Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 72


__ADS_3

“Tante kenapa memaafkan mereka? Kenapa pula tidak meminta mereka untuk cerai? Aku masih mau, kok, kalau harus menjadi pendamping Arnold.” Bianca terus berbicara. Gadis itu berusaha mendekati Aela, tetapi sang empu menepis dengan kuat.


Tiara terus menggeleng kepalanya, tidak percaya dengan ucapan Bianca. Sampai segitunya, gadis itu ingin rumah tangganya hancur. Tidak bisa dibiarkan, Tiara tidak terima itu.


“Apa tidak ada pria lain lagi di dunia ini, sampai-sampai suami orang kamu kejar terus?” tanya Tiara, memandang remeh Bianca.


“Kamu ini perempuan, loh. Harusnya tahu, apa yang kamu lakukan ini bisa menyakiti hati sesama perempuan,” sambung Tiara.


“Tiara benar. Seharusnya kamu malu, Bi. Sekarang ini, Arnold sudah milik orang, sebaiknya kamu jangan mengganggu.” Aela menjeda. “Dulu saat Tante minta kamu untuk menikah dengan Arnold, tetapi kamu menolak. Banyak alasan yang kamu berikan, sampai bilang Arnold tidak cocok untukmu,” lanjut Aela.


“Itu ... karena dulu aku masih ingin melanjutkan karierku, Tante,” cicit Bianca. Wajahnya berubah pias ketika Aela menatap tajam.


“Alasan klasik!” Arnold sebagai teman, sangat geram.


Suasana di sana, masih menegangkan. Sebab, sejak tadi Bianca terus berbicara yang membuat mereka geram. Sedangkan Robin, dia hanya diam. Amarah istrinya, membuat dia takut.


“Kamu juga, Mas, apa sih yang ada di pikiran kamu? Arnold ini anak kamu, meskipun hanya tiri. Tapi kamu ingin menjatuhkannya, aku sangat tidak habis pikir.”


“Aela maaf.” Robin menunduk.


“Huff. Kenapa kalian begitu jahat?” Suara Aela melemah. Dia memijat pelipisnya perlahan.


Tiara dan Arnold mendekati Aela, keduanya meminta sang mamah untuk duduk. Setelah itu, Tiara mengambilkan minum untuk Aela.

__ADS_1


“Minum dulu, Mah,” pinta Tiara sambil menyodorkan gelas pada Aela.


“Kalian pulanglah, biar dua cecunuk ini Mamah yang urus.”


“Tapi Mah ....” Arnold hanya takut terjadi sesuatu dengan sang mamah.


“Tidak apa, Nak. Mamah akan baik-baik saja. Lebih baik kalian pulang, lihatlah Tiara, kasihan dia sejak tadi menangis,” ucap Aela lagi.


Mau tak mau mereka mengalah, menuruti keinginan mamahnya.


“Kami pulang dulu, Mah,” pamit Arnold.


“Arnold kamu harus menceraikan Tiara, iya, harus!” teriak Bianca.


“Ampun, Tante, jangan!”


**


Sesampainya di rumah, Tiara langsung menuju kamar Arnold. Mereka memang sudah tidur berdua, dan itu karena permintaan Arnold.


“Kamu kenapa?” tanya Arnold ketika mendapati wajah sang istri yang pucat.


“Cuma kelelahan,” jawab Tiara sambil merebahkan tubuhnya.

__ADS_1


“Ya, udah tidur, aku mau mandi dulu.”


Arnold pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tubuhnya terasa sangat lengket. Dia juga tidak peduli, meskipun hari sudah malam. Saat Arnold keluar dari kamar mandi, dia melihat sang istri sudah tidur dengan pulas. Bahkan dengkuran halus pun terdengar.


Dia berjalan menghampiri istrinya, duduk di lantai dengan tangan menopang di tepi kasur. Memandang wajah damai Tiara, laksana candu bagi Arnold. Bibir itu, entah kenapa begitu sensual dimata Arnold. Dengan warna merah muda yang mendominasi.


Cup


Singkat Arnold kecup, lalu tangannya berpindah mengusap lembut rambut Tiara. Dulu gadis ini, sangat dia benci karena selalu membuatnya kesal. Tapi sekarang, rasa-rasanya Arnold ingin terus memeluk tubuhnya.


“Gadis nakal sayang,” ucap Arnold sambil tertawa.


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2