Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 60) Alasan Dibalik Sifat Pendiam nya Putri


__ADS_3

Selama Imron dan Ryan membujuk Aksa untuk berhenti main dan makan siang lebih dulu, Adira masih setia mendengarkana pengakuan dari anak pertamanya.


Langkah Aqila yang terhenti pun tidak disadari oleh Imron dan Ryan. Karena fokus mereka yang tertuju pada Aksa, pria kecil yang menjadi sorot utama dalam keluarga itu.


“... Itukan udah masa lalu, berhenti nangis ya? please!” pintaku pada Elvina yang masih belum berhenti menumpahkan air telaga dipelupuk matanya.


“Tuhkan, Teteh jadi ikutan sedih nih. Udah ya, jangan nangis lagi—”


Seorang wanita paruh baya dengan penampilan sama berhijabnya, kini ia keluar dari persembunyiannya.


“Dasar bodoh!” umpat nya berjalan mendekati Putri dan Elvina.


Aku dan Elvina menoleh ke asal suara tersebut. “Mama?” seru kami dengan serempak.


Betapa terkejutnya aku saat melihat mama keluar dari balik pintu dan tengah berjalan menghampiri kami.


Lacrima itu sama seperti Elvina, ia tidak mau berhenti dan terus menetes membasahi kedua pipi orang yang paling kusayang.


Apa mama mendengar percakapanku dengan Elvina? tapi sejak kapan? apakah dari awal atau yang terakhir?


Ribuan pertanyaan dan kecemasanku akan fakta yang diketahui mama, membuatku kian berkeringat dingin dan mematung.


Dari reaksi mama yang sama seperti Elvina ... apa mungkin mama mendengarnya dari awal sampai akhir?


Denyut nadi ku tersayat lara, aku sudah menduga nya jika fakta yang tersimpan puluhan tahun itu akan melukai hati orang-orang yang kucintai.


Karena inilah, aku memilih memendam sesuatu yang sudah berlalu. Pikirku, sesuatu yang sudah terlewat itu tidak lagi datang kembali.


Meski, nyatanya hal yang sama terulang kembali saat aku pergi merantau ke kota asing untuk melanjutkan pendidikan ku.


“Bagaimana bisa kamu memendam sendirian seperti ini?”


“Dan apanya yang masa lalu? Mama gak terima puteri Mama di lecehkan saat usia dini, Mama gak terima!”


“Tenang, Mah! kita masuk ke dalam aja, yuk!”


“Hampir aja kok, Mah! sekarang juga Putri udah baik-baik aj—


“Sekarang! tapi bagaimana dengan dulu? anak Mama yang sangat periang tiba-tiba menyendiri di sekolah dan gak punya teman ....”


Ucap mama tersendat-sendat menahan isak tangis. Hatiku sangat tersayat melihat keadaan mama yang terlihat hancur di hadapanku.


“Apa itu namanya baik-baik saja?” tanya Mama yang tak kuat menahan tangis hingga menjadi pecah.

__ADS_1


Elvina memeluk mama, dengan dirinya yang ikut banjir karena air mata nan sedari tadi tak jua surut.


Aku diam tertunduk, kalbu rasanya perih, lebih lara daripada patah hati. Amat ngilu dibandingkan sakit gigi.


“Lalu, anak mama menjadi orang yang tertutup. Mama gak tahu, pendiam ... atau pemalu untuk menggambarkan nya?”


Seru mama kembali, dengan nafas yang naik turun bisa kurasakan dari nada suara mama yang tidak karuan.


“Dibanding pemalu, kamu lebih pendiam daripada disebut pemalu!” lanjutnya kembali, memeluk erat Elvina.


Di situ, air mataku pecah membanjiri kulit kenyal nan berpori. Aku dimasa lalu yang sok kuat, atau mungkin pura-pura agar terlihat kuat.


Tapi sekarang, kebungkaman ku telah menyakiti hati orang-orang yang sekarang tengah berdiri lemah di hadapanku.


“Mama!!” pekikku dan Elvina saat melihat mama tiba-tiba merosot dalam pelukan Elvina dan jatuh pingsan. “Mama! bangun, Ma!”


“Vin! kamu panggil papa ya, segera!” Aku memangku kepala mama dalam pangkuanku.


