Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 65


__ADS_3

Arnold sedikit kesal mendengar pertanyaan Tiara. Istrinya tiba-tiba saja membahas perihal kebohongan mereka, dan itu sungguh tidak Arnold sukai.


"Tidak. Mamah pasti tahu kondisi kita. Kamu tidak perlu khawatir lagi," ucap Arnold mencoba meyakinkan Tiara. Namun, pandangannya tidak pernah lepas dari laptop.


"Kalau misalnya mamah marah, gimana?" tanya Tiara lagi. Wanita itu sudah beranjak dari baringan dan mendekati Arnold.


"Kita minta maaf. Gampang, 'kan?"


"Arnold! Aku sedang tidak becanda!" teriak Tiara kesal.


"Aku juga tidak bercanda," sahut pria itu.


Bibir sang istri sudah maju lima senti, sesekali gerutuan wanita itu pun terdengar. Tangannya masih terus memukul pelan lengan Arnold, membuat sang suami tidak fokus pada pekerjaannya.


"Kamu sudah menyentuhku. Bagaimana kalau nanti aku hamil? Dan mamah tahu semuanya, kamu pasti tidak akan bertanggung jawab," lirih Tiara.


Arnold menoleh, mendapati wajah muram Tiara. "Siapa yang bilang?"


"Hanya firasatku."


"Jangan berpikiran seperti itu, aku pasti akan bertanggung jawab. Dan mamah, tidak mungkin dia mengabaikanmu begitu saja ketika mengetahui kamu hamil. Asal kamu tahu, mamah sangat menginginkan cucu," jelas Arnold dengan senyum kecil.


"Benar?" tanya Tiara memastikan.

__ADS_1


"Ya!" Arnold kembali sibuk. "Tapi tunggu. Bukankah otak licikmu dari dulu ingin bisa lepas dariku? Kenapa sekarang jadi takut kehilangan?" goda Arnold.


"Karena kamu sudah menyentuhku! Aku hanya tidak ingin anak ini, tidak memiliki ayah," kilah Tiara.


Bukan hanya karena itu juga, sebenarnya Tiara sudah memiliki rasa pada Arnold. Namun, dia enggan memberitahu karena gengsi. Masa iya, seorang perempuan dulu yang mengaku. Sangat tidak cocok.


"Ya, sudah, tidur sana," suruh Arnold.


"Kamu?"


"Aku akan menyusul nanti," jawab pria itu.


"Kalau begitu aku tidur di sini aja dulu." Tiara langsung merebahkan tubuhnya di sofa, kepalanya berada di paha Arnold. Menjadikan paha pria itu bantal.


Akhirnya malam itu Tiara habiskan tidur di sofa sambil menemani Arnold bekerja. Hingga tak sadar, sang suami juga ketiduran. Akhirnya sampai pagi mereka di sana.


*


*


"Aw, badanku sakit semua," keluh Tiara saat akan beranjak dari sofa.


"Sudah kubilang kemarin, tidurlah di kamar. Dasar bandal!" cemooh Arnold seraya berlalu.

__ADS_1


"Hih!" Tiara mengepalkan tangan siap meninju.


Keduanya masuk ke kamar masing-masing. Tiara langsung membersihkan diri dan bersiap dengan pakaian santainya. Dress putih tulang di bawah lutut, menjadi pilihannya. Sedangkan Arnold, pria itu pagi ini tidak ada jadwal meeting. Dia berniat mengajak Tiara untuk berkunjung ke rumah orang tuanya. Lagian, selama menikah, mereka belum ke sana untuk berkunjung.


Di meja makan, keduanya saling berhadapan yang hanya berpenghalang meja saja. Tiara mengambil semua menu yang tersaji, akhir-akhir ini dia pun doyan makan. Mungkin saja akan datang bulan, biasanya begitu. Mood makannya akan bertambah.


"Aku ingin mengajakmu berkunjung ke rumah orang tuaku pagi ini."


"Uhuk." Tiara meraih gelas dan meneguk airnya hingga setengah.


"Ke rumah mamah?" tanya Tiara memastikan.


"Ya. Ada apa?" Arnold meneliti setiap inci wajah istrinya. Seperti menemukan kekhawatiran di sana.


Bukannya tidak rindu, hanya saja Tiara takut pada ayah Arnold. Mengingat sikap pria itu yang seperti tidak menyukai dirinya, membuat Tiara takut akan pergi ke sana.


"Apa harus pagi ini?"


"Iya," jawab Arnold. Dahinya masih berkerut, apalagi melihat gelagat Tiara yang semakin aneh.


"Baiklah. Setelah makan aku akan bersiap-siap."


Dia pasrah, kalau pun nanti ayahnya Arnold akan macam-macam, setidaknya ada pria itu. Tiara bisa sedikit berlindung di belakang tubuh Arnold.

__ADS_1


__ADS_2