
Saat dirinya melangkah ke arah dapur ... sebuah sambutan di balik punggung Maryam menghentikan langkahnya.
Maryam berbalik dan berucap, “Wa'alaikumussalam.” Wajah pucatnya sumringah gembira menyambut asal suara tersebut. “Bapak!”
“Maryam anakku, kamu sudah lama menunggu Bapak , ya?”
“Enggak, Pak! Maryam juga baru selesai siap-siap, ini juga mau sarapan.”
Maryam menghampiri bapaknya dan menggandeng penuh kerinduan. Karena Maryam dan bapaknya hanya bersama saat berangkat sampai pulang sekolah saja.
“Gak terasa, ya, puteri cantik Bapak sebentar lagi udah mau lulus!”
“Alhamdulillah, Pak! doakan Maryam, ya, biar bisa jadi lulusan terbaik dan masuk ke universitas impian Maryam!”
Pria paruh baya yang di panggilnya bapak oleh Maryam, hanya diam tanpa respon ataupun sebuah doa terlontar dari mulutnya. Benar-benar menjadi bungkam dengan niat anaknya untuk lanjut ke perguruan tinggi.
Maryam yang ekspresinya berubah menjadi sedih, kini cepat-cepat menarik lengan bapaknya dan berkata dengan penuh senyuman.
“Ayo, Pak, kita sarapan dulu sebelum pergi ke sekolah. Masakan ibu selalu nomor satu dan gak pernah berubah rasanya. Bapak pasti suka!”
Maryam tahu betul, baik bapaknya maupun ibunya, mereka masih belum bisa melepas Maryam karena insiden tujuh tahun lalu yang menimpa puteri semata wayangnya.
Demikian juga Maryam yang belum bisa lepas dari belenggu bagaikan mimpi buruk. Tapi, jika disebut mimpi buruk, justru kejadian itu lebih menakutkan ketimbang mimpi.
...***...
Beberapa menit kemudian, ‘Trapped in past love’ telah usai di tayangkan. Semua yang menonton pun berangsur keluar, tak lepas dengan wanita berhijab yang sibuk menyeka lacrimanya dengan benda tipis.
Lelaki yang bersamanya tampak kebingungan, entah apa yang harus di perbuatan untuk bisa menghentikan air mata seorang gadis di sampingnya.
“K—kamu ... u—udahan dulu dong nangisny—”
“E—emang Kakak gak sedih apa? Kakak juga lihat, kan?!” Wanita berhijab itu menyeka kembali lacrimanya lalu berucap lagi, “Si Maryam itu udah menderita secara mental sejak dini, terus orangtuanya juga ce ... rai.”
Tangis wanita itu semakin menjadi setelah mengingat hal yang tak pernah baik menimpa Maryam si tokoh dalam film beberapa menit lalu mereka tonton.
“Tapi emang benar sih, apa penulis novelnya gak bisa kasih sedikit ujian saja?”
Protes pria itu dalam hatinya dan terus berceloteh.
“Ya ... walaupun akhir endingnya bikin haru, setelah penderitaan itu Maryam menemukan seseorang yang benar-benar tulus dan menerima masa lalunya.”
“Tapi aku gak habis pikir deh, kenapa kisah percintaannya bisa ngena banget? bahkan kok hampir mirip dengan percintaanku dulu?”
Plak!
Pukulan yang mendarat di pundak lelaki itu berjaya menghentikan cerocos batinnya.
__ADS_1
“Kakak kok malah bengong? pasti lagi meresapi film trapped in pas love tadi, ya?” tebak gadis berhijab itu dan merebut alih popcorn yang masih tinggal setengah dari tangannya.
“Ya, pas cinta pertamanya gak berjalan mulus. Scene yang itu ngena banget, jleb gitu!”
“Bukannya kisah cinta Kakak memang gak pernah mulus, ya? makanya pas bagian itu, feelnya dapat banget,” ungkapnya sambil nyemil popcorn.
“Apalagi, udah tiga kali Kakak di tinggal pas sayang-sayangnya—eh, sepertinya yang satu malah Kakak yang ninggalin dia,” ejeknya menahan tawa dan hampir membuat gadis berhijab itu tersedak.
“Kamu jangan ngaco deh, itu karena emang belum ada jodohnya aja sama mereka.”
“Oh, ya, Kak! sebelum pulang kita minta tanda tangan dari penulisnya dulu, ya?”
Raut wajah lelaki yang di panggil kakak itupun langsung berubah menjadi enggan dan malas. “Ih! mau buat apa sih? gak usah lebay deh!”
