
Flashback sebelum perseteruan terjadi.
Ting! [pesan masuk pukul 12:59 WIB]
📱“Assalamu'alaikum.”
Nayamku membeliak menatap pesan itu. Sebuah akun yang tengah aku hindari, nang kini foto profilnya kembali menjadi fotonya.
“Wa'alaikumussalam.”
Balasku, tak lebih tak kurang. Walau aku sangat amat penasaran mengapa dirinya berkirim pesan lebih dulu padaku.
📱“Kamu kenal sama Nathan gak?”
Serunya setelah jawaban salam dariku. Saat ini pikiranku mulai bertanya-tanya.
Rupanya orang lain yang tengah on? siapa dia?apakah kakaknya, apa temannya? kata dia, kawannya sering pinjam HP-nya, tapi gak mungkin seberani ini sih?
Apa kak Gilang? eh—nggak, kalau kak Gilang ngapain tanya gitu, kan dia tahu kalau aku kenal sama kak Nathan.
Batinku terus beradu argument menebak tentang siapa orang dibalik akun ini. Sampai sebuah fakta tentangnya kembali teringat dalam memori.
Jangan-jangan ... tunangannya? aduh! gimana ini, jawab jujur apa nggak ya?
Kalau jujur, entar malah nyakitin perasaannya gimana? ya udahlah aku jawab saja.
“Nggak, aku gak kenal!”
Balasku sengaja berbohong, walau hati kecilku merasa bersalah. Tapi, aku gak mau jika kejujuranku malah menyakitinya.
📱“Oh ya udah kalau gak kenal.”
“Terus kamu siapa?”
📱“Aku tunangannya.”
“Oh.”
Setelah melihat balasannya, batinku merasa lega. Sebab keputusan nang aku ambil dengan pura-pura gak kenal adalah hal yang benar.
Tapi, mengapa aku merasa kalau orang ini tahu jika jawabanku tidaklah benar. Dan mengapa jawabannya seperti itu, padahal aku bermaksud menanyakan seperti orang yang memang tak kenal dengan pemilik akun.
📱“Aku bercanda kok, aku bukan tunangannya.”
Alisku mengerut. Entah apa maksudnya, hatiku kembali bertanya.
Apa memang benar dia hanya bergurau? lalu ... siapa dia?
Aku sungguh tak memiliki prasangka apapun tentang tunangannya, sebagaimana ia juga bisa bicara Indonesia. Mungkin tunangannya pun tahu sikit-sikit bahasa Indonesia.
Sampai jawaban barunya membuatku kembali terperangah untuk kesekian kali.
📱“Aku adiknya Nathan.”
“Oh adiknya? tapi ada apa dia chat aku dengan akunnya, kak Nathan? mana awal pertanyaannya bikin gelisah panik batinku lagi!” gerutuku dalam kalbu.
Saatku tengah berpikir keras nan bingung tak mengerti, seorang wanita berhijab yang duduk disamping kiriku membuyarkan lamunan ini.
“Put, ayo makan petisnya nanti keburu habis lho?”
Seru kak Shelly membuatku tersentak terkejut. Aku melongos dan menyahutinya kembali.
“Iya Kak Shel.”
__ADS_1
Benda kerdil mini mungil yang masih ku genggam segera aku matikan layarnya, dan meletakannya di atas pangkuanku.
Throwback memories end.
Saat ini, aku dan Lucy mengurung diri dikamar kita. Bukan mengurung sih, cuma ya gak ada tempat untuk menenangkan emosi.
Sedangkan kak Shelly katanya mau ngerjain tugas kuliah. Dan kak Mala sendiri, dia mau bocan—bobo cantik ujarnya.
“Kamu udah agak tenang, Luc?” tanyaku yang duduk dilantai, sedangkan Lucy tengah merebahkan diri dikasur.
“Menurutmu?”
“Kayaknya udah,” prasangka ku padanya nang masih terlentang.
“Kenapa bisa berspekulasi kayak gitu? kamu gak liat ini telingaku masih keluar asap?!” ujar Lucy menunjuk kedua telinganya bergantian.
“Haha ... sayangnya aku emang gak liat ada asap ditelingamu tuh? adanya orang yang lagi kasmaran karena semakin hari semakin berkembang pesat,” ejekku mencairkan suasana.
“Kayaknya kamu lebih baik dari yang kukira? tahu gitu tadi gak usah kubelain, biarin aja kakak-kakak itu mojokin kamu!” sungutnya.
“Hahaha ... kalau git—”
Ucapku tertukas karena sebuah notif pesan masuk berdenting.
Ting!
“Ciee, dapat pesan dari ayang mbeb!” godaku kembali.
Lucy mengambil ponselnya dalam saku kiri celananya, serta meluncurkan serangan bantalnya padaku nang masih terkekeh kecil dengan tatapan meledek dirinya.
