Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 24) Hati yang Sakit


__ADS_3

Melihat cemilan dan minuman yang ia pesan berada didalam kantong keresek itu, Lucy hanya bisa diam saja ketika titipan mereka dan miliknya suah berpindah tangan.


Fakri dan Lucy pergi kembali ke kelas. Selama perjalan sangat hening, gak ada percakapan apapun.


Hingga saat mereka sampai di bawah tangga, mereka berpapasan dengan Firuz, sohibnya Fakri.


“Kalian udah pacaran, ya? cieee ...” godanya pada Fakri dan sahabat pacarnya.


“Gak kok, kita cuma kebetulan ketemu dikantin terus dia cuma bantu bawakan saja.”


Lucy yang sibuk menjelaskan, nayamnya diam-diam menilik Fakri yang sudah naik tangga meninggalkan dirinya.


“Oy, Kri!” pekik Firuz mendongak menatap temannya. “Pacar kamu ketinggalan nih,” sambungnya mengejek Fakri. Namun Fakri terus berjalan dan mengabaikan Firuz, kini langkahnya sudah berada di atas tangga.


“Kita emang gak pacaran kok!” jelas Lucy untuk kesekian kali.


“Iya—iya.” Firuz mempercayainya menurut tatapan Lucy. Tapi dalam batinnya, Firuz gak percaya.


“Hahaha ... aku bakal ledekin lu terus, liat aja nanti!” batinnya menyeringai, menilik Fakri yang sudah menjauhi tangga. Bahkan bayangannya pun sudah hilang dari pandangan Firuz dan Lucy.


“Kalau gitu aku pergi juga ya?”


“Iya.” Firuz tersenyum ramah.


Kini Lucy berjalan menaiki tangga, dan terhenti sejenak. Lanjamnya menjuling menatap Firuz yang masih belum beranjak dari bawah tangga.


“Btw, selamat ya. Aku titip Putri sahabatku, jangan sakitin dia, kalau kamu berani macam-macam, kita sahabatnya bisa jadi tameng dan pisau disaat yang sama.”


Pesan ancamannya nang disertai tatapan tajam teruntuk Firuz.


“Haha ... tenang aja, aku gak bakal sakitin dia kok.” Firuz semringah senang, saat memorinya mendorong ia ke masa beberapa menit yang lalu.


“Kalau gitu aku boleh gak manggil Tuan Putriku dengan sayangku?”


“Boleh.”


“Kalau cintaku?”


“Boleh.”


“Istriku?”


Impresi usai.


“Pfft!” Firuz menahan tawa. “Dia gemas banget sih saat gak bisa jawab, dan wajahnya langsung kayak tomat,” kagum nya dalam kalbu.


Melihat Firuz yang tengah menahan tawanya, terpancar aura bahagia yang menjelma menjadi sebentuk eye smile.


Langkah Lucy terhenti. “Sepertinya dia benaran suka sama Putri,” tuturnya dalam hati. Lucy kembali melangkah menyusul Fakri.

__ADS_1


Rupanya Fakri sudah sampai dikelas, dan tengah memberikan kantong keresek itu dengan kasar. Lalu pergi meninggalkan kelas.


Fakri yang baru berjalan sepuluh langkah dari pintu kelas, pandangannya bertemu dengan Lucy. Langkahnya sempat terhenti untuk beberapa detik.


“Kenapa kamu kacang?”


Kalimat Lucy menghentikan pergerakan kakinya yang sudah melangkah di samping Lucy. Fakri menatap Lucy yang masih berdiri ditempatnya.


“Kenapa kamu gak jawab seperti kamu menjawab Mira, tadi?” sambung Lucy kembali.


“Terus ... kamu sendiri gimana? ... kenapa gak mengabaikannya seperti yang kamu lakukan saat Mira—”


“Karena aku capek!” tukas Lucy menghentikan ucapan Fakri. Sedangkan Fakri diam saja, walau batinnya agak tersentak.


“Kamu yang selalu menganggap angin lalu lalang setiap kali aku angkat suara untukmu, dan kamu juga gak peduli tentang pendapatku tiap kali temanmu atau temanku menggoda kita.”


Lucy mulai berkaca-kaca, kristal bening tengah menggenang dibawah lautan matanya. Hanya tinggal menunggu kapan sang pemilik telaga mengijinkan mereka terjun.


“Lalu ... kenapa kamu mempertanyakan jawabanku? mengapa kamu gak menghiraukan Mira? bukankah selama ini kamu selalu gak peduli,” sambungnya lagi.


“Aku—” Fakri menelan ucapannya yang sudah siap meluncur. “Aku pergi dulu.” Ia pergi memunggungi Lucy.


