Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 26


__ADS_3

Sampai di rumah, Tiara langsung masuk ke dalam kamarnya dan membaringkan tubuh di kasur. Dia benar-benar kelelahan, butuh istirahat sebentar sebelum berkutat kembali di dapur. Menghembuskan napas pelan, Tiara menatap langit-langit kamar dengan wajah lesu. Sepertinya dia tak akan pergi keluar dari rumah ini lagi, mengingat pamannya semakin menjadi-jadi. Dia takut kembali diculik dan akan dinikahkan.


Meski sudah berusaha untuk terlelap, tetapi Tiara tak bisa tidur juga. Sudah nanggung, sebentar lagi magrib, jadi gadis itu memilih turun dari kasur. Berniat ke dapur untuk membantu membuat makan malam. Ternyata di sana sudah ada mbak Yuni, wanita itu tengah fokus pada aktivitasnya.


“Maaf, Mbak, Tiara telat membantu.” Tiara berbicara sambil berdiri di samping mbak Yuni. Membuat wanita itu terkejut.


“Kirain siapa Neng. Udah nggak apa, ini juga sudah mau selesai,” ucap mbak Yuni seraya mengembangkan senyumnya.


Bingung ingin mengerjakan apa, akhirnya Tiara memilih untuk membuat jus dan menatanya di meja. Lalu beralih pada lauk yang sudah matang.


“Dari tadi pagi, Neng ke mana aja? Kok, nggak kelihatan?” tanya mbak Yuni.


Tiara menghembuskan napas kasar lalu menjawab, “Itu ... Mbak, antar makanan ke kantor Tuan.”


“Kok, pulangnya sore?”


“Di suruh menunggu. Tiara nggak bisa berbuat apa-apa, Mbak.” Terpaksa Tiara berbohong. Tak mungkin juga dia mengaku kalau tadi terjadi sesuatu hal yang menggemparkan.


Setelah itu mbak Yuni hanya ber’oh’ ria saja. Tidak lagi bertanya dan kembali sibuk mencuci piring yang baru dibawa ke westapel.


**

__ADS_1


Lagi dan lagi Arnold mengerjainya. Meminta Tiara berdiri di samping pria itu, menjadi pesuruh-suruhnya.


“Tolong ambilkan ayam goreng,” pinta Arnold sambil menunjuk piring ayam goreng. Bibirnya tersenyum seringai, puas mengerjai Tiara.


“Berapa, Tuan? Satu atau dua?” tanya Tiara.


“Sepuluh,” jawab Arnold ketus.


Tiara sendiri, malah menggaruk tengkuk yang tak gatal. Lalu kembali menatap Arnold dengan perasaan, entahlah.


“Tapi di piring hanya ada lima ayam goreng saja,” kata Tiara dengan polosnya.


“Astaga! Lagian, mana mungkin sanggup aku menghabiskan sepuluh ayam. Dasar, pura-pura polos. Cepat ambilkan! Satu saja,” omel Arnold.


“Kaya’nya kamu capek berdiri terus. Duduk, gih,” suruh Arnold.


“Nggak perlu, Tuan. Nanti kursinya kotor.”


“Gak apa, yang ngotori ‘kan calon istri,” sahut Arnold sukses membuat Tiara melotot tak percaya.


Pria yang tengah tersenyum polos itu, benar-benar tidak waras. Kalau begini terus bisa-bisa Tiara luluh dan mau menikah dengan pria itu. Lagian, Tiara yakin Arnold pasti tak serius. Dia hanya ingin ibunya bahagia, dan Tiara menderita.

__ADS_1


“Abis kejedot pintu, ya, Tuan? Otaknya agak geser,” seloroh Tiara.


“Bukan. Ini geser karena kamu.”


“Kok, aku?” tanya Tiara bingung.


“Soalnya pesona cintamu menghipnotis pikiranku,” ungkap Arnold. Meski terdengar dingin, tetapi mampu membuat Tiara malu.


Dengan cepat dia menggelengkan kepala, mencoba menepis perasaan aneh itu. Jangan sampai Tiara jatuh cinta pada Arnold, bahaya. Lagian, masih banyak pria lain di luaran sana. Kenapa harus Arnold? Yang sifatnya suka berubah-ubah?


“Nah, kan, nggak waras.” Tiara mengedikan bahunya.


“Duduk. Kita makan bersama,” titah Arnold.


“Gak usah, Tuan. Nanti saya bisa makan sendiri di dapur,” tolak Tiara. Dia hanya tak ingin terus-terusan dikerjai pria itu.


“Calon istri yang cantik dan seksi, cepat duduk. Calon suamimu ini, sudah sangat lapar dan ingin segera menikmati makanan bersamamu,” ucap Arnold panjang lebar yang terdengar menjijikkan ditelinga Tiara.


 Amit-amit.


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2