
"Kalian yang kenapa? Kamu kenapa, Nak? Arnold? Tiara?!" teriak Aela dengan mata tajamnya.
Sontak semua orang di sana bungkam, termasuk papah Arnold. Bukannya menenangkan sang istri, dia malah tampak santai saja. Ya, dari dulu papah Arnold memang tidak menyukai dirinya, sebab dia bukan anak kandung pria paruh baya itu. Papah kandung Arnold meninggal ketika dia berumur tujuh tahun, lalu diusia dua belas tahun, mamahnya menikah dengan pria yang menatapnya remeh sekarang ini.
Arnold menatap sang mamah sendu. "Maksud Mamah apa? Arnold dan Tiara tidak mengerti."
Bukan jawaban yang suami-istri itu dapatkan, melainkan isak tangis yang berasal dari Aela. Menutup wajah menggunakan kedua tangan, Aela semakin terisak kencang. Arnold melepas pelukan Tiara, beralih pada mamahnya dan memeluk wanita itu erat.
"Kalau Arnold ada salah, Arnold minta maaf, Mah. Tapi tolong, jangan seperti ini," ucap Arnold. Masih mendekap erat tubuh mamahnya yang berguncang karena menangis.
"Kenapa harus berbohong Arnold? Kenapa ...," lirih Aela. Terdengar begitu pilu di telinga Tiara. Hingga tak kuasa, dia pun ikut menangis.
"Jika kamu memang belum ingin menikah, jangan berbohong seperti ini. Bukan hanya Mamah, tetapi pihak Tiara juga pasti kecewa." Lagi, Aela berbicara masih terus menangis.
Tiara mengerti, bahwa mamah mertuanya sudah tahu semua. Mereka sudah tak bisa berbohong, dengan cepat Tiara beranjak, berlutut di kaki Aela dengan tangis.
__ADS_1
"Mah, maaf. Maafkan Tiara yang sudah membohongi Mamah ...." Tiara terus berlutut, mencium punggung tangan Aela berulang kali.
Suasana di dalam ruangan itu, semakin sendu. Arnold mengalihkan pandangan, tidak sanggup melihat Tiara yang menangis dan terus meminta maaf pada mamahnya.
"Semua ini salah Arnold, Mah. Tolong jangan marah pada Tiara, dia tidak salah," ujar Arnold.
"Tidak, Mah. Ini juga salah Tiara."
Aela semakin terisak, wanita itu memukul dada bidang Arnold berulang kali. Untuk meluapkan segala rasa kecewa yang membenam dalam dada.
"Bianca!"
"Kenapa Arnold? Mau mengelak?" Tawa Bianca terus menggema. Bahagia terpancar sempurna di wajah cantiknya.
Tiara menggeleng berulang kali, dia masih terus berlutut pada Aela. Meskipun mamah mertuanya belum memaafkan dia, tetapi Tiara tidak akan pernah pergi. Semua harus dijelaskan. Jika akhirnya dia harus mundur, maka Tiara akan mundur.
__ADS_1
"Aku dan Mas Arnold bisa jelaskan ini, Mah. Kami mohon, dengarkan penjelasan kami," mohon Tiara. Kedua sudut matanya tak berhenti meneteskan air mata.
"Halah, apa lagi yang mau kalian jelaskan? Semua sudah terbukti, bukan? Kalau kalian menikah atas dasar kebohongan," tuding Bianca.
"Papah setuju dengan Bianca, Mah. Mereka sudah membohongi Mamah, membuat Mamah kecewa." Papah tiri Arnold ikut menimpali. Membuat pria itu geram, ingin melayangkan tinjuan untuk suami mamahnya.
"Diam! Diam kalian semua!" teriak Aela.
Sekuat apa kamu menyembunyikan bangkai itu, pasti akan tercium juga baunya. Sama seperti kebohongan mereka, lambat laun, semua pasti akan terungkap. Jadi, sekarang Arnold tidak ingin mengelak. Sebelah tangannya sudah menggenggam tangan Tiara, menguatkan wanita itu dengan pancaran cinta.
"Kalian tidak berhak menghakimi Arnold dan Tiara. Mereka masih punya kesempatan untuk menjelaskan ini padaku!" tekan Aela pada Bianca dan suaminya. Dengan tatapan tajam, yang sontak membuat keduanya menunduk.
Bukan Bianca namanya, jika tidak membantah. "Tapi, Tante, mereka sudah membuat Tante kecewa."
"Kamu tidak tahu apa-apa, Bianca! Sebaiknya jangan ikut campur dengan urusan keluarga kami!"
__ADS_1