Trapped In Past Love

Trapped In Past Love
(Chapter 45) Dilema


__ADS_3

Selama perjalanan, Elvina terus melemparkan pertanyaan-pertanyaan seputar pria tersebut. Tak hentinya ia membujukku untuk berkisah.


“Ayo dong Teh, ceriatain semuanya sama Vina,” rengeknya.


“Apa yang mau diceritakan, orang Teteh juga baru ketemu sama cowok itu,” elakku.


“Teh Putri pasti bohong, orang jelas banget dari tatapan dia ke Teh Putri, kayak senang gitu tapi Teteh malah meresponnya dingin banget,” jelasnya.


“Kalau gak kenal, gak mungkin respon kalian begitu. Pasti kakak itu pernah memiliki hubungan yang spesial sama Teteh, kan?” ujarnya kembali dengan sebuah tebakan yang sangat, amat dan tepat banget.


Memang benar! dan aku tak mengangka kalau kita akan bertemu kembali. ‘Bukan ursanku juga dia mau balik atau gak, kita juga udah lost contact.’


“Teh, kok malah jadi kacangin Elvin sih! jangan-jangan emang benar kalau kakak itu mantannya Teh Putri?”


“Mulai lagi deh nih,” gumamku.


“Teh Putri milih cerita sekarang, atau pas udah di rumah aja?”


“Gak dua-duanya, Teteh juga gak minat tuh mau cerita sama kamu.”


“Ih Teteh mah, kalau gak mau cerita aku adukan sama papa lho, kalau Teh Putri pacaran.”


Elvina merajuk dan mengancamku, tentu saja jika itu dulu aku pasti akan menahan Elvina dan memberitahukan sebenarnya agar Elvina mau tutup mulut.


Tapi tidak untuk sekarang, terlebih lagi itu hanya masa lalu. Meski larangan itu masih berlaku, tapi tidak untuk sebuah fakta yang pala sendiri tahu, kalau aku sudah tak berniat untuk kuliah.


“Aduin aja, gak takut tuh!” balasku.


Akhirnya Elvina diam dan gak lagi memaksaku untuk berkisah. Walau agak aneh sih, karena biasanya Elvina banyak bicara tapi kali ini dia benar-benar anteng.


Disisi lain, seorang pemuda yang baru melangkah beberapa jengkal dari pintu, langsung disergah oleh sebuah pertanyaan.


“Siapa yang datang?” tanyanya memiringkan kepala sambil melihat sampai keluar gerbang yang memang pintu rumah dengan gerbang bergaris lurus.


“Itu, anaknya tempat mama langganan kue.”


“Oh, udah datang? sini biar Mommy taruh dulu.” Shava mengambil kotak itu.


Aku masih berpikir tetang Putri yang ada di Jakarta, 'Apakah dia pindah kuliah? ataukah hanya cuti saja?’ pikirku.


“Mom?”


Mommy berbalik melengos menatapku.



“Ya, kenapa Sayang?”


“Firuz gak jadi pindah ke luar negeri.”

__ADS_1


“Oh? kamu mau pindah jurusannya aja?”


“Iya, Mom. Tapi kuliah di Jakarta aja.”


“Bagus sih kalau keputusanmu untuk kuliah di sini, Mommy jadi gak harus jauh-jauh dari kamu,” tutur mommy semringah senang melihatku.


“Tapi kamu harus ngomong sama daddy, karena dia yang paling senang saat keputusan kamu untuk kuliah di luar negeri,” imbuhnya kembali.


“Iya, Mom.”


Aku pun langsung pergi menuju kamarku yang terletak di lantai dua.


...***...


Langit kelam gelap gulita, hanya ada sinar bulan dan setitik cahaya bintang. Awan pun ikut menjadi gelap, segelap langit.


Di dalam sebuah ruangan penuh sinar lampu, tepatnya di meja makan yang mewah juga masakan yang tak kalah mewahnya terhidang semua menu yang menggugah selera, tersaji dihadapan sang tuan rumah.


“Daddy udah dengar dari Mommy, katanya kamu gak jadi kuliah di luar negeri. Kenapa?” ujar seorang pria paruh baya yang duduk di kursi untuk kepala rumah tangga.


“Gak kenapa-kenapa. Cuma menurut Firuz, mau di sini atau di luar sama aja,” dalihku.


“Ya gak bisa disamakan gitulah. Pokoknya Daddy hak setuju, Daddy juga udah daftarin kamu ke universitas yang kamu minta dua hari yang lalu,” ungkap daddy dengan tegas.


