
Aku dan Firuz terus bertukar pesan via WhatsApp. Tersenyum, kadang terkekeh sendiri melihat balasannya, benar-benar menggelitik perut. Sampai tak terasa, langit sudah semakin gelap.
“Udah jam sepuluh aku tidur dulu ya.”
📱“Iya, met bobo Sayang.”
Balasnya diakhiri emoticon kiss love.
“Iya, met rehat juga ya.”
Dia masih online dan meladeni chatku. 'Iya, Yang.' Namun aku tak lagi menjawabnya. Entah akan sampai jam berapa jika aku menggubris pesannya kembali.
...***...
Keesokan harinya, pukul tujuh, dua puluh lima menit. Aku tengah berbenah rumah yang dimulai dari kamarku. Sedangkan Elvina, ia membantu mama memasak di dapur.
Mama bilang, hari ini mama ingin syukuran karena aku dan Elvina masuk ketiga besar saat kelulusan kemarin.
Aku yang tak ada bakat memasak cuma bisa sekedar merapihkan rumah saja, agar mama pun tak perlu capek-capek berbenah lagi usai memasak.
Btw, adikku udah pulang beberapa hari yang lalu. Karena di ponpesnya juga telah selesai dengan ujiannya, dan saat ini pun tengah libur.
Dan bagi semua orang yang baru lulus akan memikirkan kemana jenjang berikutnya. Begitupun denganku yang memilih untuk melanjutkan kuliah disalah satu universitas nang berada di Bandung.
Awalnya papa tak mengijinkan. Namun, setelah tahu Lucy juga daftar di fakultas yang sama membuat papa berubah pikiran, dan memberikan ijinnya.
Sedangkan adikku, Elvina. Ia hanya ingin mondok saja, katanya ingin memperdalam ilmu agama.
Juga akan tetap mondok di ponpesnya saat ini. Mama dan papa pun tak keberatan, malah mereka sangat senang juga bangga dengan keputusan Elvina.
“Mah, emang teh Putri serius mau kuliah di Bandung?”
“Iya, Sayang. Sebenarnya Mama kurang setuju, karena nanti Mama bakal sendirian dirumah,” ujar mama berwajah terenyuh.
“Kan ada papa sama Elvin, Mah!”
“Kamu juga, kan bakal pergi ke pondok.“
“Hehe ... iya, sih. Terus teh Putri mau pergi ke Bandungnya kapan? nanti di sana teh Putri sama teh Lucy harus ngontrak dong?”
__ADS_1
“MaaShaa Allah, anak gadis Mama banyak banget pertanyaannya.”
“Hehe, cuma dua aja kok Mah. Gak banyak.” Elvina menyernyih.
Sementara itu, aku yang telah usai berbenah kamar kini langsung melaju ke ruang keluarga.
Ponsel yang kubawa dalam saku celana kulot berdenting.
📱“Kita jalan yuk?”
Ajaknya.
“Maaf ya, dirumah lagi sibuk, jadi hari ini kayaknya gak bisa.”
📱“Oh, ya udah gak apa-apa.”
Mungkin orang diseberang sana kecewa, atau ia sudah tau akan jawabanku. Akupun tak mengerti dengan diriku.
“Mengapa aku menerima cintanya? padahal aku saja masih belum bisa dekat sama pria dengan nyaman,” tuturku dalam kalbu.
Siapapun pasti akan bosan jika kekasihnya seperti diriku. Begitupun denganmu, secinta apapun kamu, perasaan itu akan memudar ketika kamu sudah mulai bosan dengan hubungan yang seperti ini.
Tidak ada percakapan lain, susah untuk jalan dan ketemuan, jikapun ketemu hanya ada keheningan yang mengisi. Adakah yang bertahan dalam hubungan seperti itu?
...***...
Kita pun tengah berkumpul diruang keluarga sambil menonton televisi drama. Mungkin bukan kita, karena papa dan Elvina sibuk dengan sebuah buku. Sedangkan aku dan mama fokus menatap layarnya.
Sebuah drama cinta beda negara, dan seorang wanita rela menyusul kekasihnya di negara tetangga. Namun saat ia sampai dan jumpa dengan cintanya, ia justru langsung dipatahkan hatinya.
“Lebih baik kamu memilih pria lain saja, karena aku dan keluarga belum siap untuk menemui keluargamu di Indonesia,” ujarnya pada wanita berambut pendek sepundak yang tergerai.
