
Malam hari adalah suasana yang sangat Tiara takutkan. Apa lagi kini dia sedang bersama seorang pria, meski sangat dia benci, tetapi Tiara tetap waswas. Takut kejadian seperti sore tadi, terulang kembali. Mungkin, setiap malam Tiara akan merasa tidak nyaman seperti ini, jika dia masih tidur satu kamar bahkan satu ranjang dengan Arnold.
"Kenapa lihat-lihat?" Arnold membuka suara, membuat Tiara terkejut dan langsung mengerjapkan matanya.
"Siapa?" Tiara malah balik bertanya dengan wajah polosnya.
"Setan!" cetus Arnold sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kasur.
Memutar bola mata malas, Tiara memilih mengamati sekitar lalu kembali pada meja di depannya. Sebenarnya mata gadis itu sudah mengantuk, tetapi enggan untuk membaringkan tubuh di kasur. Sebab, ada manusia dengan tatapan mesum di sana. Dari pada terus menahan kantuk, Tiara memilih merebahkan tubuhnya di sofa. Dengan berbantalan tangan tanpa selimut.
"Yakin tidur di situ?" tanya Arnold lagi. Dengan malas Tiara mengalihkan pandangan ke samping, tepat pada ranjang.
"Hmm." Gadis itu hanya berdehem.
"Ya, sudah, jangan menangis kalau besok badan kamu pegal-pegal semua," kata Arnold lagi.
Ya, Tiara tahu itu. Dan seharusnya, pria yang kini akan merebahkan tubuhnya di kasur, bisa lebih peka lagi. Arnold memilih tidur di sofa, biar Tiara yang di kasur. Semanis itu pemikiran Tiara, sampai dia lupa siapa suaminya.
__ADS_1
"Yakin?" Arnold kembali bangun dari tidur. Menatap ke arah Tiara dengan menaikturunkan sebelah alisnya.
Huff.
Helaan napas Tiara terdengar kasar. Yang awalnya sangat mengantuk, kini tidak lagi. Gadis dengan balutan piama tidur itu, memilih duduk kembali. Dia melipat kedua kakinya di sofa, dengan pandangan terus tertuju pada Arnold.
"Kalau aku tidak yakin, gimana?" tanya Tiara.
"Ya, tidak gimana-gimana," jawab Arnold santai.
Menggerutu kesal, Tiara kembali berbicara, "Tidak ada niatan buat bertukar tempat, kah? Jadi pria, kok, tidak peka."
"Ngapain tukar tempat segala, orang kasur ini masih muat juga. Sekalipun tiga orang," ujar Arnold.
"Kalau begitu lebih baik aku tidur di sofa saja," putus Tiara pasrah.
Tidak ada lagi percakapan di antara keduanya, mereka sama-sama bungkam dengan posisi masih seperti semula. Berulang kali Tiara menghembuskan napas, apalagi ketika hawa dingin mulai menusuk tubuhnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak mau tidur di sini? Denganku?"
"Karena kita tidak saling mencintai," jawab Tiara.
"Hanya tidur berdua harus karena cinta?" tanya Arnold lagi.
"Ya, iya. Aku hanya berantisipasi saja, takutnya Anda berbuat yang tidak-tidak," sindir Tiara meledakkan tawa Arnold. Sejurus kemudian pria itu terdiam, mimik wajahnya kembali datar dan dingin.
"Kalau aku mau berbuat sesuatu padamu, sudah sejak kemarin. Lagian, kamu tidak berhak melarangku. Karena dari ujung kaki sampai rambutmu itu, milikku."
"No! Aku bukan milikmu!"
"Kamu istriku!" tegas Arnold tak mau kalah.
"Istri di atas kertas? Sejak awal rencana ini terjadi, kita hanya sama-sama ingin menguntungkan. Kamu membantuku untuk lepas dari paman, dan aku membantumu untuk lepas dari permintaan terus-menerus mamah," jelas Tiara tanpa mengalihkan pandangan dari Arnold.
Sosok Tiara memang tidak bisa Arnold anggap sepele. Gadis itu berbeda dari yang lainnya, Tiara memiliki keberanian yang tinggi. Meski Arnold tau, di balik keberanian itu pasti ada kelemahan. Namun, Arnold enggan mencari tahunya dulu. Dia tidak ingin, Tiara juga akan takut dengan dia.
__ADS_1
"Melihat kegigihanmu, membuatku jadi ingin meminta hakku sebagai suami," kata Arnold sambil tertawa pelan. Yang langsung mengundang tatapan tajam Tiara.