Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 14) Kesalahpahaman di Pagi Hari


__ADS_3

Dua hari berlalu, walau tampak dilematis sulit melupakanmu. Aku wajib mampu move on dari seluruh dunia tentangmu.


Kuawali agenda saat ini dengan Bismillah. Hari di mana aku balik laksana arkian sebelum mengenalmu.


Kendati pun tak lagi abu, juga bukan pelangi. Corak pink itu masih bermukim di relung hati.


Aku sadar, warna itu mau tak mau harus aku musnahkan. Sekalipun memerlukan jangka waktu yang panjang.


Tiga bulan, waktu yang terasa singkat. Awal tak saling kenal kemudian mencoba berlabuh. Yang tidak sengaja justru memberi kenangan penuh.


Walau aku dan kamu tidak bisa memprediksi masa depan, aku sangat bahagia bisa kenal dan dekat denganmu biarpun singkat.


Jantungku bergumam, “Semua yang aku habiskan bersamamu adalah sebuah impresi yang sangat berkesan. Terimakasih! karena sudah hadir dalam hidupku.”


Hari ini mentari bersinar terik membawa kehangatan. Awan pun tampak cerah, dan warna biru yang sangat indah.


“Put! udah belum? papa udah nungguin tuh!” pekik mamaku berjalan menghampiriku.


“Bentar lagi, Mah! ini aku lagi cari buku Sosiologi tapi gak tahu dimana.”


Aku sibuk mencarinya di seluruh sudut kamarku, sampai gak sadar kalau mama telah berada di dekatku.


“Huwaaaa!” Aku terlonjak kaget.


“Hampir aja Putri nabrak Mama!” imbuhku menghembus lega.


Mama ikut membantuku mencari satu buku pelajaran yang jua belum kujumpai sejak subuh tadi.


“Emang kamu taruhnya di mana sih, Put?”


“Putri lupa, Mah ....”


“Coba diingat-ingat dulu!” titah mama yang masih mencari bukuku.


Sambil mencari, kuingat-ingat di mana aku menyimpannya. Selang beberapa menit, Lucy lewat dalam memori ku.


“Aku pinjam buku Sosio milikmu ya, Put?”


“Oke! tapi jangan lupa hari Rabu dibawa ya, kan ada pelajarannya jam terakhir.” Aku mengeluarkan bukunya dan memberikan pada Lucy. “Nih—” imbuhku.


“Thankyou so much pretty girl.” Lucy langsung memasukannya ke dalam tas selempang miliknya.


“Ih ... apaan sih, kamu ngeledek ya?!”


“Idih! orang dipuji bilang ngeledek!”


“Sini bukunya!” Aku merajuk dan meminta kembali bukuku yang telah masuk kedalam tasnya.


“Gak bisa! bukumu udah masuk ke areaku ... hahaha.” Lucy tertawa terkekeh tergelak, dan langsung lari meninggalkan kelas.


Ingatan selesai.


Aku mendaratkan telapak tanganku di atas kening. “Astaghfirullah ....”

__ADS_1


“Kenapa? udah ingat bukunya di mana?” Mama melongok ke arahku.


“Hehe ... Putri lupa, Mah! buku Putri dipinjam sama Lucy,” beberku sambil cengengesan.


Setelah buku sosiologi selesai, aku segera melaju menemui papa yang sudah sedari tadi menungguku.


Karena hari ini aku berangkat bareng papa, akibat motor papaku kemarin masuk bengkel.


Entah mengapa kemarin motornya merajuk tak mau menyala. Maklum! motor papa ialah motor antik pemberian dari kakek buyutku.


Jarak sekolahku juga tak jauh, hanya memakan sekitar 25 menit saja. Ditambah searah dengan tempat papa mencari nafkah.


Aku yang keluar rumah dipandu oleh mama segera menghampiri papa yang sudah duduk di atas motor, dengan pakaian kerjanya.


“Maaf ya, Pah! Putri tadi lama banget.”


Papa memberiku sebuah helm. “Iya gak apa, toh sekarang masih jam tujuh kurang.”


Aku memakai helm yang diberikan papa. Saat mengaitkan penjepitnya aku tampak kesusahan dan mama membantuku.


“Mah, aku berangkat sekolah dulu, ya.” Aku mencium tangannya dengan batang hidungku.


“Assalamu'alaikum,” sambungku segera naik ke jok belakang dengan posisi duduk miring.


“Iya ... wa'alaikumussalam.”


Aku dan papa langsung meluncur meninggalkan mama di rumah seorang diri.


Setelah perjalanan beberapa menit, aku sampai di depan gerbang sekolahku. Dan pas sekali, teman-temanku jua baru sampai.


