Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 63


__ADS_3

Tergesa Arnold masuk ke dalam kamar, dia meletakkan buket bunga di sofa. Matanya menatap sekitar, mencari sosok yang dia rindukan sejak pagi. Namun, ternyata Tiara tidak pergi ke kamarnya. Apa mungkin wanita itu berada di kamarnya sendiri?


Berlari menuruni anak tangga, Arnold berniat mendatangi kamar Tiara. Dia harus menjelaskan tentang bunga itu, Arnold tahu pasti sang istri bingung. Terlihat dari tatapannya tadi.


Mengetuk pintu tiga kali, akhirnya benda kokoh yang terbuat dari kayu, terbuka. Memperlihatkan sosok wanita cantik di sana.


"Ada apa?" tanya Tiara tidak ingin basa-basi.


"Bisa bicara?"


"Tentu. Di mana?" Tiara ingin keluar, tetapi gerakannya tertahan oleh tangan Arnold.


"Di kamarmu," jawab Arnold. Langsung masuk ke dalam kamar sang istri.


Keduanya memilih duduk di tepi ranjang, sebab tidak ada sofa di dalam kamar itu. Tiara menunggu sambil memilih ujung bajunya, sedangkan Arnold sibuk menghela napas dengan kasar.


"Kamu nggak suka bunganya, ya?" Arnold membuka suara. Yang langsung disambut dengan tatapan Tiara.


"Suka. Hanya saja ...."


"Apa, Tiara?"


"Aku bingung. Apa bunga itu juga termasuk dalam akting kita?" Tatapan Tiara sepenuhnya pada Arnold.

__ADS_1


Tampak pria itu mengusap wajahnya, gusar. Mengubah posisi duduk, mencari yang lebih nyaman lagi. Barulah dia kembali menatap Tiara, menyelami manik hitam pekat milik istrinya.


"Apa setelah melakukan itu, kamu masih menganggap semua ini akting?"


"Ya," sahut Tiara cepat.


"Akting sudah berakhir ketika aku berjanji akan bertanggung jawab padamu. Tiara, maukah kamu menerima semua ini? Tentang kita?" Arnold meraih tangan Tiara, menggenggamnya erat.


"Tapi ...."


"Aku mau kita bisa sama-sama mencintai. Kamu yang mencintai aku sebagai suami, begitu pun sebaliknya, aku akan mencurahkan rasa cintaku padamu. Ayo berjuang bersama-sama."


Apa yang terjadi? Kenapa harus seperti ini pernikahan mereka? Bukankah Arnold sendiri yang berkata, bahwa pernikahan ini hanya satu tahun saja. Setelah itu dia bebas pergi kemana pun yang dia mau.


Tidak. Tiara juga harus memikirkan calon anaknya, ya, jika itu akan ada di dalam rahimnya. Siapa yang tidak berpikir seperti itu, Arnold sudah menyentuh dia, tidak mungkin pria itu mengeluarkan benihnya di luar milik Tiara.


"Baiklah, aku setuju."


*


*


*

__ADS_1


Sudah seminggu sejak kejadian itu, Tiara dan Arnold semakin dekat. Keduanya bahkan sering menghabiskan waktu bersama, ketika Arnold libur bekerja. Seperti malam ini, Arnold mengajak Tiara untuk makan di luar.


"Kamu pesan apa?" tanya Arnold sambil mengangsurkan buku menu pada Tiara.


Dia menerimanya, lalu membolak-balikkan buku menu untuk mencari makanan yang dia sukai. Namun, kegiatan Tiara terhenti ketika mendengar sapaan seseorang. Yang suaranya tak familiar di telinga dia.


Bianca? Kenapa, sih, dia selalu ganggu saja.


Wajah Tiara berubah masam, dia dongkol pada gadis yang kini sudah duduk di sebelah Arnold. Padahal pria itu tidak meminta, tetapi Bianca tetap duduk di sana.


"Ngapain, Mbak, ada di sini?" Tiara bertanya langsung, tidak ingin berbasa-basi dengan menyapa balik.


"Aku ingin makan. Bukankah ini tempat untuk makan?" Senyum sinis Bianca lempar pada Tiara, membuat wanita itu kesal minta ampun.


Dan parahnya, Arnold hanya diam saja tanpa mau membela dirinya. Dengan sedikit kasar, Tiara menaruh buku menu di meja. Dan itu sukses membuat pandangan dua manusia di depan hanya terfokus pada dia saja.


"Sayang, ayo pulang. Aku sudah merasa sangat kenyang," ajak Tiara sambil mengedipkan sebelah matanya.


Dahi Arnold berkerut bingung. "Tapi kita belum makan apa pun."


Sepertinya pria ini sengaja, ingin membuat sang istri kesal.


"Ya. Tapi aku sudah sangat kenyang oleh kehadiran virus yang tidak diundang. Selain bikin sakit tubuh, juga bikin sakit mata," ucap Tiara lantang.

__ADS_1


"Oh, begitu. Baiklah, kita pulang."


Arnold dan Tiara berjalan meninggalkan Bianca sendirian. Gadis itu mendengkus kesal, membanting tasnya di meja dengan bibir terus menggerutu.


__ADS_2