Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 43) Elvina Jadi Mak Comblang?


__ADS_3

“Btw, gua jadi penasaran sama tuh anak,”


Fian bertanya, “Siapa? Putri?”


“Bukanlah! tapi Azzam!”


“Kenapa lu penasaran sama Azzam? lu bukan salah satu dari kaumnya nabi Luth, kan?” ucap Fian langsung bergeser menjauhi Gino.


“Gila ya lu?! sembarang aja kalau ngomong!!”


“Ya kalau gitu lu penasaran kenapa?”


“Gua itukan satu sekolah sama dia, tapi dia selalu nolak cinta para ciwi-ciwi di kelas kita. Bahkan nih ye, primadona sekolah kita yang aduhai juga di tolak lho?! kalau gua sih—”


“Jangan mimpi, si primadonanya juga gak bakalan mau sama lu,” tukas Fian.


“Hey! gua jadi gak percaya sama muka lu yang polos itu, kata-kata lu tuh menunjukkan kalau lu gak sepolos wajah lu,” celetuk Gino.


“Memang!”


“Cih! rupanya lu sama berengseknya kayak si Rey.”


“Hahaha, kan lu juga sama. Gua jadi gini juga, kan gara-gara lu sama Rey.”


“Dih malah nyalahin gua, lu aja yang gak bisa jaga pager kayak si Azzam. Dia juga selalu kita ajak tapi kekeh banget nolak, sampai kita sendiri bosan ngajakin dia.”


Sementara itu disisi lain berbeda tempat dan ruang namun masih satu waktu.


Sebuah email menghampiri ponselku yang sudah agak rusak gegara perlawanan waktu itu. Meski begitu, dia masih memberikan fungsinya untukku.


Di siang ini, email dari sang penerbit memberitahu kabar buruk, bahwa novelku gagal mereka terbitkan karena aku tak bisa menyelesaikan tepat waktu.


Ya mau gimana lagi, qodarullah. Jika aku bisa memilih takdirku, aku gak menginginkan kejadian itu terjadi. Aku ingin menuntaskan novelku, tapi takdir berkehendak lain.


Aku hanya bisa menerimanya, walau ada sesal dan amarah dalam hati.


Ting!


Sebuah notif kembali mengusik. Ada beberapa akun hadir dan memfollow akunku. Aku masuk pada aplikasi yang berbentuk seperti kamera itu.


Semuanya berpakaian santri, dengan profilnya menunjukkan sorban panjang di atas kepala yang dililit menjadi sebentuk turban.


Tak kalah dengan para akhwat nya, profilnya membangun rasa penasaran dan kagum secara bersamaan.


Gamis syar'i nan berpadu dengan khimar panjang juga cadar yang hanya memperlihatkan sepasang mata.

__ADS_1


Padahal aku benar-benar sudah maksimal banget menjauhi segala hal yang berhubungan dengan kak Nathan. Entah itu tempat singgahnya yang di Indonesia, ataupun teman seangkatannya.


Dari sekian santri di Indonesia, mengapa mereka semua satu ponpes dengannya?


Aku telah membuat akun baru, tapi kenapa semua orang disekelilingnya masih beredar disekitarku?


Semakin aku bersikeras menjauhimu, semua tentangmu perlahan hadir menyapa.


Aku menghela nafas lelah dan bergumam, “Kenapa engkau masih membuatku terikat dengannya? aku sungguh ingin melupakan hambamu yang satu ini ya Robb!”


Dalam lamunan aku tersentak karena dekapan seseorang dari belakang dan hampir membuatku ingin lari menjauh darinya.


Hingga sebuah panggilan yang tak asing mengurungkan niatku. “Teh Putri!” serunya.


Aku melengos, potret wanita berhijab yang lebih muda 3 tahun denganku, kini ia tengah semringah memelukku. “Elvin?”


Panggilku pada wanita muda yang masih enggan melepaskan pelukannya.


“Kok kamu ada di sini? kapan pulangnya?”


“Semalam,” jawabnya. “Pas tahu Teh Putri udah balik, aku langsung pergi kekamar Teteh. Tapi masa papa ngasih tahunya pagi ini, padahal Elvina tuh kangen banget sama Teh Putri,” sambungnya merajuk.



Kata kangen yang sangat panjang pun ia ujarkan.