“Pagi, tuan Putri!” Seseorang dengan asalnya dan langsung pergi melewati kita.


“Hah?! siapa tuh? pacar kamu ya, Put?” tanya Lucy yang masih lurus ke depan menatap pria itu.


“Bu–”


“Apa?! pacar?! kamu punya pacar, Nak?!” Papa terperanjat kaget mendengar Lucy yang asal nanya.


“Gak, Pah! Putri aja gak tahu tadi itu siapa?!”


Sanubariku menggerutu, “Apaan sih itu orang, kenal nggak udah bikin kesalahpahaman di pagi hari.”


Daripada makin runyam, aku bergegas pergi setelah bersalaman dengan papa.


Selama perjalanan menuju kelas, teman-temanku tak habis-habisnya membahas pria aneh tadi.


“Kamu benaran gak kenal sama cowok tadi, Put?”


Mira tampaknya tak percaya. Tapi aku harus jawab apa? aku memang tak mengenal pemuda itu yang sepertinya seumuran dengan kita.


“Ya Allah ... beneran, Mir! aku aja gak kenal siapa dia?”


“Kalau aku kenal, kalian juga pasti tahu,” imbuhku.

__ADS_1


“Ya juga sih!” tutur Lucy percaya tanpa adanya paksaan.


“Kayaknya tuh cowok dari sekolah ujung sana deh!” papar Nia berspekulasi.


“Kamu yakin, Nia?”


“Seratus persen yakin—eh ... seribu persen deh!”


Wajah peramal Nia mulai on. Meski aku bilang gitu, tapi dia bukan peramal sungguhan yah!


Hanya saja setiap kali Nia menjabarkan praduganya yang selalu masuk akal dan di bumbui dengan bukit, membuatnya dijuluki ‘peramal Fisika’ oleh anak-anak kelas Fisikanya.


“Waktu dia lewat tadi aku sudah merekam baik-baik dalam penglihatanku, Ditambah dia pakai baju putih bukan batik,” celoteh Nia mempertegas.


“Terus ... aku juga liat lambang sekolahnya, dan itu bukan badge nama sekolah kita,” imbuhnya yang menambah nilai positif kalau pria itu memang dari sekolah lain.


Kini kita hampir sampai di tangga kelas, dan aku masih menyimak apa yang mereka bahas.


Akupun tak sempat melihat atribut yang tertempel di lengan baju atas pria itu. Peramal Fisika memang beda, sangat jeli!


“Dia juga pergi kearah sana, dan itu fix! tuh cowok pasti sekolah di sana!”


“Ya juga sih, kan arah ke sana cuma ada SMK Citra Nusa Jaya,” terang Mira menaiki tangga lebih dulu.


“Tapi bisa jadi juga ... dia tuh mau makan bakso yang mangkal di belokan sana, kan katanya bakso di sana eco sanget,” imbuhnya lagi.


“Jadi ... dia dari SMK Citra Nusa Jaya apa dari—”


“Ah! masa bodo! gak penting?!” tukas Lucy mulai merasa geram.


Lucy pun langsung menarik tanganku begitu kita sudah sampai di depan kelas Fisika. “Udah yukk, Put! lupain aja tuh angin lewat,” lanjutnya.


“Angin lewat? ya juga sih, dia ngomong sambil lewat, pffttt!” leverku terkekeh.


“Kamu kenapa, Put? pasti lagi mikirin cowok tadi, ya!” goda Lucy mencolek-colek pinggang hingga membuatku geli.


“Haha ... enggak! aduduh ... Lucy berhenti! geli tahu!


Aku menggeliat menyingkir dari Lucy, dan itu hampir membuatku tabrakan dengan Fakri, teman sebangku ku.


Netra kita beradu, dan aku langsung membuat jarak satu meter darinya. “Ma—maaf.”


“Kamu kenapa, Put?! segitunya kamu benci sama si Fak—”


“Astaghfirullah! Lucy! jangan menyebar fitnah!” tukasku menoleh kearah Lucy.


“Hehehee ... tapi gak segitunya jugalah, Put!” tutur Lucy. “Nanti dia ngiranya kamu benci sama dia lho!” imbuhnya lagi.


“Apa tingkahku tadi bisa menimbulkan arti seperti yang Lucy bilang barusan?” ucapku dalam kalbu.


Semenjak memutuskan berhijab, aku memang selalu menghindari kontak fisik dengan lawan jenis.


Ya ... walaupun sebelum berhijab aku terus menjauhi makhluk yang bernama kaum Adam ini.

__ADS_1


Afeksiku bergumam, “Astagfirullah ... berapa banyak hati yang telah salah faham atas sikapku?!”


__ADS_2