“Ah, Kakak! ayolah! sebentar aja!” rengeknya menarik-narik lengan laki-laki yang lebih tinggi darinya.
Pria itu menghela nafas pasrah. “Oke! tapi tanda tangan aja, gak ada foto-fotoan, deal?!”
“Deal!”
Kedua insan berbeda gender itupun saling berjabat tangan bersalaman tanda setuju dengan kesepakatan yang di ajukan oleh sang kakaknya.
***
Mereka pun telah sampai dan tibalah giliran mereka untuk bertatap muka dengan sang pemilik film yang dirilis dari buku novelnya.
“Di sini, ya, Kak!” Gadis berhijab itu menunjukkan sisi kiri paling bawah di awal pembukaan buku novel yang ia bawa.
“Nama kamu siapa?”
“Melati, Kak!”
Wanita sang novelis itupun kembali mengukir di buku novel hasil karyanya yang dimiliki oleh Melati, gadis berhijab yang duduk di hadapannya.
“Kak, boleh minta fot—”
Pria yang mengekor di belakangnya langsung menahan tangan adiknya, lalu berbisik, “Nggak! gak ada! kamu, kan udah janji!”
Sementara itu, wanita berhijab mint di hadapan mereka terpaku melihat kedua kakak beradik tersebut yang sudah meninggalkan dirinya beberapa langkah.
Pemilik novel itu berucap lirih, “Kak Nathan ...” panggilannya menghentikan langkah pria itu untuk meninggalkan tempat saat ini.
Lelaki yang merasa dirinya terpanggil pun berbalik dan menengok gadis berhijab di belakangnya.
“Apa dia mengenalku? tapi, seingatku, aku gak punya kenalan seorang penulis,” tutur pria itu menilik heran ke arah gadis berhijab mint.
__ADS_1
Waktu di sekitar mereka sempat terjeda, namun hanya berselang satu menit se-per kian dekit saat seorang yang ikut mengantri memecahkan lamunan sang penulis.
Lelaki itu masih terpaku menatapi gadis berhijab yang sibuk memberi coretan pada novel karyanya sendiri.
“Kak Nathan, ayo! katanya mau pulang!”
Suara gadis berhijab abu yang bersama lelaki itu sangat terdengar jelas di telinganya. Wanita berhijab mint itupun kembali mendongak sekilas dan kembali fokus dengan pekerjaannya.
“Dek!”
“Kamu mau foto bareng dia, kan?”
“Ya, maulah!” sahutnya sangat berantusias.
“Kalau gitu ... kita pulang setelah kalian foto bersama.”
Adiknya yang berparas cantik itu tampak kebingungan dengan sikap kakak laki-lakinya yang berubah, namun dirinya tak ambil pusing dengan perubahan sikap sang kakak.
“Dek, apa kamu tahu siapa wanita yang sedang memberi tanda tangannya itu?” tanyanya tanpa melepaskan pandangan.
“Tahulah! dia itu kak Crystal.”
“Crysatl? itu nama aslinya?”
“Ya, bukanlah! itu nama penanya!”
“Terus nama aslinya siapa?”
Lelaki itu beralih menatap adiknya, kedua bahu terangkat dan kedua telapak tangan terbuka adalah jawaban dari sang adik.
Sebuah isyarat yang memiliki arti 'entahlah, gak tahu!’ kurang lebih seperti itulah yang ia baca.
...***...
Waktu berlalu begitu cepat, aktifitas penulis itupun kian tamat dan tengah meregangkan kedua tangannya.
Melihat waktu luang itu, kini pria bernama Nathan datang menghampirinya dan di ekori oleh sang adik.
“Assalamu'alaikum!”
Mendengar ucapan salam, gadis berhijab mint langsung membalasnya dan menoleh ke asal suara.
Deg!
Berapa terkejutnya saat kedua bola matanya saling bertatapan. Sontak, wanita berhijab mint itupun langsung mengalihkan pandangannya dan beristighfar dalam hatinya.
“Apa kita saling kenal?”
__ADS_1
“Kak! kok Kak Nathan pede banget bilang kayak gitu?” ucap gadis cantik di sampingnya dengan lirih berbisik dan menarik lengan bajunya sehingga membuat Nathan sedikit menyerong ke samping.
“Apa gadis cantik di sampingnya ini adalah istri kak Nathan? aku rasa, Melati memang wanita baik-baik dan sholihah. Syukurlah! dia bertemu dengan orang yang tepat!” ucapnya dalam hati dan masih terus memperhatikan Nathan dan Melati.