Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 23


__ADS_3

Hari sudah berganti hari, tidak terasa sudah dua Minggu Tiara bekerja sebagai pembantu di rumah Arnold. Sampai sekarang pun, Tiara masih sering berpura-pura menjadi pacar Arnold.


Siang ini, selesai memasak Tiara memilih duduk di meja makan. Dia tengah menikmati makanan yang dia masak sendiri dengan lahap, sambil memainkan ponsel ditangan. Namun, tiba-tiba dia teringat akan majikannya. Arnold pergi bekerja tadi pagi tanpa sarapan, karena buru-buru. Ada rasa kasihan, takut pria itu sakit.


“Ngapain juga mikirin dia,” pikir Tiara berusaha cuek.


Sayang, tidak bisa. Bayang-bayang Arnold masuk rumah sakit terus berputar di kepala Tiara. Mau tak mau, gadis itu akhirnya bangkit dari duduk. Menyiapkan makanan untuk dia bawa ke kantor Arnold.


“Lebih baik antar aja ke kantor. Entar, kalau dia sakit, aku juga yang repot.” Tiara menaruh rantang di meja.


Tiara memilih untuk berganti pakaian lebih dulu. Kaos lengan panjang dan celana jins biasa, lalu tak lupa juga dia memakai topi. Beberapa hari yang lalu dia bertemu dengan pamannya, makanya sekarang Tiara harus ekstra hati-hati.


**


Tiara tidak perlu menghabiskan waktu lama-lama di perjalanan karena sekarang, dia sudah sampai di depan gedung perusahaan Arnold. Gadis itu segera turun, membayar tarif dan pergi dari sana. Langkahnya lebar-lebar, menembus keramaian di lobi untuk menuju ruangan Arnold.


Sudah sering datang ke kantor, Tiara tak perlu lagi menunggu. Sebab, semua orang sudah tanda, bahwa dia adalah pacar Arnold. Sekarang, Tiara sudah hampir sampai lift, langkahnya semakin cepat.


“Jangan jalan terburu-buru, karena aku pasti akan selalu menemukanmu.” Suara itu, suara itu menghentikan langkah Tiara.

__ADS_1


Dia membalikkan badan, menatap dengan wajah menegang. Pamannya sudah berdiri di depan Tiara, dengan senyum penuh kemenangan. Membuatnya waswas, dan tanpa sadar Tiara mundur.


“S-sedang apa, paman, di sini?” tanya Tiara gugup. Tangannya semakin erat memegang rantang.


“Wah, wah. Kamu tidak tahu? Kalau aku bekerja sama dengan, pacarmu itu?” Pamannya balik bertanya, berjalan maju mendekati Tiara.


“Jangan mendekat!” sergah Tiara keras.


“Kenapa? Paman berhak! Pikirlah Tiara, siapa yang membesarkanmu? Paman, kan?”


“Aku tahu Paman, aku tahu. Tapi, perbuatanmu, membuat aku berpikir. Bahwa yang kau lakukan dulu, merawatku dengan baik, hanya untuk ini.” Tiara menatap sekeliling, dia takut ada orang yang melihat.


Semakin mundur, Tiara semakin dekat dengan pintu lift. Jantungnya seakan mau copot, apalagi ketika melihat senyuman sang paman. Pria paruh baya itu juga terus maju, mendekati Tiara.


“Aku rela tidak menikah demi menjagamu, tetapi, apa balasanmu? Kamu itu gadis bodoh, Tiara! Tidak bisa menghasilkan uang. Makanya, hanya dengan cara ini, kamu membalas budiku!” bentak sang paman.


“Aku tidak mau menikah dengannya, Paman!”


Tiara meronta-ronta saat tangan pamannya berhasil menggenggam pergelangan tangannya. Gadis itu berusaha untuk lepas, Tiara sangat takut akan dibawa pergi. Namun, tenaganya tidak cukup kuat untuk melawan sang paman.

__ADS_1


“Dengar, Tiara! Apa pun alasannya, kamu harus pulang! Menikah dengan tua bangka itu, agar aku mendapatkan uang!”


“Nggak mau! Aku tidak mau, Paman! Biarkan aku bahagia dengan caraku sendiri!” teriak Tiara balik. Masih berusaha melepaskan diri.


Dua manusia berbeda generasi itu masih saling tarik-menarik. Karena di sana sepi, sang paman berani melakukan itu. Kalau saja tidak, dia pasti akan dilaporkan kepada Arnold karena Tiara terkenal sebagai pacarnya.


Ya Tuhan, kumohon tolong aku. Batin Tiara terus memohon, berharap pada Tuhan, ada keajaiban lagi untuknya. Ya, dia sangat berharap itu.


Jika ada pria di sini yang menolongku, maka akan kujadikan suamiku. Namun, jika itu perempuan, kuangkat sebagai kakakku.


Tepat di saat pengucapan terakhir, seseorang keluar dari dalam lift. Kakinya terhenti, menyaksikan aksi kedua manusia di depannya. Jemari Arnold saling mengepal, matanya menyorot tajam dengan wajah merah padam.


“Aku tidak suka, pacarku diperlakukan seperti itu! Lepaskan tangan kotormu dari kulit bersih pacarku!” tegas Arnold seraya menyentak kuat tangan pria paruh baya, paman Tiara.


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2