Wanita itu murka, wajahnya memerah. “Kamu jahat! kenapa kamu bilang seperti itu? ayah dan bunda udah berharap kamu dan keluargamu akan datang meminangku!”
Lanjutnya dengan deraian air mata. “Jika ada masalah ... kita bisa bicarakan baik-baik, kamu gak bisa ambil keputusan sepihak dan nyuruh aku milih pria lain!”
Ia menangis tersedu dibalik telapak tangan yang menutupi hampir seluruh wajah jelitanya. Sedangkan, lelaki yang masih berdiri dihadapannya tengah menahan sesak lara hati.
“Maaf, sebaiknya kamu kembali ke Indonesia bersama temanmu.” Ia melihat gadis yang sedang bermain di salah satu wahana, yakni teman kekasihnya.
__ADS_1
Pemeran pria itu kini meninggalkan wanita yang dicintainya, dan rupanya ia punya alasan yang cukup besar mengapa dia sampai berkata begitu pada perempuan yang dicintainya.
Tanpa sadar hatiku ikut terenyuh menyaksikan film itu. Dadaku menjadi sesak, rasanya susah sekali nak bernafas. Butiran bening sudah singgah, dan setia dipelupuk mata.
Aku beranjak dari dudukku. “Aku balik ke kamar duluan ya, Mah, Pah, Vin?”
“Iya, Nak.” Papa dan Elvina menjawab dengan kompak. “Iya, Teh.”
Mama terus menatap punggungku, hingga punggungku telah hilang dibalik sekat dinding.
Aku yang sudah berada dikamar, memecahkan sesak dalam dada. Lacrimaku bercucuran deras jatuh membasahi daratan pipi.
Kakiku melangkah maju mendekati kasur. Kurobohkan diri di atasnya dengan kasar, hingga tubuhku memantul pelan.
HP-ku bergetar berdenting, kuraih benda itu dalam saku celana. Sebuah pesan WA dari ia yang berstatus pacar, seorang pria yang sedang kucoba untuk memberikan perasaan yang sama.
Serta beberapa notif Instagram yang tertimpa dibawahnya. Salah satunya sebuah akun yang tak kukenal, ia mengirimkan sebentuk voice note.
Aku memang tak tahu siapa dia, tapi foto profilnya tak asing. Juga pernah melihatnya dalam story kak Nathan kala itu.
Kini, aku mulai membalas pesan Firuz lebih dulu, lalu kubuka voice note itu. Tentu saja, aku hanya menaikan volumenya satu tingkat.
Aku mendekatkan benda kurcaci itu didekat daun telinga. Terdengar suara pria yang tengah memberikan sebuah penjelasan.
📱🎙“Sebenarnya Nathan sering curhat sama aku tentang kamu. Dan soal cewek yang suka sama Nathan, dia emang suka kirim surat dan kasih sesuatu ke Nathan.”
📱🎙“Tapi Nathan selalu cuek, selalu mengabaikannya. Dia itu benaran cinta sama kamu, dia selalu bahagia saat ngobrol sama kamu, walau gak pernah liat mukamu.”
📱🎙“Dan dia benar-benar gak ada maksud buat nyakitin kamu. Semua yang dilakukannya pasti punya alasan, dan mungkin dia sulit untuk bilang sama kamu.”
Aku menjatuhkan benda kerdil mini mungil itu diatas telapak tangan kanan yang kuhempaskan. Sedangkan tangan kiri singgah di atas pelupuk mata.
“Untuk apa aku tahu fakta ini? toh, semuanya udah terlambat,” ujarku dalam kalbu.
Dadaku kembali sesak, mengetahui fakta bahwa ia berkisah tentangku pada sepupunya yang lain, dan tentang gadis yang lebih muda setahun denganku.
Jikapun voice note itu terkirim sebelum pertengkaran kedua kita, tetap saja, kabar perjodohan itu tak bisa dihindari. Karena memang inilah jalan takdir cintaku.
Namun setidaknya, aku tak akan meragukan perasaanmu terhadapku. Aku bisa membuang segala prasangka tentangmu. Tapi sekarang, itu semua sudah tiada gunanya.
__ADS_1
Malam ini, aku meratapi memori masa-masa bersamamu, meringkuk berderai linang lacrima.
Hingga membuatku semakin badmood, dan mengabaikan pesan Firuz yang sudah berdenting beberapa menit lalu, saat aku tengah mendengarkan voice note yang terkirim terlambat menurutku.