
Tidak mood untuk memasak di dapur, gadis itu memilih menyapu halaman. Meskipun sudah ada petugasnya, tetapi Tiara tetap ngotot meminta pekerjaan itu. Wajahnya masih saja ditekuk, kesal dan sangat kesal karena ulah Arnold. Bahkan menyapu saja, Tiara sambil ngomel-ngomel tak jelas.
“Maaf, Mbak. Dari tadi saya lihatin, Mbaknya ini, kok, marah-marah?” Gadis berpakaian lengkap seorang pelayan berdiri sejajar dengan Tiara.
Tiara hanya tersenyum, menanggapi dengan gelengan kepala. Sungguh dia sangat malu tertangkap sedang mengomel, Tiara ingin menghilang saja rasanya. Gadis yang masih berdiri di sebelah Tiara itu, tersenyum gugup. Lalu pamit padanya untuk menyapu di tempat lain, biar halaman depan Tiara yang menghabiskan sampahnya.
“Sepertinya aku butuh suasana baru. Lama-lama di sini, bisa dibilang orang gila, aku,” gerutu Tiara sambil terus melanjutkan menyapu.
Dia bisa lega karena pekerjaannya sudah selesai, Tiara langsung mengembalikan sapu di gudang. Setelah itu dia memilih untuk pergi, meninggalkan rumah sebentar saja mungkin tak apa. Lagi pun, Arnold juga pergi. Jadi, dia tak perlu takut akan dimarahi.
Tujuannya kini adalah keliling kompleks. Meski akan membuat kakinya pegal-pegal, tetapi Tiara tak peduli. Dari pada di rumah terus, dia bisa stres. Sepanjang jalan Tiara terus disapa ibu-ibu yang juga lewat, mereka banyak bertanya tentang siapa dia. Tiara menjawab sekenanya saja, karena dia terlalu malas berlama-lama di sana.
Ternyata menghirup udara segar seperti ini, sedikit menghilangkan beban pikiran. Tiara jadi suka berlama-lama di luar, dia bisa menikmati pemandangan gedung-gedung mewah, dan bisa juga menghilangkan beban meski hanya sebentar saja.
Kaki jenjangnya semakin cepat melangkah, kadang gadis itu juga berlari merentangkan tangan. Entahlah, Tiara hanya ingin melakukan itu. Namun, ketika mendengar suara tangisan bocah, langkahnya terhenti. Dia menatap sekitar dengan khawatir, takut terjadi sesuatu dengan bocah itu. Tiara bisa melihat bocah perempuan di dekat pohon yang berada di depan gerbang rumah orang, segera dia menghampiri untuk bertanya.
“Hey, Sayang. Ada apa? Kenapa menangis?” tanya Tiara sembari mengusap lembut rambut bocah itu.
Awalnya bocah perempuan itu semakin menangis, tetapi ketika Tiara memintanya untuk jangan takut. Bocah itu mulai berhenti menangis, lalu menunjuk ke atas, dahan pohon. Akhirnya Tiara bisa tahu apa yang terjadi.
“Balon kamu nyangkut di atas?” tanya Tiara sambil menunjuk balon yang berada di atas pohon.
“I-iya, Tante,” jawab bocah itu masih sesenggukan.
“Sudah, jangan nangis, ya. Pasti akan Tante ambil,” ucap Tiara menenangkan. Bocah itu mengangguk saja.
__ADS_1
Mata Tiara mulai mencari apa yang bisa dia gunakan untuk mengambil balon itu, tapi sayangnya, tak ada apa-apa di sana. Mau tidak mau, dia harus menggunakan cara terakhir, yaitu memanjat.
“Mau apa kamu?!”
Baru saja akan memanjat, suara tak asing membuat Tiara menghentikan aksinya. Dia menatap ke belakang, hingga matanya bisa menangkap sosok Arnold di sana. Tengah berjalan dengan wajah dingin dan sorot mata tajam bagai elang.
“Memanjat. Memangnya, mau ngapain lagi?” tanya Tiara kesal.
“Kamu bisa?” Arnold menyipitkan matanya, merasa tidak yakin dengan kemampuan Tiara.
“Dih, gini-gini juara lomba memanjat waktu SD. Nggak usah ngeremehin, belum tentu Anda juga bisa,” cetus Tiara.
“Saya pakarnya!” sahut Arnold cepat.
“Halah!”
“Oh, iya, bentar ya, Sayang.”
“Nih, Tuan, saja yang memanjat. Katanya pakarnya, pasti bisa,” kata Tiara sembari menyingkir dari dekat pohon.
“Aku?” tanya Arnold sambil menunjuk dirinya sendiri. Tiara mengangguk, membenarkan.
Sebenarnya Arnold berbohong, dia terpaksa berkata begitu agar tak diremehkan oleh Tiara. Memanjat adalah hal yang sangat Arnold hindari, karena dia takut ketinggian. Namun, mendapat tunjuk dari Tiara, dia juga tak bisa menolak. Gengsi lebih besar dibanding ketakutan itu, dan membuat dia mau tak mau mengangguk saja.
Arnold mulai memanjat, meski beberapa kali terjatuh dan menjadi bahan ejekan Tiara. Namun, dia tak putus asa begitu saja. Mencoba lagi hingga bisa sampai di atas, lalu mengambil balonnya. Sayangnya, ketika akan turun, Arnold mendadak gemetar. Kakinya sulit digerakkan dan matanya bayang-bayang menatap bawah.
__ADS_1
“Kenapa, Tuan? Ayo cepat turun!” pinta Tiara.
“Sepertinya aku tidak bisa turun,” ucap Arnold masih berpegang erat pada pohon.
“Hah? Kenapa?”
“Sebenarnya, aku takut ketinggian,” aku Arnold. Tiara langsung menepuk keningnya dengan pelan.
“Kenapa tidak jujur saja? Dasar, ganteng-ganteng penakut!” teriak Tiara seraya menatap Arnold dengan kesal.
Arnold tak bisa berbuat apa-apa, bahkan untuk membalas mengejek saja. Dia semakin takut saat melihat ke bawah, dan terus meminta Tiara untuk mencari tangga, agar dia bisa turun.
“Pinjamkan tangga di rumah itu. Kumohon, turunkan aku dari sini,” rengek Arnold sambil menunjuk rumah di belakangnya.
“Hais, baiklah. Lain kali, tidak perlu banyak gaya bilang bisa. Padahal aslinya cuma bisa ngerepotin saja!” omel Tiara, tapi tetap pergi untuk meminjam tangga.
__ADS_1