
Tiara bersyukur sang paman masih mau menjadi wali nikahnya, meskipun banyak drama yang terjadi. Awalnya sang mertua, Aela, curiga dengan orang tua palsu Tiara. Lalu sang paman jadi penyelamat, mengungkapkan bahwa ayah Tiara telah meninggal lama. Dan yang berada di samping ibu palsunya adalah ayah tiri.
Sang paman pun tetap kukuh, ingin menikahkan sang keponakan karena sudah dia anggap seperti anak sendiri. Hingga berjalanlah akad dengan lancar.
Setelah beristirahat beberapa jam, Tiara lekas mandi karena tubuhnya terasa sangat gerah. Gadis itu keluar dari kamar mandi sudah mengenakkan baju piama tidur. Matanya menatap ke arah sofa, terlihat Arnold di sana sedang tertidur pulas. Jangan kalian pikir mereka akan tidur bersama, sedangkan bertatap muka saja selalu terisyarat permusuhan.
Tiara memilih naik ke ranjang kembali, duduk bersandar di kepala ranjang. Tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja sebelah ranjang, berniat menelusuri beranda Instagram untuk menghilangkan bosan. Saat masih sibuk dengan ponselnya, Tiara tidak menyadari bahwa Arnold sudah bangun dan tengah menatap ke arahnya.
"Sudah mandi?" Pria itu membuka suara sembari mengucek kedua matanya.
"Hmm." Tiara hanya berdehem tanpa mengalihkan pandangan dari ponsel.
"Mamah bilang berangkat jam berapa?" tanya Arnold seraya berjalan ke arah ranjang.
"Jam 6 sore. Kenapa?"
"Ya, tidak apa-apa."
__ADS_1
Tidak ada lagi percakapan antara keduanya. Arnold memilih masuk ke dalam kamar mandi, berniat untuk membersihkan tubuhnya karena jam sudah menunjukan pukul, 17.00 sore. Sedangkan Tiara, dia mencari dua setel pakaian yang akan dia bawa ke hotel. Sebab, sang mertua bilang mereka akan menginap di sana.
**
Mobil Alphard putih susu membawa sepasang pengantin yang sudah mengenakan pakaian resepsi mereka. Tiara agak tidak nyaman saat menggunakan gaun biru muda dengan aksen mutiara di bagian dada. Terasa sangat berat dan tidak nyaman dengan gaun yang begitu mengembang. Arnold pun sudah tampan dengan setelan jas pernikahan.
"Bisa, tidak, diam?"
"Kamu tidak merasakan jadi aku. Coba kamu yang gunakan riasan ini, baju ini juga," ucap Tiara sewot.
Sang istri menjadi sangat malas, apalagi ketika melihat wajah Arnold itu. Tiara memilih menatap luar jendela saja, mengabaikan tatapan Arnold yang masih memperhatikan gerak geriknya. Hingga tak terasa mereka sudah sampai di hotel tempat resepsi. Keduanya langsung di bawa ke ruangan VIV yang sudah dihias dengan banyak sekali bunga.
Arnold dan Tiara langsung diminta naik ke atas pelaminan, lalu acara pun dimulai. Kata sambutan sudah disampaikan oleh papah Arnold, lalu kini giliran ayah Tiara. Selesai semua orang yang menyampaikan kata sambutan, kini mereka dipersilahkan untuk menikmati hidangan yang sudah tersedia.
Tiara merasa begitu sakit di kakinya, akibat high heels yang dia pakai.
"Kamu kenapa?" tanya Arnold yang menyadari perubahan mimik wajah Tiara.
__ADS_1
"Nggak apa-apa," elak Tiara. Dia hanya tak ingin dipandang lemah.
"Gak usah bohong," tegur Arnold.
Menghembuskan napas kasar, Tiara membuka high heels yang dia pakai dan menunjukkan kakinya yang memerah pada Arnold. Pria itu tampak mengerutkan dahi, lalu tangannya meraih kaki Tiara dan mengusap pelan.
"Apa sakit sekali?"
"Jelaslah," ketus Tiara.
"Ya, sudah, kita ke kamar," ajak Arnold. Tentu saja Tiara menggeleng. Acara belum selesai, bahkan mereka belum bersalaman dengan para tamu undangan.
"Kalau mereka mau bersalaman, gimana?" tanya Tiara.
"Nanti kalau udah mendingan, kita ke sini lagi," kata Arnold.
Tanpa menunggu lama, Arnold langsung menggendong Tiara. Refleks gadis itu memeluk leher sang suami, hingga pandangan keduanya terkunci. Getar-getar di dada mulai terasa, tetapi sebisa mungkin keduanya menyembunyikan itu agar tak diketahui satu sama lain.
__ADS_1