Pluk!
Bantal itu terjun tepat mengenai wajahku, hingga aku mematung. Aku mengambil bantal yang sudah tergeletak di pangkuanku.
Kini, ekspresi wajahku menerima perang bantal ini. Dan ... aku bersiap untuk membalas kembali melemparkan bantal diwajahnya.
“Tunggu, Put!” Lucy memberi aba dengan tangan kirinya, aku pun menghentikan aksiku yang tinggal lempar ini.
“Bukan dari ponselku, kayaknya itu smartphone milikmu?” sambungnya kembali.
Bantal yang masih terangkat tinggi sejajar dengan kepalaku, terpaksa ku turunkan dan kupangku karena harus mengecek ponsel.
Tek!
Layar ponselku menyala, dan ternyata memang benar HP-ku. Terdapat pesan WA diatas layar, dengan nama yang ku kenal.
“Dari Firuz?” tanyanya.
“Bukan! kita juga semenjak putus benar-benar gak berhubungan lagi,” jelas ku.
“Kirain kalian masih bertukar satu atau dua kata.”
“Gak,” ucapku sambil membalas pesan Elvira.
“Terus itu pesan dari siapa ... Mira? Nia? atau cowok yang—”
“Wa'alaikumussalam warohmatullah.”
Jawabku karena seseorang diseberang sana memberi salam lebih dahulu.
Lucy pun diam walau jelas sekali dia tengah bertanya-tanya. “Siapa yang telpon Putri? apa ada cowok lain lagi selain Firuz dan pria nang mereka bahas tadi?” tutur Lucy dalam benaknya.
“Alhamdulillah baik ... oh, kalau gitu Putri titip salam aja ya?”
__ADS_1
Balasku saat orang diseberang sana bertanya tentang kabarku.
“Iya, assalamu'alaikum.”
📱“Wa'alaikumussalam.”
“Hah? aku gak salah dengar, kan?” ujarnya dalam hati.
Aku melengos, “Kamu ngapain sih nguping? gak biasanya kamu kepo kayak gini, Luc?”
“Itu siapa lagi Put?”
“Apanya?” tanyaku nan tak faham apa maksud Lucy.
“Kamu kok gak mencerminkan cewek yang lagi patah hati sih? bisa-bisanya kamu udah nemu yang baru!” prasangka nya.
“Astaghfirullah ... kamu ngomong apa sih, gak jelas banget deh?!”
“Tadi yang telpon itu cowok, kan?” tanyanya.
“Iya.”
“Dia suka sama kamu, kan?”
“Suka? dia nanya apa sih gak jelas banget deh pertanyaannya, kenapa gak nanya yang lebih jelas aja sih!” gerutuku dalam hati. “Aku jawab iya aja deh,” imbuh kalbuku.
“Iya,” balasku kesekian kali.
“Ternyata kamu punya pesona seperti Fakri juga ya?”
Lah? kenapa sekarang malah bawa-bawa gebetan nya?
“Lucy, kamu dari tadi lagi bahas siapa sih?” tanyaku.
“Ya bahas kamu sama cowok barumu lah, Put!”
Aku terkejut. “Hah?! cowok baru? baru apa?” pekikku.
“Ck ck ck! cewek pintar kok semenjak diselingkuhin jadi gak konek kayak Mira sih?”
“Aku bilangin sama Mira nih!”
“Jangan-jangan-jangan!” tukasnya lekas bangkit dari tempat tidur.
“Pfft! hahaha ... jadi daritadi itu kamu nanya apa? pria siapa yang kamu bahas?”
“Yang jelas, cowok yang habis telponan sama kamu tadi.”
“Ooh, itumah papaku! beliau nanyain kabar dan udah transfer untuk bulan ini.”
“Masa?” godanya, “Udah sih jujur aja, aku gak akan bilang sama siapa-siapa juga! buktinya kabar putusmu sama Firuz belum diketahui sama Mira dan Nia, kan?!”
Aku menghela nafas. “Nih kamu liat tuh, panggilan teratas cuma ada nama papaku, kan!” ujarku menunjukkan.
Lucy melihatnya, namun ia tetap ngeyel dan kekeh. “Kamu gak percayaan banget sih sama aku, Put!”
“Ya Allah, bukannya kebalik ya?”
Aku berdiri dan berjalan keluar dari pintu kos.
“Kamu mau kemana, Put?” tanyanya mengekoriku.
“Warung kak Nita.”
__ADS_1
Lucy sempat menahan ku, karena ia masih malas jika nanti berpapasan dengan mereka, kak Dinar, kak Sekar dan kak Chika.
Namun aku tetap pergi meninggalkan Lucy sendiri dikamar kos, akupun tak peduli jika mereka akan mengkritikku lagi. Toh, itupun bukan fitnah.