.
“Kamu ngapain sih datang kesini?” ucapku dengan nada tak suka juga dingin.
Bukannya menjawab, Viona malah menggodaku. “Ciee, kamu! jangan-jangan masih suka sama aku ya?!”
“Gak!” Aku membuang muka. “Udah lepasin!” imbuhku kembali meloloskan tanganku dengan kasar.
“Cih, kok kamu galak gitu?” Viona mumuncungkan bibirnya. “Apa karena udah punya pacar?” sambungnya.
“Iya! makanya jangan asal peluk, dan hush ... jauh-jauh sana!” usirku dengan mengibaskan tangan.
Aku langsung masuk kedalam mobil, dan bersiap untuk meluncur. Tapi lagi-lagi, dia mengikutiku dengan gesitnya langsung masuk dan duduk di kursi depan mobil.
“Ngapain sih! sana turun!” pekikku.
“Gak mau!” Menggelengkan kepala dengan manja.
Aku hanya bisa menghembuskan nafas, dan mengemudikan mobilku. Terpaksa hari ini aku mengurungkan niat untuk bertamu kerumah camer.
__ADS_1
“Btw ... pacar kamu alumni dari sekolah kita?”
“Bukan!” Aku masih fokus menatap jalanan.
“Kalau begitu, dia alumni mana?”
“Kepo banget sih! mending sekarang lu tentuin mau kemana? kalau gak ada tujuan aku antar pul—”
“Taman bermain,” sergahnya.
“Gak ada tempat lain apa selain taman bermain?”
“Gak ada.” Viona tersenyum.
Aku gak ngerti dengan mantanku ini, mengapa dia sangat senang sekali dengan taman bermain. Bahkan saat kencan pertama kita, dia juga ingin pergi ke taman bermain.
“Apa dia gak bosan?” gumamku dalam hati. “Ya sudahlah, gak penting juga alasannya kenapa, kan sekarang dia itu bukan orang yang harus aku pikirkan,” sambungku kembali dalam kalbu.
Mobilku melaju berjalan menuju tempat yang biasa Viona kunjungi. Dan harus ekstra sabar ketika kita sudah sampai disana.
Karena Viona akan menjelajah semua permainan yang ada disana sampai puas, itu pun memakan waktu sampai malam.
OMG! harusnya hari ini kencan pertamaku dengan Putri, mengapa aku malah pergi berdua dengan mantanku? mengapa juga dia bisa ada dirumah?
“Apa Firuz benar-benar sudah melupakanku? mengapa secepat itu kamu menemukan penggantiku?” ujar Viona dalam batin.
“Btw, kamu belum jawab pertanyaanku yang tadi lho!”
“Yang mana?”
“Cewek kamu?”
“Oh ... dia satu alumni dengan Fakri, sekolah tempat daddy ku menjabat sebagai kepsek,” terangku yang masih memperhatikan jalan.
“Cantikan aku apa dia?”
“Kalau masalah cantik, ya cantikan kamu. Tapi—”
“Tapi apa?” sergahnya tak sabaran.
“Jauh berhargaan dia, ibaratnya tuh seperti permen. Dia permen yang masih terbungkus rapih. Dan lu itu, permen yang udah terbuka bungkusnya, lalu disukai oleh banyak semut.”
“Ck! apaan sih bandinginnya gitu amat!”
“Yang nanya cantikan, siapa? kan lu sendiri? giliran dijabarkan malah gak terima, dasar cewek!”
“Ya gak gitu jugalah.”
“Tapi, kan fakta!”
__ADS_1