Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 48


__ADS_3

Bianca akhirnya memilih pulang dengan wajah kecewa karena mendengar kabar tentang pernikahan Arnold. Sedangkan Tiara, melepaskan genggaman tangannya pada lengan Arnold dan langsung menjauhi pria itu.


"Jangan berpikir macam-macam, ya. Aku hanya ingin menyelamatkanmu dari amukan mamah," ucap Tiara sambil menatap Arnold.


"Menyelamatkanku?"


"Hmm. Aku hanya tidak ingin, pelayan yang ada di rumah ini mengadukan sikap perempuan tadi pada mamah." Tiara merasa bangga.


"Kalau pun kamu tidak berbuat seperti tadi, aku juga bisa mengatasi mamah," kata Arnold. Pria itu menaikturunkan sebelah alisnya, meremehkan Tiara.


"Pria sepertimu memang tidak tahu caranya berterima kasih!" jerit Tiara sambil berlari meninggalkan Arnold.


Malas berdebat lagi, Tiara memilih pergi ke kamarnya yang terletak di belakang. Karena dia dulu bekerja sebagai pelayan, otomatis kamarnya berada di belakang dengan kamar pelayan lainnya.


Arnold sendiri tidak peduli, memilih pergi ke kamarnya karena dia sudah gerah. Rasanya ingin membersihkan diri dan berendam di bathup, pria itu juga ingin menghilangkan aroma Bianca yang masih menempel di tubuhnya.

__ADS_1


*


*


*


Tiara merasa sangat lapar ketika bangun tidur, dia melirik ke arah jam yang menempel di dinding. Pukul 13.00, artinya sudah cukup lama juga dia tertidur dan melewatkan jam makan siang. Tiara memilih mencuci muka terlebih dahulu, setelah itu barulah keluar untuk mencari makanan. Cacing-cacing dalam perut benar-benar berdemo ingin segera diberi makan.


Lagi-lagi Tiara harus menelan pil pahit karena bertemu dengan Arnold, pria yang berstatus sebagai suaminya itu, juga akan pergi ke dapur. Keduanya saling diam di depan pintu dapur, salah satu dari mereka tidak ada yang membuka suara. Sampai deheman Arnold menyadarkan lamunan Tiara.


"Mau makan?" tanya Arnold.


"Makanannya sudah kuberi pada satpam semua, jadi tidak ada lagi makanan di dapur. Kalau kamu mau, pesan terlebih dahulu, atau bisa masak sendiri," kata Arnold panjang lebar.


"Aku akan masak," jawab Tiara.

__ADS_1


Gadis itu memilih masuk ke dalam dapur lebih dulu, dia langsung membuka kulkas untuk melihat bahan makanan di sana. Karena sudah terlalu lapar, Tiara memilih masak nasi goreng saja. Yang gampang dan cepat matang.


Arnold yang berniat mengambil minum, alhasil memilih duduk di kursi makan sambil menuangkan air putih dalam gelas. Tatapan pria itu tidak pernah lepas dari gerak gerik Tiara yang begitu lihai memainkan alat dapur. Sampai dia tidak sadar telah tersenyum, meski hanya kecil saja.


"Akhirnya matang juga," ucap Tiara kegirangan. Gadis itu langsung menuangkan nasi goreng dalam piring, karena sudah tidak sabar untuk melahapnya.


Tanpa memedulikan keberadaan Arnold, Tiara memilih duduk juga di kursi makan. Ditangannya sudah ada sendok dan siap mengambil nasi goreng untuk dimasukkan dalam mulut. Melihat istri yang begitu lahap makan, membuat Arnold menelan ludah susah payah. Entah mengapa, dia juga ingin mencicipi masakan yang Tiara buat.


"Enak?" tanya Arnold tanpa mengalihkan pandangan dari Tiara.


Gadis itu tersentak, menghentikan kunyahannya dan menatap ke arah Arnold. "Iya ... enak."


"Kalau begitu aku ingin mencobanya," ujar Arnold.


"Hah? Tapi ini hanya porsi orang satu." Tiara berusaha menelan nasi yang sudah dia kunyah.

__ADS_1


"Nggak apa. Kita bisa makan satu piring berdua."


Ucapan Arnold sukses membuat jantung Tiara berdegup lebih cepat. Gadis itu mengerjap berulang kali, lalu dengan gerakan cepat tangannya meraih gelas di meja. Menenggaknya hingga tandas, tanpa sadar kalau minum itu milik Arnold.


__ADS_2