
Arnold pulang agak sedikit telat karena ada masalah di kantor. Dia langsung menuju kamar karena perasaannya tak enak, rasa rindu pada istrinya pun begitu menggebu. Apalagi mengingat kejadian pagi tadi, Arnold menjadi sangat khawatir.
Ketika bertanya pada pelayan, katanya Tiara tidak ada keluar dari kamar sejak pagi. Namun, Aela benar datang untuk menjenguk menantunya, sedikit membuat Arnold lega. Mendapati istrinya tengah berbaring di kasur, Arnold tersenyum lega. Dia langsung menghampiri.
“Gimana keadaan kamu, Sayang?” tanya Arnold yang langsung duduk di lantai tepat samping kasur.
“Sudah lumayan enakan,” jawab Tiara. Tersenyum begitu manis pada Arnold.
Melihat senyuman itu, seperti ada sesuatu yang disembunyikan Tiara. Arnold langsung berdiri, lalu duduk di tepi kasur.
“Wajahnya kelihatan bahagia banget. Ada apa?” tanya Arnold sembari mengusap pipi Tiara.
“Masa? Bukannya biasa aja.”
“Nggak, Sayang. Kamu ini kelihatan lagi senang gitu,” ucap Arnold.
Tiara memilih memejamkan mata, membiarkan Arnold dilanda bingung. Melihat itu, Arnold memilih untuk membersihkan diri. Tubuhnya pun, terasa sangat lengket dan bau. Selesai mandi dan berpakaian, Arnold kembali menghampiri Tiara di ranjang. Kali ini, pria itu berbaring sambil memeluk sang istri dari belakang.
Wajahnya dia duselkan ke ceruk leher sang istri, mencium aroma tubuh yang sangat Arnold sukai.
“Mas,” panggil Tiara.
Arnold menghentikan aksinya, lalu bangun dan membalikkan tubuh Tiara. “Iya, Sayang? Kenapa? Mau muntah lagi?”
“Nggak!”
“Terus?”
“Ayo ke rumah sakit,” kata Tiara sembari bangun dari tidur.
“Rumah sakit? Mau ngapain?” Arnold menatap dengan bingung dan cemas.
“Aku belum sembuh. Rasanya pengin mual-mual terus.”
__ADS_1
Mendengar itu, Arnold langsung membantu Tiara untuk mengganti baju. Setelahnya, mereka akan berangkat menuju rumah sakit.
*
*
Ketika giliran nama Tiara dipanggil, Arnold langsung memapah tubuh Tiara untuk masuk. Tiara diminta tiduran di brankar, sedangkan Arnold hanya menatap bingung saja. Selesai dengan pemeriksaan, Arnold dan Tiara diminta duduk.
“Istri saya sakit apa? Kenapa dari pagi terus mual-mual?” Arnold langsung membuka suara.
“Dokter, jawablah. Kenapa diam saja!”
“Mas, sabar.” Tiara mengusap lengan suaminya.
“Hahaha, maaf, Pak. Mual dan muntah itu sudah biasa untuk ibu hamil, apalagi ini masih trimester pertama, sering sekali terjadi. Jadi, ibu Tiara harus sabar dan juga, jangan terlalu kecapean karena takut akan membahayakan janinya,” jelas dokter disertai senyuman.
Mendengar penuturan itu, tubuh Arnold lemas. Dia menatap tidak percaya dokter yang kini tertawa kecil, sedangkan Tiara, memeluk lengan Arnold dan menepuk pipi suaminya pelan.
“Benar, Pak. Mohon dijaga istrinya, ya. Dan ini, tebus juga vitamin untuk ibunya,” ucap dokter itu.
Antara percaya atau tidak, Arnold merasa dirinya sangat bahagia. Meski sejak tadi, dia selalu diam. Bahkan, ketika mereka turun dari mobil untuk makan bebek goreng, Arnold tetap diam saja.
Tiara mencari tempat duduk yang enak, yaitu lesehan. Meskipun jual bebek goreng di pinggir jalan, tetapi rasa tetap setara dengan di restoran. Melihat suaminya seperti itu, jujur Tiara sedih. Wajahnya berubah sendu, sesekali dia menghela napas dengan kasar.
“Apa Mas tidak bahagia mendengar kabar bahwa aku hamil?” tanya Tiara dengan wajah semakin sendu, sekuat tenaga dia menahan air matanya.
Arnold mengerjapkan matanya berulang kali. “Tidak, Sayang. Justru Mas sangat bahagia,” jawab Arnold.
“Tapi kenapa dari tadi diam terus? Kalau memang Mas tidak suka, nggak apa. Aku bisa mengurusnya sendiri, hiks.”
Dengan tergesa Arnold pindah duduk, dia langsung memeluk tubuh istrinya yang berguncang karena masih menangis.
“Mas sangat bahagia, Sayang. Tidak mungkin Mas tidak bahagia, ketika ada malaikat kecil di sana,” ucap Arnold meyakinkan.
__ADS_1
“Benar?”
“Iya, Sayang. I love you,” ungkap Arnold. Tiara menutup mulut tidak percaya.
“Maaf untuk luka dulu, sekarang aku sadar. Bahwa kamu adalah wanita yang sangat aku cintai setelah Mamah. Sayang, semangat. Kami berdua masih membutuhkan kamu.”
“Mas, i love you too!”
Setiap perjalanan hidup, selalu ada bahagia dan sakit. Jangan mengeluh, karena setelah sakit akan ada bahagia. Dan jangan patah semangat, ketika bahagia direnggut dengan luka. Tiara berusaha menjadi sosok yang lebih baik, untuk dirinya, Arnold dan calon anak mereka. Bermimpi menjadi suami siaga dan bertanggung jawab, membuat Arnold memupuk rasa percaya dirinya. Dia menjadi pelindung untuk dua orang yang Tuhan turunkan untuk dia.
Tamat
Maaf, novel ini hanya bisa sampai di sini. Karena sejak awal, othor memang sudah berniat membuat novel dengan sedikit bab. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan saya, mohon diambil hikmah. Buang negatif ambil positif.
Terima kasih untuk dukungan dan like yang kalian berikan. Sekali lagi, saya berterima kasih kepada kalian semua yang sudah rela meluangkan waktu untuk membaca novel ini.
Jika berkenan, kalian bisa mampir ke novel baru saya. Kisahnya tetap tentang wanita tangguh, tidak mudah tersakiti.
__ADS_1