Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 42) Putri


__ADS_3

Keesokan harinya....


“Kok belakangan ini aku jarang banget liat Putri ya? apa dia sedang sakit?” pikirku terus memperhatikan dua cewek yang selalu berangkat bareng Putri.


Tapi lagi-lagi hari ini Putri gak terlihat bersama mereka. “Semoga dia baik-baik saja, jika sedang sakit sembuhkan ia ya Allah,” ucap hatiku.


Saat mereka sudah berjalan masuk ke kampus, aku pun keluar dari persembunyianku. Bukan sembunyi sih, aku cuma masih berdiam diri ditempat parkir bersama teman-temanku.


“Bro! aku masuk duluan ya.”


“Udah mau pergi? di sini aja dulu, kan belum masuk juga.”


“Gak deh, nanti aku malah ikut-ikutan jadi pemalas kayak kalian,” tuturku mengejek mereka dengan bercanda.


Tau, kan? bukan mengejek merendahkan ataupun menghina, hanya untuk lelucon saja.


“Dih! ya deh yang pintar tuh, sana jauh-jauh dari kita,” balas salah satu dari mereka yang gayanya paling keren di antara kita.


Aku tertawa kemudian berpamitan. “Assalamu'alaikum.”


“Wa'alaikumussalam,” jawab mereka serentak.


“Oh ya? kalian ada yang kenal sama Putri gak?” tanya Gino yang tadi menyuruhku untuk tetap stay.


Mendengar nama Putri keluar dari mulut mereka menuntun langkahku kian terhenti.


Walaupun ini bukan pertama kali mereka menggosipkan Putri. Namun tentu saja aku kurang suka mendengarnya.


Apalagi mereka selalu bercapak-cakap dengan sok tahu, seolah mereka paling kenal siapa itu Putri. Dan aku pun mengurungkan niatku untuk pergi ke kelas.


“Putri? Putri siapa? Putri anak pak Halim apa puterinya pak Hakim?” balas salah satu dari mereka dengan gurauan.


“Yaelah, orang lagi serius malah bercanda.”


“Ya terus yang lu maksud tuh puterinya siapa?“ tanya Rey si cowok yang keren itu tapi playboy.


“Itu lho, cewek yang selalu cuek tiap kali Rey goda,” jelasnya.


“Oh, yang pakai hijab itu ya?”


Tebak Fian, si cowok paling alim tapi gara-gara Rey dan Gino jadi ikut-ikutan nyelimpang. Walau masih dibatas wajar, cuma kebawa-bawa jadi anak motor saja.


Untungnya si Gino anak pemilik sirkuit, jadi tiap kali mereka merasa boring akibat tugas kampus, mereka bertiga selalu melepaskan keboringannya ditempat balapan. Sedangkan aku, cukup dari penonton saja.


“Memang ada apa dengannya? dia bikin cowok sakit hati lagi?” tanya Rey dengan nada sinis tak suka.

__ADS_1


“Bukan,” seru Gino. “Dari yang kudengar katanya dia berhenti kuliah,” sambungnya lagi.


“Berhenti?” gumam batinku.



Aku cukup terkejut dengan kabar yang kudengar dari Gino. Yang jelas, Putri pasti punya alasan kenapa dia berhenti. Tapi ini benar-benar bukan seperti Putri yang kukenal.


Batinku terus mencerocos.


Aku tahu dan kenal betul Putri itu seperti apa, dia sangat senang dan gemar menuntut ilmu. Gak mungkin dia berhenti!


Apa dia pindah kuliah ke Jakarta? ah! ya pasti begitu, mungkin om sama tante Adira gak bisa jauh-jauh dari Putri. Makanya beliau membujuk Putri agar kuliah di Jakarta saja.


Tapi, kenapa gak dari awal saja Putri menerima usulan kedua orangtuanya?


Aku melamun sejenak ketika sebentuk kata melintas dalam benakku. ‘Putri pulang ke Jakarta gak mungkin karena sebuah lamaran, kan?’


“Kok bisa? apa dia dari keluarga gak mampu?” tanya Fian memasang raut wajah tanda tanda.


“Kalaupun ia, seharusnya biaya kampus ini masih bisa terjangkau, kan dia juga menggunakan beasiswanya.”


Ungkap Rey yang masih enggan memasang ekspresi pada wajahnya.