“Udahan dulu lepas kangennya, sekarang ayo kita sarapan,” ajak mama menghampiri kita yang masih berdiam di kursi belajar.


Elvina menarik tanganku. “Ayo Teh!”


Aku mengikuti langkah Elvina dan mama menuju meja makan.


Selang beberapa menit, kita semua duduk dan menyantap makanan buatan mama yang beraneka macam lauk pauk yang masing-masing tiga jenis.


“Teh! Teteh punya pacar ya?” resik Elvina yang duduk di sampingku.


“Kamu ngomong apa sih? kamu kira Teteh ke Bandung itu nyari jodoh?”


“Hehe, ya kali aja gitu teh, sambil menyelam minum air.”


Entah apa yang ada di otak adikku ini. Bukannya fokus belajar malah mikirin teteh nya udah punya pacar atau belum.


“Hish, si Teteh malah kacangin Vina. Kalau emang gak ada, mau gak dikenalin sama lurah pondoknya Elvin?” tanyanya yang masih tak ada respon dariku.


“Soalnya pas tiap kali Teteh ikut jenguk Elvin, katanya dia tertarik sama teteh, bisa dibilang cinta pada pandangan pertama,” lanjutnya membeberkan.

__ADS_1


“Kapan Teteh jenguk kamu, orang udah 2 tahun Teteh gak ikut dateng ke ponpesmu,” ujarku dan lanjut menyantap makananku.


“Pas Teteh belum ke Bandung, kan Teteh sering kali ikut jenguk Elvin.”


“Oh.”


“Jadi gimana? mau gak?”


“Mau apa?”


“Sama lurah pondokku? dia belum tua-tua amat kok, masih 27 tahun, beda 7 tahun aja dari Teteh.”


“Dari pada sibuk jadi mak comblang, mending kamu fokus aja sama pelajaran di pondok, apalagi di pondok banyak banget, kan hafalan-hafalannya.”


“Kok Teteh tau? jangan-jangan lagi dekat sama anak santri ya?”


“Jangan ngaco deh.” Raut wajahku berubah masam, walau dari awal pembahasan aku sama sekali tak bersemangat. “ Udah, mending kamu lanjutin aja makannya, Teteh mau balik ke kamar,” imbuhku.


“Oh? emang Tetah udah selesai?”


“Alhamdulillah,” balasku pergi meninggalkan meja makan.


“Pah? Mah? kalian setuju gak?”


“Elvin, udah jangan bahas ini dulu. Teh Putri juga belum ada niat untuk menikah,” balas papa.


“Tapi, kan bisa tunangan dulu Pah!”


“Tunangan juga gak bisa ambil main terima gitu aja, apalagi mereka juga belum saling kenal. Dan sepertinya teh Putri juga gak tertarik dengan lurah pondok di ponpesmu,” terang papa.


“Jangan-jangan... yang tertarik sama lurah pondok itu kamu ya?” tebak mama.


“Ish, Mama. Ya nggaklah, aku ya cuma sayang aja gitu kalau teh Putri nolak.”


“Sayang, puteri keduanya Mama dan papa. Kalau memang mereka jodoh, Allah pasti akan mempertemukan keduanya. Jalan mereka pun untuk bersama pasti akan dipermudah,” tutur mama.


“Gak perlulah kamu repot-repot memuji dia agar teh Putri tertarik dan mau ta'aruf dengannya, atau bertunangan dengan dia,” lanjutnya kembali.


“Kok Mama bisa tau sih kalau Elvina emang berniat mau dekatin teh Putri dan koar-koar tentangnya, hehe.”


“Tau dong, kan mama kamu ini memang jagonya baca pikiran puteri-puterinya,” puji papa menatap lembut nan hangat pada mama dan Elvina.


Elvina berbinar-binar kagum. “Wow! beneran, Mah? tanyanya dengan sangat polos percaya ucapan papa.


“Jangan didengerin, mending kamu habisin makanannya, kalau sudah bantu Mama ya?” pinta mama dengan lembut.

__ADS_1


Selang beberapa menit ....


Dua wanita berhijab itu sibuk membuat adonan kue. Segala macam bahan yang tergeletak disamping pun mereka campurkan, juga setiap wadah memiliki 3 warna. Sementara itu ....


__ADS_2