
Dengan gerakan yang begitu cepat, Tiara langsung melepaskan pelukan Arnold. Tatapannya begitu bengis, menembus bola mata legam milik Arnold. Pria itu malah tertawa kecil, beranjak untuk pergi ke kamar.
Bagi Arnold, sikap Tiara begitu menggemaskan. Meskipun gadis itu sangat ketus dan cerewet. Namun, dia malah tertarik untuk meluluhkan hati Tiara.
"Aku ikut!" Tiba-tiba Tiara sudah berada di dalam kamar Arnold. Gadis itu sudah berganti pakaian dengan dress dibawah lutut.
Arnold tersenyum simpul, tidak ada larangan untuk Tiara ikut. Malah dia semakin senang karena ada yang menjadi penyemangatnya.
"Boleh. Apa kamu tidak akan bosan di sana?" tanya Arnold sembari berjalan ke arah Tiara.
Gadis itu menggeleng cepat. "Aku bisa menunggu di cafe kalau bosan," sahut Tiara.
Lalu keduanya berjalan beriringan menuju depan. Mobil sudah berada di halaman rumah, Fan langsung membukakan pintu untuk Tuan dan Nyonya. Senyum simpul Tiara lemparkan sebagai ucapan terima kasih, dan itu sukses membuat Arnold kesal. Dia langsung menarik tangan Tiara, membuat sang istri langsung terduduk.
"Kalau aku kejedot gimana?"
__ADS_1
"Nanti aku obati," jawab Arnold santai. Ingin rasanya Tiara melempar pria itu dengan tas yang dia genggam.
Sayang, Tiara tidak bisa karena ada Fan di sini. Bisa-bisa pria itu akan mengadu pada Aela, maka tamatlah riwayatnya.
Sepanjang jalan Tiara tak membuka suara, gadis itu sibuk mengamati gedung-gedung yang mereka lalui. Sampai dia merasakan usapan lembut dipunggungnya dan itu sukses membuat air muka Tiara berubah seketika.
"Kamu ...!" tuding Tiara sambil menunjuk Arnold dengan jari telunjuk.
"Hust ...." Arnold meletakkan jari telunjuk di bibir seraya menunjuk Fan menggunakan dagunya.
Lagi-lagi Tiara harus mengalah, membiarkan Arnold yang semakin kurang ajar saja. Kali ini, pria itu memeluknya dari samping, meletakkan dagu di bahunya. Yang bisa Tiara lakukan hanya menghembuskan napas kasar, meski hati begitu dongkol.
Sudah lima jam Tiara berada di ruangan Arnold, dan itu sukses membuat dia bosan. Ingin pergi, tapi, sang suami melarang. Akhirnya Tiara pasrah, kembali duduk di sofa sambil menunggu Arnold selesai. Jam makan siang sudah lewat sepuluh menit, tetapi belum ada tanda-tanda Arnold menyelesaikan pekerjaannya membuat Tiara gusar.
"Ayolah Arnold, ini sudah lebih sepuluh menit. Perutku sangat lapar, apa kau ingin membunuhku?" Tiara meradang. Dia mendatangi meja Arnold dan mengetuk-ngetuk meja kaca itu berulang kali.
__ADS_1
Tanpa mengalihkan pandangan, Arnold berucap, "Sebentar lagi. Sebentar lagi aku selesai."
Itu-itu saja yang Arnold ucapkan, tetapi kenyataannya berbeda. Sungguh Tiara tidak bisa menahan lagi, cacing-cacing dalam perut mulai berdemo minta diberi makan. Ini juga salahnya, yang nekat ikut Arnold bekerja padahal Tiara sudah tahu bahwa dia akan dibunuh bosan.
"Kalau begitu, aku pergi makan dengan Fan saja," ucap Tiara sambil ingin berlalu. Tapi langsung dihentikan oleh ucapan Arnold.
"Jangan! Aku yang akan mengantarmu." Arnold membereskan cepat berkas-berkas di meja, setelahnya dia langsung menghampiri Tiara dan merangkul gadis itu.
Cafe terdekat kantor menjadi tujuan mereka, Tiara langsung memesan nasi goreng beserta jusnya. Arnold pun begitu, dia langsung melahap makanan yang baru saja diantar pelayan. Keduanya sibuk menikmati makanan mereka, tidak ada pembicaraan keduanya saat makan.
"Uh, kenyangnya," seloroh Tiara sambil mengusap pelan perutnya.
"Kaya' nggak makan sebulan," cibir Arnold.
"Bodo amat, emang aku pikirin!" Tiara menjulurkan lidah, membuat Arnold mende*ah kesal.
__ADS_1