Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 25


__ADS_3

Di satu sisi, ucapan Arnold memang sangat benar. Namun, disisi lain, Tiara juga tak ingin masalah ini semakin runyam. Akhirnya, dia hanya bisa menunduk sampai sebuah ide gila membuat bibirnya tertarik.


“Tuan, lebih baik kita pergi dari sini,” bisik Tiara tepat di samping telinga Arnold.


“Pergi ke mana? Aku belum menghajar pria ini,” ucap Arnold.


“Ayolah, Tuan. Jangan mencari gara-gara dengan paman. Biarkan saja masalah ini aku yang mengurusnya.”


“Hmm. Baiklah. Tapi sekarang kita harus ke mana?”


“Kita lari bareng-bareng,” usul Tiara yang langsung mendapat tatapan tak percaya dari Arnold.


Sedangkan pria paruh baya di depan mereka, menatap dengan curiga. Mencoba untuk mendengar obrolan dua manusia berbeda jenis kelamin di depannya. Namun, suara keduanya tetap tak bisa terdengar di telinganya.


“Kalian ngapain bisik-bisik?” desak sang paman.


“Biasa, urusan anak muda,” jawab Arnold ketus.


“Tiara, ayo pulang!” Pamannya menatap Tiara sembari berjalan menghampiri gadis itu. Saat akan meraih pergelangan tangan Tiara, lebih dulu Arnold yang menariknya.


“Kabur!!”


Keduanya sama-sama berlari meninggalkan paman Tiara yang kaget. Pria paruh baya itu langsung tersadar dan ikut berlari mengejar ponakannya.

__ADS_1


“Dasar kalian! Lihat saja apa yang bisa aku lakukan!”


**


“Huff.” Tiara mengusap wajah yang berkeringat.


“Untung aja, paman nggak bisa nangkap kita,” lirih Tiara.


“Kamu itu memang selalu ngerepotin, ya,” cetus Arnold dengan wajah dingin.


Tiara melirik sekilas, dia menggerutu kesal melihat wajah majikannya itu. Sangat-sangat buruk.


“Dih, lagian yang mau nolongin siapa? Kan, aku nggak maksa,” celetuk Tiara.


“Bukannya makasih. Kalau nggak ada aku, bakalan mampus kamu!”


Arnold memilih diam, malas menjawab Tiara karena tak mau masalah ini semakin panjang. Bisa-bisa seharian mereka adu mulut, kalau tidak ada yang mau mengalah salah satunya. Arnold memilih duduk di kursi taman, lalu pandangannya terarah pada Tiara yang masih berdiri.


“Setiap ada masalah, selalu aku yang jadi pahlawannya. Jangan-jangan kita jodoh,” celetuk Arnold tiba-tiba.


Menghela napas kasar, Tiara memutar bola matanya malas. “Ke-pede-an mulu jadi orang. Siapa juga yang mau jadi jodoh, Tuan? Kalau pun hanya Tuan yang ada di bu—“


Mata Tiara membulat sempurna, ucapan yang terlontar begitu saja tadi. Kini terngiang di telinganya. Kalau misalnya cowok yang nolongin aku, bakal aku jadiin suami. Sedangkan kalau perempuan, akan aku jadikan saudari.

__ADS_1


“Tidak!” teriak Tiara sambil menjambak rambutnya, frustrasi.


“Kamu kenapa? Kesurupan?”


Pria yang sejak tadi duduk tenang, bangkit dan menghampiri Tiara dengan wajah penuh kekhawatiran. Arnold memegang kedua bahu Tiara, lalu menatap wajah gadis itu.


“Beneran kamu kesurupan?” Arnold mengguncang pelan kedua bahu Tiara. Hingga membuat gadis itu tersadar.


“Enak saja, Tuan! Siapa juga yang kesurupan. Orang aku tadi ....”


“Apa?”


“Nggak ada.” Tiara melepas diri dari kedua tangan Arnold, lalu bergeser menjauh dari pria itu.


Tatapan Tiara masih pada Arnold, melihat dari ujung kaki hingga kepala. Sebenarnya tak ada yang kurang dari diri Arnold, hanya saja, pria itu terlalu menyebalkan bagi Tiara.


“Ngapain lihat-lihat? Naksir?” tanya Arnold dengan pedenya.


“Dih.”


“Bilang aja, nggak usah malu-malu. Atau ... kamu sudah berubah pikiran, ya? Dan menerima tawaranku untuk menikah. Dari pada capek-capek akting terus,” ucap Arnold panjang lebar.


“Hais, dipikir nikah itu gampang,” sahut Tiara kesal.

__ADS_1


Membayangkan membangun rumah tangga saja tak pernah terlintas di kepala Tiara. Apalagi kalau harus dengan Arnold, amit-amit. Bisa-bisa dia mati berdiri, karena menghadapi sifat menjengkelkan pria itu.


 


__ADS_2