Elvina lekas berlari masuk ke dalam rumah untuk menemui papa.


Ya Allah ... semoga mama gak kenapa-kenapa, jika terjadi sesuatu sama mama, aku .... aku nggak akan bisa memaafkan diriku sendiri.


“Adira!”


Papa berlari menghampiri mama. “Ini mama kenapa, Put?”


“Mama ....”


“Pah! bawa mama masuk dulu, Pah!” pinta Elvina yang kini tangisnya berubah menjadi kekhawatiran saat melihat mama.


Papa pun menggendong mama dan membawanya masuk ke rumah. Kemudian, menidurkan mama di dalam kamar dan tak henti-hentinya mengoleskan minyak kayu putih.


Mama masih belum sadarkan diri, membuat kami semua merasa khawatir melihat mama. Deru hatiku terus berpacu gesit, aku merasa bersalah tentang kondisi mama saat ini.


“Ryan!”


“Iya, Pah!”


“Kamu sama Aksa lanjutin makannya ya! atau, mainlah bersama dengan Aksa!”


Ryan yang seperti mengerti akan maksud papa, ia pun keluar dari kamar mama dengan membawa Aksa pergi bersamanya.


Sementara Elvina, dia masih tinggal di kamar mama bersama aku dan juga papa.

__ADS_1


“Vina! Putri! sekarang jelaskan sama Papa kronologi kejadiannya bagaimana dan kenapa mama kalian tiba-tiba pingsan begini?”


“Mama ... tadi mama gak sengaja dengar pembicaraan aku dengan teh Putri—”


“Memangnya apa yang kalian bahas sampai membuat mama jadi syok dan tidak sadarkan diri seperti ini?!”


“Novel teh Put—”


“Jawab yang jujur! jangan berbelit-belit!!”


Aku dan Elvina tersentak tertegun, ini pertama kalinya papa semarah dan semurka itu kepada kami berdua.


Elvina kembali bersua namun ku hentikan, karena di sini akulah yang bersalah. Jika Elvina berterus terang, papa bisa semakin marah denganku.


Tapi ... bagaimana jika papa juga akan jatuh pingsan seperti mama setelah aku menjelaskan semuanya?


Meski papa orang yang sangat tenang saat peristiwa di kosan nya tante Rosa itu menimpaku, beliau sama rapuhnya tapi tidak menunjukkan kerapuhannya.


Papa tetap berpura-pura tenang untuk bisa memberikan kekuatannya untuk mama, terkhusus aku yang mengalami.


“Putri!”


Papa memanggil namaku, aku tersentak dari lamunan pikiran tentang hal yang akan membuat papa ikut tersayat, seperti saat aku melihat mama.


“Kalau Teh Putri gak sanggup bilang sama papa, biar Elvina aja yang jelasin ke papa, ya?” pinta Elvina yang membuat papa semakin bingung dan tidak mengerti.


“Ada apa? kenapa teh Putri harus merasa susah hati untuk cerita ke Papa?” tanya papa pada Elvina yang masih duduk di sudut ranjang dekat mama.


Aku menghela nafas dan menghembuskan nya dengan perlahan. “Mama pingsan karena mendengar masa lalu, Putri, Pah!”


“Apa?”


Masa lalu? apakah tentang kejadian di Bandung itu? apa ada yang Putri sembunyikan dari kita? tapi ... kenapa Putri menceritakan nya sama Elvina?


Apa Elvina tahu tentang teteh nya yang mau dilecehkan oleh rampok saat ngkos di Bandung? kalau benar ... Elvina tahu dari siapa?


Oh iya! teman Putri! apa dia tahu dari wanita bule itu, si Lucy?


Papa masih diam dan tidak bertanya kembali. Elvina yang sedari tadi duduk di samping ranjang, kini menghampiri dan berada dalam pihakku.


Dia berusaha menguatkan ku untuk mengeluarkan semua duri yang sudah lama bersemayam dan membelenggu hidupku.


Aku sangat bersyukur, karena memiliki seorang adik yang sholihah sepertinya. Meski hatinya masih hancur nan rapuh, tapi Elvina memberikan ketegarannya yang tersisa sedikit itu padaku.

__ADS_1


__ADS_2