Tuan Muda Arnold

Tuan Muda Arnold
TMA Bab 44


__ADS_3

Pengantin baru beserta kedua orang tua Arnold, memilih sarapan di restoran dekat hotel. Mereka hanya ingin mengabadikan momen sebelum kembali pulang. Sejak tadi Tiara hanya mengaduk-aduk makanannya, selera makan gadis itu tidak ada. Namun, ketika sang mertua menegur, dengan cepat Tiara menggeleng dan mencoba untuk menikmati makanan ini.


“Ada apa?” bisik Arnold seraya melirik ke arah Tiara.


“Tidak. Aku hanya tidak berselera makan,” ucap gadis itu juga berbisik.


“Makanlah, nanti kau sakit kalau sampai perutmu kosong,” kata Arnold.


Tiara hanya mengangguk, meski dalam hati bertanya-tanya. Tumben sekali pria itu peduli? Oh, iya, Tiara baru ingat. Sebab, ada sang ibu mertua di sana, makanya pria itu sangat perhatian pada dia.


Sedangkan Aela, berpikir mungkin Tiara kelelahan makanya tidak bernafsu makan. Apalagi ketika melihat sepasang pengantin baru tadi, baru keluar dari kamar. Dengan rambut keduanya yang basah, membuat pikiran positif muncul di kepalanya.


“Kalau memang tidak berselera, coba kamu cicipi yang lain saja, Sayang,” ujar Aela pada Tiara.


“Iya, Mah. Tiara mau cobain desert saja,” jawab Tiara.


Kini tidak ada lagi pembicaraan di antara mereka. Pria paruh baya yang tidak membuka suara sejak tadi, mengalihkan pandangan pada gadis yang tengah mengamati makanan di meja. Tentu saja tatapan itu tidak bersahabat, seperti ada sesuatu yang ingin dia tuntaskan.


“Papah kenapa liatin Tiara kaya’ gitu?” Aela menepuk pelan bahu sang suami, membuat pria itu segera mengalihkan pandangan.


“Nggak, Mah. Papah liatin makanan,” elak papah Arnold.


**


Setelah sarapan di restoran, kini keluarga itu tengah berada di mal. Sejak tadi Tiara berusaha mengikuti langkah Arnold, meski selalu mendesah karena kecepatan gerak pria itu.

__ADS_1


“Arnold,” panggil Tiara membuat langkah pria itu terhenti. Dengan segera Arnold membalikkan badan dan menaikkan sebelah alisnya, bingung.


“Kamu berjalan dengan cepat dan mengabaikan aku di belakang,” omel Tiara dengan bibir mengerucut.


“Suruh siapa lamban? Kamu bukan ratu, jadi cepatlah,” kata Arnold semakin membuat sang istri cemberut.


“Aku adalah ratu di hati laki-laki yang tepat,” sangkal gadis itu sambil berjalan menghampiri Arnold.


Menghembuskan napas kasar, Arnold menjawab, “Terserah padamu saja. Ayo.”


Tanpa meminta izin pada Tiara, Arnold langsung menarik tangan gadis itu dan menggenggam erat. Mereka berjalan beriringan untuk mencari sang mamah dan papah yang sudah terpisah. Tatapan Tiara terus tertuju pada genggaman tangan mereka, hingga membuat gadis itu tidak fokus jalan dan hampir saja terjatuh.


“Tiara, tolong jangan membuatku kesal. Berjalanlah dengan baik,” tekan Arnold yang masih menahan tubuh Tiara.


“Ah, iya, maaf.”


Keduanya berjalan kembali, mengeliling semua tempat untuk mencari orang tua Arnold. Namun, tetap tidak mereka temukan. Akhirnya Arnold memilih untuk menunggu saja, mengajak Tiara pergi ke tempat minuman yang ada di mal itu.


“Ingin beli sesuatu?” tanya Arnold sambil mengangsurkan botol minuman pada Tiara.


“Hemm. Tidak.” Tiara menerima botol minum dari Arnold.


Pria itu tidak bertanya lagi, kecuali berjalan keluar dari tempat itu. Yang pastinya diikuti Tiara di belakangnya. Meski lelah, mau tidak mau gadis itu harus tetap mengikuti. Hingga kaki Arnold berhenti tepat di depan banyaknya baju yang tersusun rapi.


“Aku belikan baju,” ucap Arnold membuka percakapan. Membuat Tiara terkejut.

__ADS_1


“Tidak perlu. Bajuku masih banyak,” tolak Tiara halus.


“Tetapi kamu tidak mempunyai baju seperti itu, kan?”


Pipi Tiara memanas tak kala Arnold menunjuk ke arah baju yang kelihatan begitu seksi. Sebuah lingeri yang tergantung, membuat jantung Tiara berdetak dua kali lebih cepat.


“Aku tidak butuh pakaian seperti itu!” ujar Tiara langsung.


“Tapi mataku butuh, dan sangat menginginkan kamu memakainya,” sahut Arnold.


Sungguh, Tiara tidak habis pikir dengan pria berstatus suaminya.


 


***


Maaf baru up. Kesehatan author sedang menurun.


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2