
"Sepertinya, Papah Tuan tidak menyukaiku."
Tiara dan Arnold masih dalam perjalanan pulang. Sejak masuk ke dalam mobil tadi, Tiara baru membuka suara karena merasa sangat bosan hanya berdiam saja.
"Urusan suka atau tidak, kamu tidak perlu memikirkan itu," sahut Arnold tanpa mengalihkan pandangan dari kemudi.
"Apa tidak masalah? Maksudnya untuk pernikahan kita?" tanya Tiara.
"Papah tidak akan pernah merusak rencana yang sudah disepakati oleh Mamah. Jadi kamu tenang saja."
Tetap saja, Tiara tidak bisa tenang kalau ada yang tak menyukainya. Apalagi itu ayah Arnold, orang yang akan menjadi orang tuanya juga nantinya.
"Aku lapar. Kita berhenti makan dulu, ya?" tawar Arnold.
"Terserah, Tuan, saja."
Arnold mengemudi mobilnya dengan kecepatan pelan, lalu tak lama dia menepikan mobilnya ketika melihat warung yang masih buka di pinggir jalan. Tiara bingung, tetapi turun juga ketika Arnold memintanya untuk ikut.
"Tuan yakin makan di sini?" Tiara hanya takut pria itu tak bisa makan di tempat seperti ini.
"Kalau tidak yakin, aku tak akan berhenti di sini," jawab Arnold sinis.
"Enggak takut kuman?"
__ADS_1
"Belum tentu restoran juga bersih," kata Arnold.
Mendengar jawaban Arnold, Tiara tak lagi banyak bertanya. Gadis itu memilih menuruti permintaan Arnold, untuk duduk di salah satu bangku warung. Sedangkan pria itu pergi memesan.
Saat melihat jam yang ada di ponsel, ternyata baru pukul 20.00 malam. Pantas saja warung ini masih buka.
"Aku pikir orang kaya' Arnold, nggak mau makan di tempat beginian," ucap Tiara pada dirinya sendiri, sembari memperhatikan Arnold yang sibuk membawa makanan ke arahnya.
Udang goreng dengan tepung sudah ada di meja, beserta nasi dan makanan lainnya. Arnold segera mendudukkan bokongnya di sebelah Tiara, lalu mengambil mangkuk berisi air untuk mencuci tangan.
"Tidak butuh sendok, Tuan?" tawar Tiara sembari mengangsurkan sendok pada Arnold.
"Tidak perlu! Lebih nikmat makan pakai tangan saja," tolak pria itu.
"Ternyata Tuan memiliki kepribadian yang berbeda, ya. Aku saja tidak bisa menebaknya," ucap Tiara disela-sela makannya.
"Kau juga punya," sahut Arnold.
"Aku?" tanya Tiara sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Ya."
"Kepribadian apa?"
__ADS_1
"Aku juga tidak bisa menebaknya," jawab Arnold santai tanpa rasa bersalah.
Gadis yang kini menatap dengan kesal, membanting udang ke piring. Lalu dia mengambil air putih dan meneguknya dengan buru-buru. Melihat itu Arnold hanya geleng-geleng kepala saja, dia kembali sibuk dengan aktivitas memisahkan kepala udang dengan badannya.
"Nih." Arnold menyodorkan udang yang sudah tak ada kepalanya, ke arah mulut Tiara.
"Untuk apa, Tuan?"
"Dilihat. Ya, makanlah! Buka mulutmu," intrupsi Arnold.
Membuka mulut, Tiara menerima suapan Arnold. Dia tak berhenti menatap Arnold dengan bingung, sungguh ini di luar pikirannya. Arnold ternyata bisa seromantis ini.
"Sekalian punyaku, ya, Tuan. Soalnya aku capek misahin kepala dan tubuhnya terus, sedangkan misahin kita, aku nggak bisa," ucap Tiara dengan wajah melas.
"Nggak usah drama! Cepat habiskan makanmu, kita harus segera pulang," perintah Arnold.
Tiara mendengkus kesal dan kembali menyuapkan nasi ke dalam mulut. Mengunyah dengan cepat agar segera selesai.
"Baru aja romantis, udah balik judes lagi. Dasar Tuan Muda galak!" cibir Tiara.
**
Dukung othor terus ya, guys. Jangan lupa kopi dan bunganya❤️
__ADS_1