“Kok Daddy main masukin gitu aja, kan Firuz juga cuma baru rencana belum tentu mau pindah ke sana,” ambekku.


“Kamu itu anak cowok, harus bisa menjaga kata-kata apa yang sudah kamu ucapkan. Pokonya Minggu depan kamu harus udah berangkat,” ucap daddy menegaskan.


“Gak ada bantahan!” tukasnya.


Aku pergi dari meja makan dan hak ikut makan malam bersama mommy juga daddy. Selera makanku juga jadi lenyap mendengar keputusan yang daddy ambil tanpa adanya rundingan denganku lebih dahulu.


“Kamu mau kemana, Honey?”


“Teras,” jawabku tanpa menoleh sedikitpun ke arah mommy dan pergi menuju teras rumah.


“Daddy jangan terlalu keras gitu sama Firuz, kan kasian dianya.”


“Mommy jangan terlalu memanjakan dia, Fitur itu udah besar bukan lagi anak kecil. Kalau dia udah ambil keputusan, bagi Daddy gak ada alasan untuk mengubahnya, titik!”


Sementara itu....


Aku menghembuskan nafas bersama desiran udara menerpa. “Malam ini hanya ada sedikit bintang ya?” tuturku menengadahkan wajah ke langit.


“Apa kamu bahagia di sana, Vi?” lanjutku bertanya pada keheningan malam dan gelapnya langit.


Aku menurunkan pandanganku menatap ponsel yang kugenggam. Kusentuh dan masuk pada sebuah aplikasi berwarna hijau dengan ikon seperti balon percakapan.


Jari-jemariku menari di atasnya. Mengetik sebuah kalimat dan terkirim, juga bercentang cek list dua pada sang penerima pesan.

__ADS_1


...***...


Ting!


[pesan masuk pukul 19:37]


Firuz? dia kirim pesan apa ya? aku balas setelah tuntas mengaji saja deh.


...***...


Kenapa dia belum balas juga ya? padahal ceklis dua. Apa datanya masih aktif?


Aku melihat jam yang terdapat di atas sudut ponsel, rupanya masih jam setengah delapan.


Mungkinkah dia masih belum selesai sholat? atau sedang tadarusan? MaaSyaa Allah, memang cewek idaman.


“Rugi sekali aku telah melepaskanmu,” gumamku.


Sekian menit aku menunggu balasannya, akhirnya si gadis pujaanku menggubris pesan yang tiga puluh menit lalu kukirimkan.


Ting! [pesan masuk, pukul 20:07]


📱“Nggak, aku balik ke Jakarta karena memang udah gak kuliah lagi.”


Aku tersentak membaca balasan pesannya. Semua pertanyaan dalam benakku terwakilkan dalam ketikan kilat jemariku pada kolom pesan.


(Kenapa berhenti? apa kamu sedang ada masalah? jika iya, aku tak keberatan untuk mendengarkan curhatanmu.)


Ingin rasanya aku bertanya seperti itu. Mengutarakan kalimat yang bisa meringankan bebannya, tapi aku urungkan kembali dan menghapus pesan yang tinggal kukirim.


Ting! [pesan terkirim, pukul 20:14]


...***...


📱“Oh, aku kira kamu pindah ke sini. Jadi sahabatmu, Lucy, dia masih ada di Bandung?”


“Iya,” balasku.


Aku ingin sekali bertanya, ‘Apa kamu sedang ambil cuti?’ tapi bukan urusanku juga untuk tahu semua tentangmu.


Dan perasaan ini juga gak lebih dari hanya sekadar rasa kepo saja.


...***...


Ting! [pesan masuk, pukul 20:15]


Aku mengehela nafas. “Memang Putri banget, dia cuma balas 'iya' doang,” ucapku yang tak tahu harus balas apa lagi.


Namun sifat cueknya ini yang membuatku tertarik untuk menaklukkan hatinya. Tapi sayang sekali, dia bahkan sekarang sangat membenciku.

__ADS_1


Perasaanku semakin tak baik-baik saja, justru malah bertambah kacau. Akan tetapi, seenggaknya aku bisa menerima keputusan daddy tanpa merasa kehilangan kesempatan.


Put, jika aku kembali padamu dalam keadaan lebih baik lagi, apa kamu akan menerimaku dan memberikan kesempatan kedua untukku?


__ADS_2