
Sampai di kamar, Tiara langsung melepaskan lengan Arnold dan mengusap tangannya dengan baju. Melihat itu, sorot mata Arnold semakin menajam.
"Kamu pikir aku kuman?" sentak Arnold geram.
"Emang dari dulu selalu berpikir seperti itu," jawab Tiara berani. Bahkan tak gentar melihat tatapan maut dari Arnold.
Keduanya saling bertatapan dengan sorot mata permusuhan. Tiara menjulurkan lidah ke arah Arnold, membuat pria itu semakin geram. Melihat wajah Arnold semakin memerah, Tiara berniat untuk pergi dari sana.
Sayangnya, Arnold langsung menarik lengan gadis itu hingga membuat Tiara berbalik dan menubruk tubuh Arnold dengan keras. Karena posisi Arnold yang berada di dekat ranjang, membuat pria itu terhuyung ke belakang karena tubrukan Tiara yang cukup keras. Lebih nahasnya lagi, bibir keduanya saling bersentuhan dengan mata menatap satu sama lain.
"Aaa!" Tiara berteriak sembari turun dari atas tubuh Arnold. Gadis itu mengusap bibirnya berulang kali.
"Dasar pria mesum!" bentak Tiara dengan mata melotot tajam ke arah Arnold.
Sedangkan pria yang masih terbaring di kasur, ikut mengusap bibirnya dengan tatapan merendah pada Tiara. "Kumanmu nempel di bibirku!" teriak Arnold tak kalah nyaring.
"Kuman Anda yang lebih menjijikan!" balas Tiara tak mau kalah.
__ADS_1
Arnold langsung bergerak bangun, pria itu menatap Tiara dengan wajah penuh kekesalan. Lain halnya dengan Tiara, dia masih sibuk mengusap bibirnya seolah-olah membersihkan sesuatu dari sana.
"Kamu yang main nyosor aja. Dasar gadis mesum!"
"Tidak salah? Anda yang menarik saya, Tuan Muda!" ucap Tiara penuh penekanan.
"Dan kenapa juga Anda tidak bisa menahan, malah terjatuh ke belakang? Berarti Anda yang salah!" sambung Tiara lagi.
"Kenapa selalu aku yang salah? Suruh siapa kau datang ke kamar ini."
"Baiklah, aku mengaku salah. Kalau begitu, lebih baik lakukan yang lebih dari ini."
"Maksud, Tuan, apa?" tanya Tiara sambil melotot.
"Rasanya tidak adil. Aku sudah disalahkan, jadi lebih baik aku nikmati saja semuanya. Toh, nanti juga aku yang bersalah lagi," kata Arnold dengan senyum seringai.
Tiara mundur, tetapi tatapannya tak berpaling dari wajah penuh senyuman jahil milik Arnold. Pria itu pun ikut berjalan maju, hingga mau tak mau Tiara terus mundur.
__ADS_1
"Awas saja kalau Tuan berani macam-macam. Aku tak akan tinggal diam!" ancam Tiara.
"Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis lemah? Ah, rasanya aku ingin segera menikmati ciptaan Tuhan ini." Arnold tertawa terbahak-bahak. Membuat tubuh Tiara bergetar.
Aku bukan gadis lemah.
Mengambil ancang-ancang, Tiara hendak berlari. Namun, lagi-lagi Arnold menahan tangannya, membuat dia tak bisa apa-apa selain memberontak.
"Sudah kubilang kamu hanya gadis lemah!" tekan Arnold. Ekspresi wajahnya sudah berubah menjadi datar dan dingin kembali.
Merasa terhina karena dibilang lemah, Tiara memegang tangan Arnold dan langsung menggigitnya.
"Aa! Gila! Dasar gadis gila!" umpat Arnold sembari mengibas-ngibaskan tangannya ke udara.
Tiara tertawa melihat itu, dia langsung berlari keluar dari kamar Arnold. Sebelum pergi gadis itu menatap ke arah sang calon suami terlebih dahulu, berniat untuk mengejek pria yang tengah kesakitan.
"Rasain, makanya jangan bilang aku lemah. Bahkan aku bisa nyingkirin Tuan dari rumah ini," kata Tiara dengan tawa mengejek.
__ADS_1