Air telaga yang sudah menunggu untuk turun kini ia sudah mengalir, Lucy menutupi wajahnya.


Aku, Nia dan Mira yang menyaksikan itu langsung keluar kelas menghampiri Lucy, dan memeluknya dengan erat, hingga hampir memenuhi tempat lalu lalang para siswa/i.


Kita berjalan kedalam kelas, kini Lucy masih bersedih. Aku dan kedua temanku gak tahu apa yang mereka uraikan. Kita juga tak bisa curi dengar karena jarak mereka lumayan jauh dari kita.


Aku gak tahu kalau Lucy, sahabatku yang satu ini menyukai Fakri. Pasalnya selama ini dia tak pernah menunjukkan gerak-gerik orang yang sedang jatuh cinta.


Namun gak tahu jika itu Nia dan Mira, karena mereka bertiga selalu kumpul dan main bersama. Sedangkan aku tak pernah mendapat ijin dari papa tiap kali mereka mengajakku untuk bermain.


Bukan karena mereka begini begitu, tapi menurut papa, anak perempuan itu tempat terbaiknya adalah rumah. Jauh dari pandangan para Ajnabi, lelaki yang bukan mahrom.


Apalagi jaman sekarang banyak wanita hamil diluar nikah, karena pergaulan mereka yang terlalu bebas dan bercampur baur dengan pria.


...***...


Setelah acara kelulusan selesai dengan segala hal-hal tak terduga, aku tengah merebahkan diri diatas kasur yang empuk ini. Nang sekarang motifnya berubah menjadi bunga lavender, seperti cat dinding kamarku.


Aku kembali menggunakan instagram yang sudah aku anggurin selama ini. Karena sekarang ada kamu yang membantuku untuk melupakan cinta pertamaku.


“Kenapa masih nyeri?” batinku.


Sesak dalam kalbu perlahan memudar ketika sebuah notif membangunkan hatiku dari lamunan masa lalu.


Ting!


📱“Kamu lagi apa, Sayang?”

__ADS_1


Lanjamku terbelalak. “Uuh ... aku masih gak terbiasa membaca kalimat akhirnya,” keluhku dalam kalbu.


“Tiduran, kamu?”


📱“Lagi mikirin kamu.”


“Hahaha.”


Aku tak tahu harus merespon seperti apa, karena aku masih gak terbiasa dengan perasaan yang kamu berikan.


Ia terus membuka topik setiap kali balasanku hanya sebatas 'Iya.' Sampai tak berasa waktu sudah memperingatkan untuk sholat Ashar.


“Di sini udah adzan, aku sholat dulu ya?”


📱“Iya, aku juga. Nanti jangan lupa sebut namaku dalam doamu ya!”


“InSyaa Allah.”


Aku beranjak pergi untuk mengambil wudhu. Selang beberapa menit aku tengah melaksanakan sholat fardhu Ashar berjamaah, dengan mama dan adikku, Elvina.


“ ... assalamu'alaikum warohmatullah.”


Elvina dan aku mengikutinya setelah mama. Saat ini kita usai menunaikan kewajiban kita sebagai ummat islam, yakni sholat yang berada diurutan kedua dalam rukun islam.


Aku kembali kekamar, dan nampaknya ia pun telah tuntas menunaikan sholat Ashar.


Aku membuka pesannya. 📱“Sayang! kamu gak lupa sebut nama aku, kan?”


“Hehe ... aku lupa.”


📱“Kok kamu gitu sih, aku jadi sedih nih, ternyata cuma aku yang menginginkan kamu.”


Diakhir pesannya ia memberi emoji tangis, aku hanya bisa tertawa kecil melihat pesannya.


“Cup-cup ... aku cuma bercanda kok.”


📱“Aku tahu, kamu gak akan bisa lepas dari pesonaku, kan pacarmu ini sangat tampan melebihi si Fakri, hahaha.”


Aku tersenyum. “Benar-benar deh, kenapa dia bisa senarsis ini sih?” gumamku dalam hati.


Baru beberapa menit lalu aku menghadap Tuhan ku, memohon ampun, namun aku kembali bermaksiat. Aku sungguh malu, yaa Allah.


Kenyamanan yang ia beri, serta keinginanku yang kuat untuk move on dari cinta pertama, membuatku melenceng pada laranganmu, yaa Robb.


“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” {Qs. Al Isra' [17] : 32}


Tanpa sadar, aku telah terjerumus pada sesuatu yang dibenci oleh Tuhan-ku. Aku sudah salah memilih jalan untuk melupakan dirinya.


Kini, imanku tengah turun, hatiku sedang sakit.

__ADS_1


__ADS_2