Waktu itu, Rey sangat percaya diri bahwa wajah tampannya bisa menggaet hatinya. Tapi syukurlah, Putri malah menghancurkan ekspektasi Rey terhadap dirinya.


“Woy, Zam! kok lu malah bengong di situ? katanya mau balik ke kelas,” sentak Gino menepuk pundakku dengan keras sampai aku terbangun dari lamunan yang hanya prasangka saja.


Rey mengejekku.



“Sepertinya Azam merasa khawatir dengan tuan putrinya yang dia sukai diam-diam, hahaha ....”


“Hei, Rey! kamu masih marah sama Putri?” tanya Fian dengan wajah polosnya.


“Diam lu!” sentak Rey sehingga membuat Fian langsung membungkam mulutnya rapat-rapat.


“Aku masih di sini karena kupikir kalian akan membicarakan Putri yang nggak-nggak,” balasku dengan dingin menatap mereka bertiga.


“Gua heran deh sama lu, kalau emang lu suka sama Putri kenapa gak langsung tembak aja dia,” ucap Fian.


“Iya, nanti si Putri diambil orang lho. Tapi cowoknya bukan si Rey, dia jauh banget dari tipenya.”


Ujar Gino yang kemudian disusul dengan suara tawanya yang lolos dan diikuti oleh Fian nan juga ikut tertawa bersamanya.

__ADS_1


“Iya-iya, gua emang bukan tipenya si Putri makanya dia cuekin gua mulu tiap kali gua rayu gak ada ekspresi sama sekali malah ninggalin gua sendirian dikelas,” tukas Rey dengan kesal dan emosi.


“Wah-wah, ternyata lu masih ingat dengan sangat jelas ya, Bro!”


“Ya iyalah, ini tuh kejadian yang langka banget dalam hidup gua. Lu pikir gua dengan mudah bisa lupakan itu, hmm?!” tanya Rey dengan ketusnya pada Gino.


Bukannya membalas pertanyaan Rey, Gino malah merespon dengan menertawakannya.


“Ck! udahlah gua mau pergi dulu, bye!”


Usai berpamitan, Rey pergi meninggalkan kita dengan wajah tak senang dan kesal karena terus-terusan jadi bahan ejekannya Gino.


Aku bersyukur, karena Rey bukan tokoh antagonis dalam novel yang akan membalaskan dendamnya atas perlakuan Putri kepadanya.


Untunglah kita hidup di dunia nyata ....


“Oh ya, Zam! lu yakin gak mau ikutin saran gua?” tanyanya begitu penasaran.


“Gak.”


“Kenapa?” tanya Gino si tukang kepo dan sok tahu. “Menurut gua, tipe-tipe cewek kayak Putri gitu pasti suka sama yang modelan kayak lu gini,” sambungnya lagi.


“Selain jago mengaji, pandai juga menjaga sholat lima waktu, lulusan terbaik dari pesantren lagi!” lanjutnya kembali menegaskan kata lagi.


“Kamu tuh terlalu berlebihan dalam memuji, gak baik lho?”


“Tapi emang benar begitu, kan faktanya. Benar gak Fian?” tanya Gino melengos melihat Fian.”


“Betul sekali Bro!”


“Tau apa kamu Fian, kita aja gak satu alumni.”


Fian berceloteh, “Meski beda sekolah tapi aku sangat-sangat setuju dengan Gino, waktu kemarin main ke rumah Rey, lu juga malah sibuk dengan buku islami lu daripada ikut nimbrung main PS dengan kita....”


“Dan lagi, itu fakta kalau lu pintar ngaji dan menjaga sholat lima waktu. Setiap kali adzan berkumandang, lu selalu nyuruh kita buat sholat dan lu selalu yang jadi imam....”


“Suara lu juga merdu kayak imam-imam masjid terkenal gitu, mana lagi surat yang lu baca panjang-panjang, untung gua bisa ngikutin.”


“Itu jelas, Azzam itukan lulusan Tahfidzul Qur'an,” ujar Gino menepuk pundakku.


“Serius, Zam?!”


“Udahlah aku mau cabut aja daripada dengerin omong kosong kalian.” Aku melangkah pergi meninggalkan mereka ditempat parkiran kampus.


“Omong kosong? orang kita lagi muji dia malah dibilang omong kosong,” gerutu Gino.

__ADS_1


__ADS_2